015 BERAS KETAN dan PESAWAT TERBANG
Pada suatu saat, dua negara bertetangga melakukan barter barang produk negara masing-masing, yang satu membawa pesawat terbang sedangkan negara yang lain membawa beras ketan sebagai penukarnya.
Dengan terjadinya barter barang diatas, menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana: “Sebetulnya yang pintar itu negara yang punya industri pesawat terbang atau negara yang menanam beras ketan?”
Saya coba menganalisa sedikit dalam untuk mengetahui yang mana yang lebih pintar, lebih berjaya, lebih baik, lebih efisien, atau lebih bergengsi.
Menanam beras ketan:
- Bisa digunakan untuk barter dengan pesawat terbang,
- Bisa dijual ke manca negara,
- Kalau tidak terjual masih bisa dimakan sendiri.
Industri pesawat terbang:
- Bisa digunakan untuk barter dengan beras ketan,
- Tidak bisa dijual disembarang tempat, mungkin belum ada yang mau?,
- Kalau tidak terjual produk ini tidak bisa dijadikan makanan!
Nah siapa yang pintar, yang bodoh, silahkan pikir sendiri lah.
Mungkin orang pikir, akan lebih bergengsi membuat kapal terbang daripada menanam beras ketan. Tetapi ada yang berpikir, aha … yang bergengsi tentu yang menanam beras ketan, karena bisa mendapatkan kapal terbang.
Saya pikir, lebih baik kita bercocok-tanam, apakah beras biasa ataupun beras ketan, atau tanaman lain yang dapat kita makan dan diperjual-belikan baik di dalam negeri ataupun ke luar negeri, toh kapan-kapan bisa ditukar dengan pesawat terbang, atau kapal selam, atau kapal perang, atau yang lain.
Pertimbangan lain, buat rakyat banyak, mereka lebih perlu beras yang bisa membuat perut rakyat kenyang, daripada pesawat terbang, yang cuma sesekali dapat ditukar dengan beras ketan, dan pada lain kali mungkin tidak laku dijual.
Daripada belajar membuat pesawat mending belajar jadi petani yang baik, bercocok tanam, kalau kita butuh pesawat atau barang lain, ajak saja barter dengan hasil bumi yang kita miliki. Apalagi saat-saat seperti sekarang, kita butuh makan, ingat kata ‘SEMBAKO’: sembilan bahan pokok, sudahkan hal ini terpenuhi dengan baik.
Ada banyak kejadian dimana para elit politik banyak berbicara, berbuat semau mereka dan di saat-saat seperti itu rakyat diminta agar tidak berpikir negatif padahal kita sendiri sebagai rakyat sebenarnya tidak tahu apa yang elit politik sedang lakukan, apakah sudah berpikiran negatif atau masih positif terhadap masyarakat (rakyat).
Banyak sekali perkataan dan perbuatan mereka, terutama elit politik yang berada di pihak pemerintahan yang dapat dijadikan contoh, yang tidak perlu dirinci satu persatu . . . karena sudah terlalu banyak. Contoh yang paling dekat saja deh, SI khusus pertanggung jawaban BJH kali ini, bagaimana negatifkah atau positifkah tujuan mereka.
Kalau saya sih tidak berpikir lebih jauh mengenai bagaimana pertanggung-jawaban BJH lebih lanjut, pasti tidak diterima. Kecuali anggota MPR tidak berpikir ataupun berperasaan atas kepentingan rakyat.
Saya tidak berpikir atau mempertimbangkan apakah sikap BJH tentang pengadilan HMS atau AMG atau Aceh, atau yang lain, karena nilainya sudah negatif eh merah, tetapi kita perlu melihat bagaimana Habibie sebagai pribadi, sebagai pengusaha yang menggunakan dana bangsa.
BJH memang sudah belajar demokrasi selama berada di Jerman, dan hal ini dicoba dijadikan sebagai alat untuk memenangkan simpati rakyat ataupun masyarakat internasional, tetapi hal ini bukan satu-satunya jaminan.
Coba saja kita lihat, bagaimana seseorang sebagai pengusaha yang terkenal sebagai teknolog jagoan, pintar dan dapat membuat getek ataupun kapal terbang sekalipun, tetapi tidak dapat menjualnya dengan benar. Padahal semua itu menggunakan dana milik rakyat. Dimana profit & loss nya tidak jelas, malah kelihatannya tidak ada profitnya, bahkan produknya ditukarkan dengan produk natura seperti kedele, atau produk otomotif yang kemudian dipakai sebagai taxi oleh perusahaan salah satu anak presiden yang lengser. Bagaimana perhitungannya? Siapa yang tahu!?
Bayangkan, sebagai pengusaha kapal terbang saja dia tidak bisa menjamin profit yang baik untuk perusahaannya, bagaimana lagi dengan perusahaan besar bangsa ini: Republik Indonesia, jangan-jangan dibawa kepada Loss terus dan tidak pernah kepada profit.
Dan kalau melihat bagaimana sepak terjang BJH selama ini, hal ini dapat membawa kepada kesan, bahwa dia sebenarnya hanyalah ‘Fach Idiot’, begitu idiom orang Jerman untuk seseorang yang hanya jagoan, pintar, jenius di salah satu bidang saja sedangkan di bidang lain orang tersebut loyo sama sekali.
Contoh gampangnya, bisa bikin tidak bisa jual, tepatlah yang orang banyak bilang: habis bikin bingung. Belum lagi habis bicara bingung, lalu membuat tangkisan … eh malah hanya bikin bingung masyarakat, karena dia memang hanya jenius dalam bidang membuat kapal terbang, tetapi tidak bisa membuat bangsa ini sejahtera, aman, nyaman, damai . . .
Untuk satu tahun ini saja, dia sudah membuat saya sebal, bagaimana kalau dia mendapat kesempatan 5 tahun lagi, wah saya bisa mati sebal . . .
Saya yakin banyak juga yang lain seperti saya. Coba saja lihat, Alumni Jerman saja sudah bilang kalau tidak suka dengan pencalonan kembali BJH.
Sebaiknya dia mencoba menjadi teknolog yang baik saja, dan gunakan ilmu yang dimilikinya untuk mencari profit yang sebanyak-banyaknya bagi bangsa ini, dan jangan ikut campur tangan dalam bidang lain seperti politik, hukum ataupun sosial . . . cukup di bidang teknologi saja.
Ditulis/dikirim 1 September 1999

