085 Mimpi Besar Tentang Kehidupan
Jakarta, 8 Januari 2015
Banyak tokoh dunia yang bermimpi akan kejayaan bangsa dan negaranya, mereka berharap, bercita cita, punya ide, punya gagasan, akan mencapai suatu keadaan yang terbaik bagi masyarakat, bagi bangsa, atau bagi negara mereka:
- Ada mimpi yang terbatas ruang lingkupnya, hanya berlaku pada suatu masyarakat tertentu, pada bangsa tertentu, atau pada negara tertentu,
- ada yang bermimpi lebih universal, lebih mendunia tanpa batasan wawasan kedaerahan (kenegaraan), seperti Weber, Karl Marx, juga Feuerbach bermimpi tentang sosialisme yang berdasarkan Love (Liebe, cinta) kepada Tuhan,
- banyak filosof juga bermimpi tentang kehidupan, tentang hubungan orang per orang, masyarakat, kebangsaan, kenegaraan, sistem perwakilan, seperti Tsun Tzu menulis tentang kepemimpinan dan strategi berperang, dlsb..
- Napoleon punya mimpi, Nero punya mimpi, Socrates punya mimpi, Plato punya mimpi,
- Sri Paduka Jayabaya juga punya mimpi (jongko) yang menggambarkan keadaan Nusantara pada 1000 tahun yang akan datang,
- Mahapatih Gajahmada punya mimpi mempersatukan seluruh Nusantara dengan sumpah Palapa,
- Sabdapalon dan Noyogenggong punya mimpi yang mengatakan akan ada perubahan Nusantara pada 500 tahun yang akan datang,
- Bung Karno punya mimpi, Nusantara akan menjadi mercusuar dunia,
- ada banyak tokoh punya mimpi indah akan masa depan suatu bangsa, negara, bahkan penyanyi Michael Jackson, Bob Marley, John Lennon, dll, mereka punya mimpi menyatukan dunia dalam kedamaian, One World, Love & Peace,
- ada mimpi yang ingin mengedepankan bangsa tertentu dan negara tertentu seperti Hitler yang bermimpi akan kejayaan ras Arya, bercita cita menguasai dunia, ingin menghabisi ‘untermenschen’ (manusia kelas rendah), yang boleh ‘ausgerottet werden’ (dihabisi),
- beberapa abad sebelum Hitler, ada kelompok agama di belahan utara dunia yang dominan berkulit putih, mereka bermimpi menguasai dunia, membagi dunia dalam beberapa regional dan memberikan hak bagi negara negara belahan utara itu untuk melakukan penjajahan dan menjadikan kaum ‘untermenschen’ sebagai budak mereka, maka terjadilah penjajahan, penyerbuan, genositas, dst.,
- yang terakhir, ada kelompok pemeluk agama yang bermimpi menguasai dunia dengan ide ide extrim mereka, semua orang harus ikut agama mereka, yang tidak mau ikut akan di-sirna-kan dari muka bumi.
Mimpi dan Realisasi, Positif dan Negatif
Tokoh tokoh besar dunia punya mimpi besar masing-masing, mereka bermimpi yang indah tentang bangsa dan negaranya, tetapi realisasi mimpi itu ada yang positif dan ada yang negatif:
- yang positif: ingin memberikan kesempatan hidup yang adil bagi semua manusia tanpa batasan kedaerahan, tanpa pandang bulu, tanpa pandang warna kulit, semua sama rata sama rasa, penuh cinta, dalam perdamaian, tolong menolong,
- yang negatif: hanya mengedepankan kelompoknya saja, menghancurkan kelompok yang lain, seperti Hitler (ras Arya, bangsa unggulan) yang melakukan pembunuhan genositas kelompok Yahudi (bangsa terpilih), dan punya rencana menghabisi kelompok ‘untermenschen’ yaitu kelompok kulit berwarna (gelap, coklat, hitam, kuning, merah, dll), atau kelompok agama tertentu di negara bagian utara pada beberapa abad yang lalu yang membagi dunia dalam beberapa regional, kemudian memberikan konsesi kepada setiap negara anggota agama itu untuk mengeksploitasi setiap regional itu, yang kemudian terjadilah penjajahan atas daerah kelompok berwarna, terjadilah perbudakan, penghancuran budaya kelompok agama lainnya, pembunuhan bangsa kulit berwarna, dst.
Kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual
Semua orang ingin bermimpi besar, sebesar-besarnya, seindah indahnya, dst. Batasan kecerdasan yang dimiliki seseorang (tokoh, atau siapapun) yang akan menentukan apakah mimpi besar mereka itu bermanfaat bagi orang banyak atau hanya terbatas pada diri si pemimpi, terbatas pada masyarakat dimana si pemimpi berada, terbatas pada suatu bangsa dimana si pemimpi berada, berada pada negara tertentu dimana si pemimpi berada.
- Siapapun yang punya mimpi besar, pasti punya kecerdasan intelektual tinggi. tetapi bisa berbeda dalam cakupan wawasan, berbeda dalam hubungan antar umat manusia.
- Orang atau tokoh yang hanya bermimpi akan kepentingan kelompoknya saja jelas punya kecerdasan emosional terbatas dan negatif.
- Orang atau tokoh yang hanya bermimpi mengutamakan kepentingan kelompoknya saja, tidak peduli dengan orang atau kelompok di luar kelompoknya, atau malahan berusaha menghancurkan orang/kelompok lain, selain memiliki kecerdasan emosional negatif, mimpinya jelas menggambarkan kalau tokoh itu tidak punya kecerdasan spiritual.
- Orang atau tokoh yang punya kecerdasan spiritual tinggi tidak akan membuat pembatasan wawasan, mimpinya bersifat universal (mendunia) tanpa pandang bulu, tidak membedakan suku, ras, warna kulit, agama, dll., mereka mengedepankan cinta, perdamaian, kehidupan bersama umat manusia.
- Kelompok yang membuat perbedaan kelas, yang menyatakan kelompoknya sebagai warga istimewa sedangkan yang lain boleh ‘ausgerottet werden’, bisa dikatakan kecerdasan spiritual mereka itu berada pada nilai negatif, salah arah, salah persepsi, salah cara berpikir, hanya mengedepankan ego pribadi, tidak pernah mau mengerti bahwa semua manusia itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kelompok terakhir ini, berpikir (ini kenyataan sejarah) Tuhan memberikan keistimewaan kepada mereka, menjadikan mereka kelompok unggulan atau kelompok terpilih sementara yang diluar kelompok mereka hanya sekedar pelengkap kehidupan mereka, boleh dipergunakan seperti alat kerja (terjadilah penjajahan, perbudakan), boleh disingkirkan (terjadilah penghancuran dan pembunuhan, juga kenyataan). Dan kondisi yang pernah terjadi beberapa abad yang lalu itu kini sedang berulang kembali di dunia, ada kelompok yang merasa mendapatkan keistimewaan untuk memaksakan kehendak mereka, seakan akan mereka telah menjadi kelompok istimewa di mata Tuhan, dan barang siapa tidak tunduk atas kekuasaan mereka akan disirnakan.
Manusia seharusnya punya karakter lebih baik dari binatang, tetapi sebenarnya manusia punya kemungkinan untuk sama buasnya seperti binatang. Ingat: “Homo homini socius, homo homini lopus” yang kira-kira bermakna: manusia adalah mahluk sosial, tetapi manusia bisa menjadi srigala bagi yang lainnya.
Binatang punya kecerdasan emosional yang tinggi, binatang tidak membunuh sesama jenisnya, kecuali dalam pertarungan kekuasaan daerah, sementara manusia meski sudah cukup makan, cukup harta, jabatan tinggi, terpandang bisa saja seperti binatang yang tak kenal ampun, bahkan lebih buas. Singa memburu seekor mangsa, dia makan secukup perutnya, setelah itu ditinggalkan untuk binatang yang lain, untuk Hyena atau burung pemakan bangkai. Ular makan sesekali, sekali dia menelan yang cukup besar, dia akan tidur panjang, bisa sebulan sampai 3 bulan. Manusia, meski sudah punya harta tak habis 7 turunan, tetap saja kemaruk. Binatang punya kecerdasan emosional, sementara manusia yang seharusnya punya kecerdasan spiritual, malah bisa lebih buas dari binatang.
Mimpi atau bermimpi jelas tidak ada batasan, boleh boleh saja sekehendak hati seseorang, tetapi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itulah yang membedakan, baik buruknya mimpi itu.

