045 SILATURAHMI

045 SILATURAHMI

Bangsa dan negara Indonesia sedang berada dalam keadaan tegang. Satu sama lain saling bersiteru. Rakyat dengan pimpinannya, rakyat dengan wakil rakyatnya, warga daerah asli dengan warga pendatang, umat beragama yang satu curiga kepada yang lain, warga RT atau RW yang berdekatan saling tawuran, gerombolan anak sekolah saling keroyok, warga dalam suatu komplex perumahan mencurigai warga di luar tembok komplex, dlsb.

Kenapa semua hal di atas bisa terjadi?

Jawabannya terletak pada satu kata: “SILATURAHMI”.

Mungkin orang berpikir, silaturahmi adalah kegiatan mudik pulang kampung di hari raya Lebaran, sungkem kepada orang tua, saling bersalaman, atau hanya sebagai satu kegiatan sederhana antar beberapa anggota keluarga, anggota masyarakat.

Silaturahmi adalah sepatah kata yang memiliki arti yang jauh lebih besar dari hanya mudik pulang, atau hanya bersalaman satu sama lain, dan lebih luas dari sekedar hubungan beberapa anggota keluarga ataupun anggota masyarakat saja.

Akibat putusnya silaturahmi dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh yang paling aktuel adalah gerakan demo mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat yang belakangan ini banyak terjadi, jelas-jelas merupakan keterputusan silaturahmi antara rakyat dengan pimpinan negara, dimana sang pimpinan tertinggi negara ini tidak pernah memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk bersilaturahmi secara baik dan benar. Contoh yang sama juga memperlihatkan bagaimana keterputusan silaturahmi antara rakyat dengan para wakil rakyat, DPR/MPR yang jelas terlihat kalau si wakil rakyat itu berada sangat jauh dari kehidupan rakyatnya. Rakyat tidak tahu dimana wakil rakyat itu dapat ditemui, dimana rumah mereka, anggota DPR/MPR dari kota lain menjadi wakil rakyat daerah yang lain, yang satu kotapun tidak berada di lingkungan rakyatnya, dimana si wakil berada jauh terpisah dalam beberapa perumahan yang bertembok keliling.

Silaturahmi adalah sebuah kata yang berarti “tali persahabatan”. Sebuah kata yang sering diucapkan oleh banyak orang dari berbagai kalangan, walau tidak dijalankan dengan benar, Lebih sering dipakai di masa hari besar seperti Lebaran, dimana seseorang pulang kampung untuk ber’silaturahmi’ dengan sanak-saudaranya, kepada orang-tuanya, kepada masyarakat dimana orang itu pernah berada sebelumnnya. Masih belum berjalan secara merata dan mulus, karena ada benteng-benteng dan tembok-tembok ‘BERLIN’ yang sengaja dibuat oleh banyak orang, masih banyak jurang-jurang perbedaan yang tidak bisa dilewati, karena silaturahmi tidak terjadi. Yang kaya berkumpul dengan yang kaya, yang miskin ditinggalkan di daerah kumuh lusuh. Yang kaya mempersenjatai diri, memasang barikade, menyewa tukang pukul (bodyguard), membayar SATPAM (satuan pengaman), membeli anjing buldog, boxer, doberman dalam artian sebenarnya maupun dalam artian kiasan. Mereka ini menjaga ‘jarak aman’ dari warga yang miskin.

Tidak ada pertemuan antara warga yang satu dengan yang lain dalam artian positive, kalaupun ada hanya terbatas.

Silaturahmi bila dijalankan dengan baik dan benar akan memberi manfaat yang luas. Suatu bangsa yang silaturahminya berjalan mulus, dua arah, banyak arah, di lokasi yang benar, dalam kualitas dan kuantitas yang tepat akan menjadi bangsa yang besar, tetapi kalau silaturahminya hanya sebatas ritual, semu, tidak ikhlas, tidak jujur maka bangsa itu akan hancur.

Silaturahmi adalah pertemuan, hubungan imbal balik, pembicaraan, pertemanan, persahabatan, yang selanjutnya akan membawa kepada satu perasaan kebersamaan, saling mengerti, bisa menerima yang lain, merasa senasib-sepenanggungan, tahu diri, perdamaian, ketentraman, bebas dari kecurigaan, dst.

Ada pertemuan yang memberikan kesetaraan bagi semua, sebagai hak alami warga, sebagai demokrasi, hak azasi manusia, dimana perbedaan tingkat sosial-ekonomi, perbedaan sudut pandang politik, dan perbedaan tingkat pendidikan tidak menjadi masalah bagi peserta pertemuan itu, atau kalaupun tetap bermasalah bisa dicarikan satu jalan keluar yang bisa menguntungkan semua pihak, “Win-win solution”. Hubungan yang demikian dapat terwujud bila berjalan alami, mulus dan terjadi dalam tenggang waktu yang panjang.

Ada juga pertemuan yang terbatas, atau dibatasi. Pertemuan antara anggota suatu kelompok yang berhubungan satu sama lain, menyatakan keterkaitan antar anggota kelompok itu dalam silaturahmi yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu secara teratur dan juga pada pertemuan yang sewaktu-waktu pada kejadian penting atau kegiatan tertentu dalam kelompok itu. Misalnya saja tali persaudaraan dalam keagamaan, Islam misalnya, dimana pernyataan silaturahmi itu dinyatakan dalam kegiatan shalat bersama di mesjid besar dan kecil (musholla, langgar, surau, dll) dan dalam kegiatan ritual keagamaan lainnya.

SILATURAHMI ANTARA SATU DENGAN YANG LAINNYA

Ada banyak orang yang dengan penuh tanggung jawab sengaja menyisihkan atau bahkan menetapkan waktu tertentu untuk bersilaturahmi dengan anggota kelompoknya yang lain.

Pertemuan antara anggota keluarga tentu tidak perlu kita bicarakan lebih lanjut, karena hal itu tergantung kepada setiap anggota keluarga itu sendiri.

Diluar batasan silaturahmi keluarga, ada banyak kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi, misalnya saja antara anggota kelompok yang memiliki kegiatan yang sama, dalam banyak bidang tentunya. Seperti di Jepang, dimana para pegawai suatu perusahaan menjalankan banyak kegiatan diluar kantor bersama-sama, seperti pergi ke bar, karaoke, minum-minum, pesta, piknik yang dilakukan dalam jadwal yang cukup sering. Orang Jepang lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sepekerjaan mereka dibanding dengan keluarganya sendiri, bahkan banyak dari mereka yang tidak lagi pulang kerumah setiap malam, tetapi langsung menginap di hotel (bukan hotel biasa, tempat menginap dengan tempat tidur berupa kotak-kotak bersusun dengan satu lubang masuk). Pulang ke rumah sudah tidak begitu penting karena sudah larut malam, kendaraan umum sudah tidak ada, dan esok pagi mereka harus kembali kerja . . . jadi menginaplah mereka di hotel ‘burung merpati’ itu.

Contoh yang lain, olahraga. Banyak orang dengan rutin membuat jadwal berolahraga, seperti badminton, sepakbola, bahkan golf, agar mereka bisa bermain bersama, ngobrol, tukar-menukar informasi bisnis atau hal-hal yang aktual. Mereka yang menamakan diri mereka sebagai penggemar olahraga ini akan menyiapkan waktu bisa sekali seminggu, 2 kali seminggu atau 2 minggu sekali, atau terserah mereka. Kalau mereka melakukan olahraga itu setiap hari, itu bukan hanya usaha silaturahmi lagi, tetapi sudah keranjingan olahraga.

Pada beberapa kegiatan yang pesertanya datang dari bermacam kalangan, tua muda, pria dan wanita, seperti fitness center, atau aerobik, kehadiran mereka tidak lagi sepenuhnya untuk olahraga, tetapi lebih kepada keinginan untuk bertemu dengan orang lain, mungkin orang-orang baru, kenalan baru, bisa jadi pacar baru, bahkan bisa saja untuk menemukan selingkuhan baru. Maaf, tidak bermaksud menjelekkan kegiatan mereka! Setiap kegiatan bisa saja diselewengkan bila seseorang punya itikad untuk itu.

Sebagai intermezzo

Penulis mendapatkan sebuah cerita kejadian nyata dari seorang teman. Seorang pria yang cukup berumur, katakanlah dia si bapak X, berkeluarga selama tigapuluhan tahun lebih tanpa suatu kejadian yang berarti, adem ayem, pergi dan pulang kantor dalam ritual yang sama, disiplin tepat waktu, tidak pernah ngelantur atau keluyuran tetapi langsung pulang ke rumah, dan di kantorpun tidak ada berita negatif mengenai dirinya . . . si pria merupakan suami yang bisa dijadikan contoh, setia kepada istri dan keluarganya.

Suatu siang, datanglah seorang pemuda berumur 18-19 tahun kerumah keluarga itu, si pemuda bertanya akan keberadaan si bapak X yang kebetulan sedang sakit, hampir 2 minggu lamanya, walau tidak parah tetapi tidak mampu untuk keluar rumah. Si ibu X bertanya, kenapa si pemuda mencari bapak X? Si pemuda menjawab ia mencari bapaknya yaitu bapak X! Ibu X kaget, mana mungkin bapak X punya anak yang beranjak dewasa, darimana, siapa ibunya, bagaimana caranya? Begitu banyak pertanyaan menggumpal di tenggorokan. Antara percaya dan tidak, ibu X bertanya, dimana rumahnya, siapa ibunya. Si pemuda menjawab, siapa ibunya, dan ternyata tempat tinggal mereka hanya beberapa kilometer jauhnya dari rumah keluarga X. Beberapa kali ibu X bertanya pertanyaan yang sama, dijawab dengan jawaban yang sama. Mana mungkin!?

Lalu, ibu X memberitahu si bapak, kalau ada seorang pemuda, katakanlah bernama Z, berumur 18-19 tahuan mengaku sebagai anak, Si ibu bertanya bagaimana mungkin!?

Bapak X sudah tidak kuat menyimpan rahasia yang dipendam selama ini lebih lama lagi, mungkin takut dalam sakit menjelang mati, karena sudah tua dan sakit-sakitan, maka ia mengaku kalau Z adalah benar anaknya. Bagaimana mungkin, kan bapak disiplin pergi dan pulang kantor, tidak pernah ngeluyur ataupun pulang telat . . . bagaimana mungkin!!! Ibu X sudah pusing dan bingung, tetapi terus bertanya, bagaimana caranya? Bapak X terpaksa mengaku, ia selalu silaturahmi ke rumah istri mudanya saat LARI PAGI!!! dan itu sudah terjadi selama 20 tahun. Si bapak mungkin lega, lepaslah rahasia yang dipendam selama ini, tetapi si ibu malah melepaskan kesadarannya alias pingsan seketika . . .

Jadi silaturahmi dengan itikad tidak baik, hasilnya juga tidak baik. Kalau memang orang punya itikad tidak baik, hal itu bisa saja mengiringi berbagai macam kegiatan, bisa olahraga, hobby (kegemaran) tertentu, rapat-rapat kantor di luar kota, tugas dinas, dlsb. Kegiatannya memang baik, tetapi itikad dibalik kegiatan itu yang tidak baik!

APAKAH SILATURAHMI ITU?

Silaturahmi adalah hubungan antar warga masyarakat satu sama lain, antara warga dengan wakil rakyat, antara pejabat dengan rakyatnya, presiden dengan rakyatnya, antara anggota suatu kelompok masyarakat dengan anggota yang lain, antara umat suatu agama, antara anggota kelompok kegiatan tertentu. Ada banyak hubungan silaturahmi yang lain, ada begitu ber-ragam.

SILATURAHMI PEMIMPIN DENGAN RAKYATNYA

HMS melakukan banyak kegiatan silaturahmi dalam bentuk-bentuk KELOMPENCAPIR, yang penulis sudah lupa kepanjangannya, kira-kira sebagai pertemuan dengan para petani, nelayan, atau rakyat bawah.

Gus Dur yang membuka pintu rumahnya bagi setiap warga masyarakat, kepada rakyatnya setiap saat, membuka istana negara untuk setiap kunjungan dari rakyatnya, memberikan ijin bagi banyak orang menyelenggarakan kegiatan nasional di istana, istana negara adalah rumah (istana) rakyat.

Sukarno seringkali berkunjung, beranjangsana ke daerah, bertemu dengan rakyatnya secara langsung. Beliau merupakan tokoh yang sangat supel, bisa bergaul dengan berbagai kalangan, bahkan dengan orang asing mancanegara, dia dikagumi pria dan dimimpikan oleh wanita. Tidak salah kan, kalau beliau punya banyak hubungan dengan banyak orang, dan tentu dengan wanita.

HMS sering menampilkan kegiatan TURBA (turun ke bawah), baik dalam kegiatan memetik panen, juga kegiatan di peternakan sapinya. Banyak kegiatan ini disiarkan secara rutin di televisi, disiarkan di radio, diberitakan di koran.

Bagaimana dengan presiden Habibie dan Megawati?

Sukarno mencoba menggalang kekuatan bangsa dengan NASAKOM, nasionalis, sosialis dan komunis, dia mencoba silaturahmi dua arah. HMS lebih bersifat satu arah, TOP DOWN, dari atas kepada bawahan, OTORITER. Kalaupun ada dalam kegiatan KELOMPENCAPIR, sudah terlihat semu, karena penulis mendengar banyak pemberitaan kalau segala macam pertanyaan itu sudah dipersiapkan sebelumnya, dan jawabannya tentu sudah juga disiapkan, sehingga terlihat ada silaturahmi dua arah. Padahal kita semua tahu, setiap ada pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan saat itu, tentu diberangus, ada banyak aktivis yang ditangkap, ada banyak media massa yang dibubar-jalankan, belum lagi mereka yang dihilang-paksakan, dst.

Masa Habibie, dia membuka kesempatan silaturahmi dua arah, setiap orang bebas berbicara, bebas beraspirasi, terlihat demokrasi, media dibebaskan menulis apapun, tetapi sebenarnya: ‘kalau Anda bicara saya tidak mau mendengar’, Anda mau apa, kan terserah saya. Jadi silaturahminya dengan pernyataan bangsa dan negara Madaninya juga semu.

Yang terlihat kurang bersilaturahmi, tentu saja presiden Megawati, silaturahmi yang diadakan kebanyakan hanya dengan kelompok partainya saja, dia banyak berbicara dengan warga partainya, dan apakah warga partainya bisa beraspirasi sebagai silaturahmi arah balikan, itu tentu bisa kita lihat dari bagaimana banyak penggagalan pencalonan ketua-ketua atau pimpinan daerah dari warga partainya yang kemudian dinonaktifkan karena tidak sesuai dengan keinginan sang pimpinan partai. Lihat saja, banyak contoh anggota partai yang dipaksa mundur dari berbagai pencalonan, karena sang pimpinan memiliki calon lain yang bahkan dari luar partai. Selain itu, dia terlihat lebih suka menerapkan motto: “silence is golden”, jarang bicara.

Sementara ini, GUS DUR punya nilai lebih dalam mempersiapkan silaturahmi antara rakyat dengan pemimpinnya, dia sering tampil dalam TALK SHOW interaktive, dia bicara banyak, dia menerima banyak tamu dari berbagai kalangan, banyak orang bersedia antri untuk bicara dengan dia. Walau sering juga apa yang dikatakan GUS DUR membawa kepusingan bagi mereka yang mendengar, karena ucapannya yang nyeleneh (aneh-nganehi!). Yang penting usaha untuk silaturahmi itu telah dicoba-jalankan oleh GUS DUR.

Bagaimana dengan pemimpin di negara lain?

Ambil contoh Bill Clinton, dia memiliki e-mail pribadi, dimana setiap orang dari segala penjuru dunia dapat berkomunikasi dengan beliau, dan untuk itu dia siapkan waktu untuk membacanya dan memberikan jawaban secara langsung. Setiap orang yang mendapatkan jawaban per e-mail, apapun masalahnya, akan merasa bangga dan gembira mendapat satu kesempatan berkomunikasi, bersilaturahmi secara elektronik. White-house pun memberikan kesempatan bagi para turis untuk melakukan tour anjangsana keliling bangunan itu, walau mungkin sekarang tidak semudah seperti sebelum kejadian 11 September 2001.

Ada banyak alamat e-mail dari para pejabat publik di negara-negara maju, dan setiap orang bisa berkomunikasi langsung walau tanpa tatap-muka, Setiap orang yang berkepentingan dapat saja mengirim surat langsung kepada yang dituju.

Teknologi bisa membantu menyelenggarakan silaturahmi antar warga yang saling berjauhan, tidak kenal langsung, tanpa tatap-muka, biayanya murah, gampang diakses, sederhana. Selain itu ada, chatting, faximile, video-konferenz, dll. Apakah hal ini tidak bisa kita gunakan untuk bersilaturahmi?

DIMANAKAH SILATURAHMI BERLANGSUNG?

Ada banyak tempat dimana silaturahmi bisa terjadi, a.l.:

  • Pertemuan warga se RT, se RW, arisan-arisan, berbagai kegiatan hari besar nasional
  • Kegiatan bercocok tanam, tanam padi bersama, panen bersama, dan berbagai kegiatan lain sejenis sampai SISKAMLING (sistim keamanan lingkungan), ronda (penjagaan keamanan secara swadaya)
  • Youth center, kegiatan kepramukaan, kegiatan sosial swadaya masyarakat
  • Sarana olahraga, bowling, tenis, badminton, golf
  • Olahraga kebugaran, fitness, aerobik, tai-chi, reiki
  • Olahraga beladiri, karate, judo, pencak-silat, dll
  • Camping, panjat gunung, panjat tebing, piknik bersama
  • Darmawisata, tourismus
  • Discotik, bar, café, nightclub, executive club, macam-ragam club
  • Kesenian, main band, opera, teater, drama, pantomine, gamelan, musik tradisional
  • Belajar extra kurikuler, kursus-kursus, bahasa, ketrampilan, tari (dance)
  • Kelompok pengobatan, kelompok diskusi pengobatan mental
  • Kelompok aktivis, gerakan mahasiswa, gerakan extra parlementer, lembaga-lembaga swadaya
  • Rekreasi bersama dengan tetangga, olahraga bersama, bermain, berkumpul di taman
  • Usaha bersama, MLM (multi level marketing), koperasi
  • Dunia maya seperti internet, mailing list, kelompok-kelompok sejenis se aliran
  • Sosial media seperti Facebook, Twitter, WA, Line
  • Dan lain sebagainya.

Setiap kegiatan di atas dapat dibedah satu persatu, dianalisa dan diperdebatkan sampai kemana tingkatan pertalian persahabatan di antara pesertanya. Tentu saja pembahasan untuk semua hal di atas akan sangat menyita waktu dan tempat.

TINGKAT FREKUENSI KEGIATAN SILATURAHMI

Tentu saja ada bermacam tingkat kualitas dan kuantitas kegiatan silaturahmi, a.l.:

  • kegiatan silaturahmi yang dilakukan dalam jadwal tertentu, misal saja sekali seminggu, 2 atau 3 kali seminggu, sebulan sekali, 2 bulan sekali atau sekali setahun
  • kegiatan silaturahmi yang dilakukan sewaktu-waktu
  • kegiatan yang menggalang banyak anggota masyarakat
  • kegiatan yang membatasi anggota kelompok
  • kegiatan yang terbatas
  • kegiatan antar pribadi, di antara 2 orang, 3 atau beberapa orang dekat saja
  • kegiatan perorangan tanpa tujuan, tanpa batasan, sewaktu-waktu, tidak ada jadwal.

TUJUAN BERSILATURAHMI

Tentu saja ada banyak tujuan, kebutuhan, kegunaan bersilaturahmi, a.l.:

  • silaturahmi diperlukan karena kebutuhan pernyataan keberadaan seseorang di dalam suatu kelompok, di dalam suatu masyarakat, di dalam suatu kegiatan tertentu
  • silaturahmi yang dijalankan karena rasa, emosi, mental, dan bisa saja moral seseorang yang merasa kesepian, butuh teman kencan, butuh teman intim, butuh orang lain untuk ber-sosial (bercengkrama, ngobrol, bicara)
  • silaturahmi yang dijalankan karena butuh akan suatu keadaan (atmosfeer) tertentu, misal saja suasana kegelapan, kebisingan, kegembiraan, ketidaknyataan, kesepahaman, kesamaan pikiran, kesamaan visi, kesamaan pandangan
  • silaturahmi yang dijalankan karena ingin menyendiri dalam satu kegiatan bersama, walau berbanyak orang tetapi tetap memberikan ruang pribadi (privasi) yang cukup untuk mendapatkan kesehatan, kehidupan, ketenangan jiwa, kepuasan diri
  • silaturahmi yang digalang karena persamaan penderitaan, senasib-sepenanggungan untuk mendapatkan satu jalan keluar bersama, penggalangan kekuatan untuk melawan penindasan yang ditimpakan kepada masing-masing anggota kelompok ini
  • silaturahmi untuk mendapatkan suatu hubungan imbal-balik antara warga, antara anggota kelompok, antara wakil rakyat dengan rakyatnya, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara presiden dengan rakyatnya, sehingga satu sama lain dapat saling membantu, saling menolong, saling memberitahu keadaan yang lain, saling mengawasi, saling percaya, dst.

CONTOH SILATURAHMI

Keterbatasan silaturahmi dalam kehidupan masyarakat perkotaan
Kita bisa saja membahas bermacam kegiatan yang ada dalam kehidupan masyarakat perkotaan, ada banyak sekali macam-ragam silaturahmi yang tidak akan selesai diulas dalam ribuan lembar kertas. Kita perlu membatasi pada beberapa kegiatan yang biasa terjadi, terutama yang dialami generasi penerus, para remaja dan beberapa kelompok orang dewasa saat ini.

Anak-anak sekolah yang mencapai usia remaja saat ini menghadapi kesulitan dalam menjalankan kegiatan silaturahmi antar mereka. Kehidupan mereka, remaja kota-kota besar tentu berbeda dengan kehidupan remaja desa. Mereka yang dikota tidak mempunyai banyak kegiatan luar rumah, luar ruangan yang cukup, untuk dijalankan secara positif, mereka berangkat sekolah yang jauh dari rumah-rumah mereka menuju sekolah-sekolah unggulan yang mereka dambakan. Mereka memang berkumpul selama jam sekolah, dan setelah sekolah usai mereka kembali berpisah, pulang ke segala jurusan yang jauh antara satu dengan yang lainnya. Demikianlah kehidupan mereka sehari-hari.

Apakah berkumpulnya mereka di sekolah yang sama itu merupakan satu bentuk silaturahmi, yang dapat membawa kepuasan, kebahagiaan buat si anak-anak sekolah itu? Tentu saja hal ini akan penuh perdebatan. Mungkin dari satu sisi, memang berkumpulnya mereka di sekolah itu dapat dikatakan sebagai satu ikatan persahabatan, walau tidak secara penuh dapat dibenarkan, karena kita tahu, kurikulum sekolah-sekolah saat ini tidak memberikan banyak kesempatan untuk itu, mereka ditekan, dipaksa, dicekokin dengan berbagai kegiatan sekolah, dengan berbagai mata pelajaran yang memaksakan mereka harus berjuang keras, bersaing keras, saling unggul-mengungguli satu sama lain, menghabiskan waktu mereka untuk belajar di sekolah maupun di rumah.

Setelah pulang sekolah, anak-anak ini kembali ke rumah-rumah mereka yang jauh satu sama lain, dan banyak di antara mereka yang pulang ke ‘gheto-gheto’ khusus berupa komplex perumahan mandiri lepas bebas dari masyarakat yang ada di sekitarnya, perumahan yang dibatasi dengan tembok-tembok tinggi, pagar kawat berduri, penjagaan satpam di pintu-pintu keluar-masuk. Mereka pulang ke benteng-benteng pertahanan mereka masing-masing. Benteng yang menjaga jarak antar warga masyarakat di dalam bentengan dengan warga di luar bentengan. Jadilah mereka hidup dalam kondisi elu-elu-gue-gue. Tidak kenal tetangga bisa saja terjadi.

Bagaimana caranya para remaja yang bersekolah di sekolah yang jauh dari lokasi rumah mereka itu saling berhubungan di luar jam sekolah. Wah tentu tidak perlu takut, dan merasa terpisah, kan ada telpon, ada HP, ada SMS, ada e-mail, ada chatting dan berbagai teknologi canggih lainnya, ada wartel, juga ada warnet kok. Tetapi hubungan temu-muka antar teman kan tidak bisa lewat telpon, HP, SMS atau yang lainnya, dan hubungan ini masih tetap diperlukan oleh mereka, mereka ingin bersenda-gurau, bercengkrama, ngobrol atau melakukan kegiatan bersama mereka. Nah disinilah dimulai kegiatan silaturahmi antar mereka yang dijalankan di pusat-pusat perbelanjaan, di mall-mall, di pusat hiburan dan lokasi-lokasi lain yang memungkinkan untuk itu. Merekapun terbenam dalam bermacam kegiatan yang mewah meriah, mereka nongkrong di tempat-tempat keramaian, mereka bicara tentang bermacam barang, tentang HP, tentang mode, tentang aksesoris, tentang musik, dan bermacam materi lainnya. Mereka menjadi materialis secara tidak disadari.

Saat bertemu itulah mereka akan menunjukkan kebolehan yang satu dari yang lain, tentu saja dalam kepemilikan bermacam materi yang mereka bawa. Yang merasa kurang tentu akan minder (rendah diri) yang berlebih tentu bangga. Yang kekurangan akan mencari jalan agar mampu mendapatkan penghargaan dari yang lain, dan hal ini bisa saja ditempuh dengan berbagai macam cara.

Mereka akan membuat pengelompokan antar mereka, yang mampu akan bermain dengan yang mampu, yang kurang mampu dengan yang kurang mampu, yang super kaya dengan yang kaya raya. Itu hal yang normal, dan terbentuk secara alami. Yang kurang mampu jelas akan minder bergaul dengan yang mampu apalagi dengan yang super mampu, mereka merasa akan terus ketinggalan. Tentu saja ada juga pengecualian yang terjadi, tetapi itu hanyalah suatu kebetulan-kebetulan saja. Misal saja anak yang kurang mampu tetapi dianggap sebagai murid unggulan di kelasnya, dan setiap anak yang lain berusaha untuk ‘membeli’ perhatian si unggulan itu dengan berbagai macam cara, dan mengajak si unggulan yang kurang mampu ke dalam kelompok si mampu atau super mampu.

Kalau kita mau meneruskan pengamatan, penganalisaan akan keadaan sekolah-sekolah unggulan, sekolah-sekolah khusus, sekolah-sekolah bebas rayon, sekolah-sekolah biaya tinggi, tentu akan banyak sekali permasalahan yang dapat kita munculkan, tetapi saya tidak bisa melakukan hal ini, perlu data-data yang lebih lengkap, perlu kesertaan banyak ahli dalam berbagai bidang untuk dapat melakukan pembicaraan, perdebatan masalah ini.

Saya rasa cukuplah kita melihat beberapa hal jelek yang terjadi dalam kehidupan warga kota-kota besar, dalam kehidupan individualis yang diterapkan, dalam filosofi ”elu-elu-gue-gue”, kondisi masak-bodoh, acuh-tak-acuh kepada yang lain.

Sebagai perbandingan, saya tampilkan jalan keluar yang ditempuh negara tetangga:

Pemerintah Malaysia, di awal tahun 2003 telah mencoba merubah sistem persekolahan yang berlangsung disana. Mereka mulai menghilangkan sekolah-sekolah khusus, dan menetapkan agar anak-anak sekolah di sekolah umum, sekolah negara. Tentu saja hal ini dilakukan bukan tanpa pemikiran serius. Mereka sangat serius dalam hal ini. Mereka melihat adanya perbedaan-perbedaan pandangan yang saling berlawanan selama ini karena adanya sekolah-sekolah khusus yang membentengi sekelompok siswa sekolah itu dengan kelompok siswa sekolah yang lain. Terlihat jelas ada banyak benturan selama ini, banyak perbedaan paham yang melupakan nasionalisme dan mementingkan perkelompokan sendiri-sendiri. Negara Jiran ini ternyata lebih pintar dalam melihat akar permasalahan yang ada, dan demi mencegah pertentangan yang lebih parah di kemudian hari, mencegah pandangan-pandangan yang saling extrim satu sama lain, maka diputuskanlah ketentuan sekolah umum (negara) bagi semua anak-anak, bagi generasi penerus bangsa itu.

Bagaimana dengan negara Indonesia?
Akankah kita terus membiarkan silaturahmi-maya di antara anak-anak perkotaan ini terus terjadi. Dimana mereka akan bersilaturahmi, mengikat tali persahabatan di mall-mall? Dalam kehidupan materialism?

Ada satu hal yang nyata terjadi di antara sekolah khusus di Jakarta, yang uang masuknya bisa puluhan juta rupiah, dimana para ibu dan para siswa bercerita bagaimana mereka menghabiskan waktu liburnya, ada yang pergi UMROH katanya, ada yang ke Eropa, ada yang ke Amerika. Atau kita lihat bagaimana mereka ke sekolah, yang satu pamer sepatu yang jutaan rupiah yang dibeli di kota belanja internasional, yang lain tentu tidak mau kalah. Ada apa dalam kehidupan generasi penerus bangsa ini? Yang mampu dan super kaya terus menerus pamer materialism, hidup dalam benteng-benteng, dalam tembok-tembok ‘BERLIN’ yang kokoh sebagai pemisah dengan masyarakat tidak mampu, yang miskin, yang tidak terdidik, yang tidak bersekolah, yang tidak . . . tidak lainnya, pokoknya dalam artian segala kurang.

Jelas SILATURAHMI seperti yang ditampilkan di atas bukanlah silaturahmi yang benar, tetapi silaturahmi yang salah arah.

Usaha menggalang silaturahmi
Biro jodoh, internet, iklan jodoh, mencari teman, mencari pasangan, mencari keintiman, iklan pribadi, ngobrol di telpon ‘0809XXXXX’, chatting di internet merupakan bagian dari usaha menggalang silaturahmi.

Bagaimana kita akan menggalang silaturahmi yang alami dalam kehidupan bangsa kita, baik di kota besar maupun di desa yang jauh dibalik gunung?

Diperlukan banyak usaha untuk menggalang silaturahmi yang benar-benar baik bagi kita semua.

SILATURAHMI ANTAR WARGA BERAGAMA

Apakah benar ada rasa persaudaraan yang terbentuk dalam setiap kelompok umat beragama? Dan bagaimana tingkat persaudaraan dalam maryarakat yang umatnya berbeda agama?

Kita sudah melihat banyak contoh, ketiadaan rasa persaudaraan di antara warga masyarakat, dimana mereka yang satu agamapun bisa saling hantam satu sama lain, walau mereka hanya berbeda RT, beda RW, beda gang (jalan), berseberangan jalan, walau pelaku-pelaku tawuran itu bisa saja merupakan peserta kegiatan ritual di rumah Allah yang sama.

Ada banyak mesjid, musholla atau rumah ibadat yang memiliki ketentuan yang saling bertentangan, ada tokoh-tokoh agama yang saling unggul-mengungguli, ada yang saling iri kepada yang lain, saling cemooh walau tidak secara langsung. Ada banyak paham yang dianut dalam keagamaan yang sama.

KEBUNTUAN HUBUNGAN

Rakyat tidak bisa berkomunikasi dengan wakilnya, tidak juga dengan presidennya, warga masyarakat tidak bisa saling bertemu, tidak bisa saling ngobrol, tidak bisa berrekreasi, tidak bisa bermain bersama, tidak bisa berkomunikasi langsung secara alami.

Kalau kalimat diatas dibalik-arahkan, wakil rakyat tidak tahu menahu dengan keadaan rakyatnya, karena wakil rakyat datang entah dari mana kemudian menjadi wakil rakyat suatu daerah lain, sebab rakyat saat pemilu hanya nyoblos tanda gambar, pilih sapi jantan dapatnya kambing bengek, pilih gambar gedung dapatnya RSSSSSSSS, pilih bulan dapatnya bintang gurem, pilih pohon besar dapatnya bonsai kerdil tua.

Presiden tidak tahu menahu dengan keadaan rakyat bawah (wong cilik), hanya mau bersilaturahmi dengan kelompok super kaya (wong licik), tidak mendengar aspirasi rakyatnya, menutup jalur komunikasi, tidak membuka diri, menutup pintu istana, menutup pintu rumahnya, kalau ada yang datang harus lewat saringan kualitet super, kalaupun ada yang berusaha berkomunikasi akan dipatahkan di saluran atau dikirim ke saluran pembuangan alias dibuang ke tong sampah. Kalaupun membuka saluran silaturahmi hanya dengan anggota kelompoknya saja.

Warga masyarakat tidak punya lahan, lokasi untuk rekreasi, taman bermain, lapangan bola, lapangan olahraga, yang ada hanya MALL, MALL, MALL dan MALL.

Jakarta, 5 Februari 2003

***

Tulisan diatas sedikit diedit dari aslinya, hanya sedikit saja, menghaluskan dan menambahkan kata yang tertinggal atau salah tempat, tidak sampai 5% yang ber-ubah.

Ada presiden yang lalu. berusaha membuka saluran silaturahmi maya melalui beberapa aplikasi sosial media, tetapi pembacaan dan penulisan jawaban tidak selalu dilakukan sendiri, ada tim khusus untuk itu. Selain itu ada usaha-usaha untuk ‘nguping’ pembicaraan rakyat di berbagai saluran, tetapi bukan untuk mendapatkan kebenaran, hanya sekedar strategi intelijen saja.

Ada ibu negara yang mencoba membuka jalur silaturahmi melalui program sosial media, tetapi tidak bersedia menerima koreksi atau bantahan dari rakyat yang kebetulan tidak suka dengan apa yang dia tampilkan, banyak celotehan rakyat yang terpaksa di-delete oleh dia atau tim khusus untuk itu. Saya melihat kedua orang itu bukan dalam rangka ber-silaturahmi tetapi sekedar pencitraan … maaf!

Sementara itu bapak Ir. H. Joko Widodo sewaktu menjabat gubernur DKI Jakarta sudah menjalankan usaha silaturahmi langsung kepada masyarakat dengan cara ‘blusukan’, langsung masuk jalan kaki ke lingkungan kumuh, lokasi banjir, ke pasar, dlsb. Dia bicara langsung dengan rakyat, dia lihat sendiri permasalahan yang ada.

Sewaktu kampanye sebagai calon presiden, dia menerapkan segala usaha silaturahmi, tatap muka langsung, blusukan, sosial media, email, sms, dlsb. Setelah pelantikan sebagai presiden ke-7, kabinet kerjanya harus menyiapkan waktu 24 jam untuk menerima berbagai masukan dari rakyat, setiap menteri diharuskan membuka saluran untuk bisa menerima masukan itu.

Diedit dan ditambahkan pada Rabu, 5 November 2014, jam 11:38

Leave a Reply