018 TIGA MONYET BIJAKSANA: WAKIL RAKYAT YANG BUTA

018 TIGA MONYET BIJAKSANA: WAKIL RAKYAT YANG BUTA

Melihat ke 3 kandidat presiden Indonesia ke-4 yg lalu, saya jadi teringat kepada sebuah filosofi timur (mungkin dari negeri China?) tentang 3 ekor monyet bijaksana. Satu monyet disebelah kiri menutup matanya, yg satu ditengah menutup telinganya, yg terakhir disebelah kanan menutup mulutnya.

Filosofinya, kira-kira begini: “Jangan melihat yg tidak benar, jangan mendengar yg tidak benar, dan jangan bicara yg tidak benar”.

Dari ketiga hal tsb, ternyata “Jangan melihat yg tidak benar” adalah yg terbaik, dan “Jangan bicara yg tidak benar” adalah kedua terbaik, dan “Jangan mendengar yg tidak benar” adalah ketiga terbaik . . . atau ketiganya sama buruknya dan “Jangan melihat” adalah yg terbaik dari terburuk???

Tetapi dari tiga orang kandidat yg lalu, dua orang dari tiga itu sebenarnya masih dapat menggunakan telinganya untuk mendengar dan menggunakan mulutnya untuk bicara walau mungkin masih ditutup atau tertutup, tetapi yg satu sebenarnya memang benar tidak melihat maka dia tidak perlu melihat yg tidak benar . . . tetapi mungkin keadaan yg benar juga tidak akan terlihat.

Kandidat yg mulutnya tertutup mungkin sengaja mengurangi bicara agar tidak keluar kata-kata yg tidak benar, tetapi sering dia bicara kebenaran, dia bisa melihat yg mana yg benar yg mana yg tidak, demikian juga dia bisa mendengar yg mana yg baik dan yg mana yg tidak baik. Kandidat yg telinganya ditutup malah lucu, dia bisa melihat ketidak-benaran tetapi sering tidak mendengar teriakan rakyat akan hal terjadinya ketidak-benaran, dan karena mulutnya tak ditutup, diapun bicara ngalor-ngidul yg sering bikin bingung orang banyak. Kandidat yg matanya tertutup, sering bicara, kadang benar, kadang tidak benar, baru 1 menit terpIlihpun dia sudah gagal janji untuk mengunjungi massa di HI yg membuat kekesalan massa dan menyulut kerusuhan, dan malahan dia pergi kerumah kandidat yg telinganya tertutup.

Bagi saya, dari tiga kandidat yg ada, sebenarnya kandidat yg mulutnya tertutup adalah yg terbaik, karena matanya melihat, telinganya mendengar, dan jarang bicara ketidakbenaran, tetapi selalu bicara akan kebenaran, dibanding 2 kandidat lainnya.

Sayang seribu kali sayang, sidang kemarin itu sebenarnya mengecewakan, karena masih banyak wakil rakyat yg menutup matanya, seakan mereka buta yg mana yg baik, yg mana lebih baik, mereka boleh dikatakan menyukai si tuli dan ketika si tuli ditolak mereka memilih si buta daripada si bisu. Atau banyak wakil rakyat sudah memakai filosofi “jangan melihat kebenaran”!!! Mereka memilih menjadi monyet bijaksana yg menutup matanya, termasuk mata hatinya, mata kakinya, kecuali dompet dan rekeningnya yg terbuka !!!

C:\ide\tiga monyet bijaksana.doc 21 Oktober 1999

Leave a Reply