#8 Keberhasilan Terapi Pete

#8 Keberhasilan Terapi Pete

Dari penelitian (atau sekedar pengamatan!?) selama 15 tahun (1995 – 2010) dalam kalangan terbatas, saya mendapatkan informasi kemampuan pete membantu-sehatkan beberapa penyakit yang dimiliki para peserta yang terbatas itu. Kemudian di masa sosialisasi 4 tahun (2010-2014), yang sebenarnya merupakan masa uji kebenaran hasil temuan pada penelitian yang 15 tahun pada kalangan yang lebih luas, dengan jenis penyakit yang lebih bervariasi.

Kalau di masa penelitian jumlah peserta hanya beberapa puluh orang, di masa sosialisasi jumlah peserta mencapai ribuan orang. Lihat di “Mengungkap Misteri Buah Pete -7”.

Di masa sosialisasi itu, tidak hanya menunjukkan kebenaran perkiraan saya di masa penelitian: penyakit asam urat, osteoprosis, trauma otot, darah tinggi, Diabetes, dll, sampai impotensi, benar bisa berhasil disembuhkan dan khusus impotensi bahkan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, ada yang dalam waktu satu malam sudah berubah total. Kemudian ada informasi baru yang muncul dalam masa sosialisasi, seperti cell-regerative, mengembalikan fungsi organ tubuh menjadi normal, kulit menjadi halus mulus bercahaya, otot kembali lentur dan kenyal, pembuluh darah kembali mengecil, lentur dan terlihat samar di permukaan kulit, buah dada kembali mengencang dan kenyal, tubuh yang tadinya gombyor kembali langsing, nafsu makan yang muncul pada awal terapi ternyata benar merupakan bagian dari proses penyeimbangan metabolisme tubuh, kemudian nafsu makan kembali normal dan tubuh perlahan meramping, terlihat berotot, yang terkena stroke bisa berjalan kembali dalam waktu 7 hari, yang lemah lunglai (lumpuh) karena diabetes bisa kembali beraktivitas normal dalam waktu 2 minggu, dst. Ada lebih banyak lagi informasi yang berhasil dihimpun pada masa sosialisasi. Bukan hanya penyakit biasa bisa dibantu-sehatkan, juga hal hal gaib ditemukan dalam kegiatan sosialisasi. Untuk hal yang gaib akan ditampilkan di “Mengungkap Misteri Buah Pete -9”.

Pete benar bisa meningkatkan stamina dan kesehatan. Air pete bisa mengatasi impotensi bahkan meningkatkan daya tahan sampai 3 kali lipat. Pete benar bisa menyembuhkan asam urat cs. Pete bisa menurunkan kadar gula darah dan bisa menyembuhkan Diabetes. Dan seterusnya.

Bukan hanya untuk penyakit, air pete bisa digunakan untuk membersihkan metal, uji coba saya lakukan pada berbagai benda metal: untuk membersihkan velg mobil, kitchen sink (tempat cuci piring dari stainless steel), membersihkan kacamata, membersihkan kaca kacamata, dll. Hasilnya barang-barang itu bersih dan berkilap.

Warna air pete bisa menunjukkan kalau air yang dipakai itu mengandung bahan kimia chlor, kaporit, atau memang air murni jernih dari gunung. Air pete yang disimpan di wadah plastik akan cepat berubah gelap, sementara yang disimpan di wadah beling (kaca, gelas) akan tetap atau hampir tidak berbeda meski disimpan selama seminggu atau 2 minggu. Air pete ber-reaksi dengan plastik, dengan metal, tetapi tidak dengan gelas atau kaca.

Memang penelitian (atau pengamatan) yang saya lakukan itu tidak sampai ke pengujian test darah di laboratorium dimana darah diambil dan diuji sebelum ikut terapi dan kemudian dilakukan test lagi setelah ikut terapi.

Saya tidak melakukan uji laboratorium, saya hanya melakukan pengamatan dari kejadian-kejadian, gejala-gejala yang dialami peserta terapi pete sebelum terapi, selama menjalankan terapi dan sesudah terapi.

Saya membuat catatan dari pertanda (sinyal) yang terlihat pada beberapa peserta sebelum dan setelah mengikuti terapi dan atau rasa yang dirasakan peserta sebelum dan sesudah terapi yang disampaikan peserta kepada saya. Memang tidak banyak yang bisa dicatat, hanya mereka yang kebetulan berada didalam batasan kemampuan komunikasi saja yang bisa dicatat. Banyak informasi tergali dari peserta yang berasal dari lingkungan tempat tinggal saya, atau dari orang-orang yang sering saya temui, atau beberapa teman-teman yang bisa saya hubungi melalui komunikasi telepon, ada juga yang berasal dari luar Jakarta yang bisa saya hubungi lewat telepon, email atau via blog.

Ada beberapa test darah yang dilakukan oleh beberapa peserta, salah satunya: seorang teman dari Jerman, HR, usia 60 tahun, yang sebelum terapi sudah mengalami penurunan kondisi kesehatan, beberapa kali kena stroke, mengalami penurunan unjuk kerja jantung dan ginjal … dan ternyata setelah 4 bulan rutin makan buah pete dan minum air rebusan kulit pete, dia cek ke laboratorium, dia mendapatkan perubahan positif bahkan hasil test menunjukkan kondisi jantung dan ginjal berubah dari sisi negatif menjadi positif … maaf saya tidak mendapatkan hasil lab (jantung dan ginjal) itu, dan lupa nilai sebelum dan sesudahnya. Secara umum, kolesterol, asam urat, dll itu baik kecuali jumlah sel darah putih yang jauh melebih ambang batas atas … yang kemudian berhasil dikembalikan ke nilai aman dengan makan buah nanas.

Dari pengalaman sosialisasi terapi pete, memang lebih mudah menawarkan terapi ini kepada orang orang yang sudah memiliki gejala keadaan tidak sehat, seperti rasa sakit (nyeri) yang amat sangat saat bangun dari duduk, apalagi saat bangun dari duduk di lantai (penyakit akibat asam urat akut), rasa sakit di sendi lutut saat berjalan atau akan berjalan (dikatakan sebagai rhematik, osteoporosis, saraf kejepit, sendi kehilangan pelumas), tidak bisa menekuk jari-jari tangan, rasa pusing di kepala (migren, pusing sebelah) karena tekanan darah tinggi atau malah karena gejala darah rendah, gejala susah tidur sukar bangun dari tidur, sering pipis sedikit sedikit di waktu malam, tidak bisa bangun paska stroke, dlsb.

Peserta terapi yang saya ketahui, mulai dari umur 15 tahun sampai umur 78 tahun, kebanyakan berada di usia 30-60 tahun, di atas 60 tahun jauh lebih sedikit dari usia 30-60 tahun, dan yang berusia dibawah 30 tahun hanya sedikit sekali, tidak sampai 1%. Tingkat ekonomi peserta juga bervariasi, lebih banyak dari kelas menengah bawah, hanya sedikit dari kelas menengah atas. Warga menengah bawah itu lebih mudah diajak untuk ikut menjalankan terapi pete dibanding warga kelas menengah atas …

Karena sudah cukup lama mengawasi banyak orang, membuat perkiraan kondisi kesehatan orang yang saya temui, saya bisa sedikit banyak membedakan yang sehat dan yang sedang menderita penyakit. Dengan melihat dari gejala-gejala yang terlihat, saya bisa tahu kalau seseorang memiliki hambatan kesehatan, hal ini dapat dilihat secara sepintas, terlihat di wajah mereka, terlihat dari gerakan orang itu, terlihat dari bentuk postur tubuhnya, juga dari pola makannya. Biasanya, bila mungkin, saat saya melihat seseorang dengan gejala-gejala hambatan kesehatan, saya langsung bertanya akan kondisi kesehatan orang itu. Biasanya, orang itu akan bercerita tentang kondisinya … klop … lalu saya tawarkan terapi pete, dan kalau kebetulan ada peserta terapi pete yang dikenal orang itu, saya beritahu … si anu di jalan anu, jualan anu, punya gejala anu, sudah ikutan dan sudah sembuh. Setelah dia mau menjalankan terapi, saya berusaha mengikuti perkembangan kesehatan orang itu, sesekali mampir untuk mengobrol dan bertanya.

Ada banyak orang dari kalangan bawah yang saya dekati dan berhasil diajak ikut terapi pete, ada penjual minuman, penjual mie ayam, penjual majalah, penjual barang loak, penjual kue keliling, penjual kue ranggi, pedagang sayur keliling. Sebagian dari mereka memang punya hambatan kesehatan, sebagian lagi sebenarnya masih sehat dan pria!

Ada 2 kelompok orang yang saya coba dekati dengan pendekatan yang berbeda: kelompok orang yang punya penyakit (hambatan kesehatan) dan kelompok yang sehat.

  • Kelompok yang punya hambatan memang mudah diajak ikut serta untuk menguji terapi pete dalam menyembuhkan bermacam penyakit yang mereka miliki … dan
  • kelompok yang sehat terutama para pria saya berikan iming-iming ‘Slow Vixgrx’. Kelompok pria sehat itu biasanya antusias saat mendengar ada efek SV di terapi pete.

Orang-orang yang sudah memiliki hambatan cukup besar tetapi belum terlalu sukar untuk bergerak, alias belum sakit parah, menderita asam urat, osteophorosis, merasa berat saat melangkah atau saat bergerak dan sudah mencoba berbagai obat tanpa hasil atau hanya mendapatkan sedikit perubahan setelah pengobatan konvensional dalam waktu panjang, mendapatkan sedikit perubahan kemudian hambatan itu kembali datang, berulang ulang, biasanya mau mencoba terapi pete.
Tetapi buat mereka yang sudah terlanjur sakit parah dan sudah tergantung dengan obat farmasi dan lebih percaya kepada ahli kesehatan konvensional, mereka sulit untuk diajak ikut terapi.

Didalam masa penyebaran, ada banyak keberhasilan mengajak orang-orang ikut menjalankan terapi … dan ada banyak juga kegagalan dalam mengajak seseorang untuk ikut terapi pete, begitu sulit meyakinkan mereka, bahkan bila orang itu seorang kerabat yang cukup dekat atau seorang teman dekat (sahabat) sekalipun.

Ada banyak faktor yang menghalangi orang itu untuk percaya akan terapi ini. Ada yang berdalih sudah berobat di ahli kesehatan anu, sudah mendapat obat anu keluaran pabrik anu di luar negeri.

Hambatan atau alasan yang paling sederhana: tidak percaya sama sekali akan manfaat obat herbal … apalagi terhadap pete, si biang bau, sting bean, si evil smelling bean!

Sering saya bertemu dengan orang-orang yang lebih memilih menggunakan obat farmasi daripada herbal, berapapun mahalnya obat farmasi mereka tetap bertahan, dan penawaran obat herbal semurah apapun, tidak menggoyahkan iman mereka. Bayangkan saja: walau mereka sudah menghabiskan biaya ber-obat jutaan, ratusan juta rupiah saja belum tentu bisa sembuh … lalu ditawari terapi dengan buah pete si biang bau murahan kampungan kelas bawah, lalu dikatakan buah ini punya manfaat begitu hebat!?

Sudah begitu adanya, kebanyakan di antara kita selalu melihat kemasan bukan isi, kita melihat darimana datangnya obat itu, dari negeri antah berantah penuh kemilau atau dari hutan (gunung) tak jelas?

Keberhasilan terapi pete ini bisa dilihat secara langsung pada kelompok yang memang punya hambatan. Saya tawarkan terapi ini kepada mereka, lalu saya usahakan untuk bertemu mereka, melihat perubahan dalam kegiatan sehari-hari orang-orang itu. Orang yang sebelumnya berjalan dengan berat, penuh penderitaan yang terlihat di wajah mereka, kemudian setelah ikut terapi terlihat begitu santai, berlenggang bebas tanpa beban, tidak terlihat rasa sakit di wajah mereka. Perbedaan itu langsung terlihat. Perasaan senang telah berhasil dengan uji coba terapi pete, telah mendapatkan bukti kebenaran terapi ini, dan rasa senang telah membebaskan seseorang dari hambatan hidupnya.

Diantara peserta ada yang belum memiliki hambatan kesehatan, masih cukup sehat. Orang yang demikian, setelah menjalankan terapi, tidak melihat perubahan signifikan dalam segi kesehatan, karena memang masih sehat. Mereka mengatakan tidak merasakan perubahan apa-apa, tetapi biasanya mereka mengatakan: mereka jadi tidak mudah capek saat bekerja keras, saat mereka kerja lembur, saat mereka harus begadang sampai pagi, mereka merasa tidak mudah sakit, tenaga terus tersedia, seakan-akan tidak pernah kekurangan tenaga.

Ada 2 kasus ketidak-taat-an peserta mengikuti resep yang saya berikan, merupakan bentuk improvisasi yang salah:

Yang pertama terjadi di tahun 2012, BR usia sekitar 35 tahun, dia begitu terobsesi dengan terapi pete, dia sudah merasakan perubahan kesehatan, dan menemukan pertambahan unjuk kekuatan yang lumayan besar (stamina dan power) untuk kegiatan romantisnya … BR melakukan improvisasi atas inisiatifnya sendiri, dia makan buah pete dan minum air rebusan kulit pete di pagi hari sebelum sarapan! Beberapa hari dia lakukan itu, dan ternyata … perutnya kalah!!! Dia terpaksa pergi ke ahli kesehatan untuk mengobati maag-nya. Setelah sehat, BR protes ke saya, kenapa maag-nya jadi sakit!? Saya jelaskan kalau saya tidak pernah mengijinkan makan buah pete dan minum air pete di pagi hari terutama kalau hal itu dilakukan sebelum sarapan! Saya selalu memberikan informasi kepada setiap orang agar makan buah pete dan minum air rebusan itu dilakukan di siang hari atau malam hari … jelas setelah perut diisi makanan. Tidak di pagi hari, karena perut masih kosong!!!

Kasus kedua terjadi di tahun 2011, PM usia sekitar 60 tahun, seorang pedagang minuman di depan SMP 3 Manggarai. Saya tahu PM sudah berumur cukup tua, dan pasti mengalami penurunan kesehatan, jadi saya tawarkan terapi pete kepada PM. Seperti biasa, saya berikan resep terapi pete, saya tuliskan di atas kertas bagaimana menjalankan terapi, sehari 1 lanjar (lonjor, papan) direbus 2-3 menit. PM mengatakan, dia sudah cukup repot dengan kegiatannya berdagang minuman, setiap pagi dia harus belanja persediaan dan menyiapkan berbagai barang dagangan, dia mengajukan tawaran, bagaimana kalau setengah lanjar saja siang dan setengahnya lagi saat makan malam … saya tetap mengatakan, sebaiknya direbus! Ternyata itupun sulit untuk dia kerjakan, dia kembali menawar, dia bilang setengah lanjar mentah siang hari dan setengah lagi direbus malam hari … saya anggap itu masih cukup aman, setengah lanjar mentah di siang hari saat makan siang dan setengahnya lagi tetap direbus dan dimakan malam hari. PM menjalankan terapi dengan cara baru itu.

Saya yakin dia merasakan perubahan kesehatan, karena dia terus rajin menjalankan terapi dengan resep yang dimodifikasi itu.

Permasalahan baru muncul saat sekolah libur panjang. PM pun pulang kampung, dan di kampung dia melakukan improvisasi extrim. Disana pete tersedia banyak, dan dia begitu ingin mendapatkan kesehatan dan mempercepat proses, jadi dia makan pete mentah 3 kali sehari, pagi – siang – malam, 3 lanjar sehari! Setelah beberapa hari dia lakukan itu … perutnya kalah. Dia terpaksa di rawat di rumah orang sakit selama seminggu. Maag-nya akut. PM merasa itu kesalahan saya, memberikan resep yang salah.

PM tidak pernah memberitahu saya soal sakit maag itu, dia bercerita ke BR soal itu dan menyatakan itu salah saya yang memberikan resep yang salah. BR yang bercerita kepada saya, dan saya jawab, saya tidak pernah mengijinkan makan pete mentah dalam jumlah banyak, dan dalam resep yang saya berikan, paling banyak 1 lanjar siang dan 1 lanjar malam makan pete yang direbus 2-3 menit agar kekuatan pete itu diturunkan lebih dulu … bukan makan mentah 1 lanjar pagi, 1 lanjar siang dan 1 lanjar malam.

PM pasti sudah mendapatkan perubahan kesehatan pada saat dia hanya makan 1/2 lanjar siang dan 1/2 lanjar malam, dan dia ingin mempercepat proses dengan makan 3 lanjar perhari – mentah!

TRAUMA OTOT SARAF dan SENDI

Seorang teman, ZR, umur sekitar 58 tahun, berhasil menyembuhkan trauma otot (saraf) di lengan kiri, pinggul kiri dan engsel lutut kaki kiri. Dimasa SMA dia dulu atlet yudo dan mengalami kecelakaan dibanting keras dalam satu pertarungan sehingga sendi lengan ke bahu tergeser (mungkin lepas), pinggul kiri dan lutut kaki tergeser. Waktu itu dia ditangani seorang shinshe yang berhasil mengembalikan sendi, pinggul dan engsel lutut kiri itu. Setelah sembuh dia hidup normal, berjalan normal. bisa menggerakan lengan dan kaki kiri tanpa halangan, tetapi 4 tahun terakhir (sekitar 2009) dia mulai mengalami halangan untuk menggerakkan lengan kiri dan mulai berjalan pincang. Hari demi hari hambatan itu semakin parah, lengan kiri itu akhirnya tidak bisa digerakkan dengan bebas, terbatas dari posisi terbawah paling tinggi hanya sejauh 90derajat dan kalau dipaksakan lebih keatas dia merasakan ngilu yang sangat menyakitkan, dia bisa berteriak dan berkeringat dingin. 3 tahun lamanya dia merasakan hidup terasa begitu berat, begitu menyiksa. Untuk memakai dan melepas kemeja sudah penuh penderitaan, apalagi memakai dan melepas t-shirt (kaos) harus dibantu istri atau anaknya. Dia sudah mencoba berbagai metode pengobatan, dari dokter sampai ke dukun, uang habis sudah banyak, tapi jauh dari pulih malah hari demi hari rasa sakit itu semakin parah.

Kebetulan di tahun 2013 dia datang ke rumah, kami mengobrol panjang lebar dan saya bercerita tentang terapi pete yang bisa mengobati bermacam penyakit. Dia tidak suka makan buah pete, tapi ingin mencoba jadi saya anjurkan untuk minum air rebusan kulit pete saja.

Kebetulan salah satu tetangga rumahnya seorang pengusaha catering, yang kebetulan menyiapkan hidangan makanan berbahan buah pete, jadi dia minta kulit pete yang akan dibuang, gratis. Kemudian dia buat rebusan kulit pete 11 menit. Ternyata dia tidak tahan dengan rebusan 11 menit itu, dia tidak bercerita kalau punya gejala darah rendah. Hari pertama dia minum air rebusan 11 menit itu dia merasakan jantung berdebar keras, berkeringat dingin. Dia langsung menelpon saya, menceritakan keadaannya setelah minum air rebusan itu. Saya langsung tahu kalau dia punya gejala darah rendah dan benar adanya. Jadi saya anjurkan untuk merebus kulit pete itu selama 20 menit.

Dia minum air rebusan kulit pete 7X (7 hari berturut), hari ke-4/ke-5 lengan kiri mulai bisa digerakkan sampai 180 derajat dan setelah 7 hari, lengan kiri itu bebas lepas bisa digerakkan sampai ke belakang punggung, demikian juga dengan pinggang dan engsel lutut kiri … sembuh!

Dia bebas dari handicap yang pernah menjeratnya selama 3 tahun lamanya. Dia merasa mendapatkan kesempatan HIDUP BARU, hidup yang terbebas dari siksaan ngilu. Sekarang dia malah sudah ikutan makan buah pete tidak hanya minum air rebusan kulit pete.

PASKA STROKE

Satu teman, HR usia sekitar 62 tahun terserang stroke 2 kali dalam setahun di tahun 2013, dia ikut terapi pete, dan setelah sekitar 4 bulan rutin makan buah pete dan minum air rebusan kulit pete, dia memeriksakan kesehatannya di laboratorium, ternyata dia berhasil memperbaiki banyak hal, termasuk jantung dan ginjalnya telah pulih, dia sehat dan bertenaga tetapi satu hal yang belum berhasil diperbaiki, darah putihnya masih terlalu tinggi …

Bangkit dari lumpuh karena stroke:

Sejak sosialisasi sampai saat ini, sudah ada 3 orang yang berhasil bangun dari kelumpuhan akibat stroke, satu wanita usia 74 tahun, satu wanita berumur sekitar 70 tahun, dan seorang pria bernama Agustam berumur 60 tahun. Ketiga orang itu berhasil bangkit dari lumpuh dengan minum air rebusan kulit pete. Ke-dua wanita itu tidak mampu mengunyah buah pete yang cukup kenyal itu, jadi hanya diberikan air rebusan kulit pete. Si Agustam sebenarnya agak saya tipu sedikit, saya tawarkan air jamu dan tidak saya katakan kalau air di botol C-1000 itu adalah air rebusan kulit pete. Hari ke-2 dia sudah bisa duduk di kursi roda, hari ke-4 tangannya sudah bisa bergerak dan mengepalkan jari tangan, hari ke-7 dia mulai bisa berjalan perlahan. Baru pada hari ke-9 atau ke-10 saya extra menemui dia, saya katakan kalau air itu sebenarnya air rebusan kulit pete. Saat itu saya bawakan 4 lanjar pete dan buku resep terapi pete dan saya anjurkan untuk melanjutkan terapi. 3 minggu kemudian (April 2014) dia berjalan kaki menuju tempat pemungutan suara di TPS 021 tempat saya bertugas sebagai panitia.

BANGUN BERDUA, si OTONG BANGUN DULUAN

Terapi air pete mujarab untuk membangunkan si Otong, teman baik para pria. Ada banyak pengalaman terapi pete (air pete) terkait si Otong ini. Ada yang berhasil memperoleh kenaikan stamina & power sampai 3 kali lipat, sampai ada peserta pria yang dijuluki hypersex oleh istrinya setelah menjalankan terapi, nempel (bersentuhan) sedikit dengan istri langsung minta ditemani jalan jalan. Ada yang sebelum ikut terapi cuma berhasil mengukur prestasi 4X4 sebanyak 2 – 3 kali sebulan, setelah terapi meningkat mencapai 2 – 3 kali seminggu dan yang dijuluki hypersex itu mengukur rekor bisa setiap hari.

Tetapi pemecahan prestasi seperti diatas cuma bisa diperoleh peserta pria berumur dibawah 45 tahun. Buat yang diatas itu, peningkatan prestasi masih cukup lumayan, tetapi tidak sehebat para pria muda itu.

Buat yang lebih tua, mendekati usia 60 tahun, banyak yang sudah masuk dalam tahapan ‘perjuangan hidup’, untuk bisa hidup sudah susah banget, karena faktor umur, faktor penyakit seperti Diabetes mellitus yang menghambat kehidupan si Otong. Si Otong sudah tidur panjang. Tapi justru pada beberapa orang pada umur ini, dari rasa pasrah menerima keadaan itu, tiba tiba suatu pagi bisa bangun berdua bersama si Otong, sebuah pengalaman sensational.

  • pak Soleh, tahun 2012 berumur 67 tahun ikut terapi pete, dia bercerita bagaimana rasanya menjalani terapi pete. Hari ke-5 puff dan urine sudah tidak bau seperti yang sudah saya ceritakan, dan … ini yang menarik, dia cerita sejak hari ke-7 dia bangun pagi selalu berdua. Saya bingung juga dengan ceritanya waktu itu, apa maksud bangun berdua itu. Dia bilang, si Otong bangun duluan setiap pagi sejak hari ke-7. Saya tanya lagi, apa memang selama ini si Otong selalu tidur lelap … iya, kata pak Soleh.
  • pak Ulun, tahun 2013 berumur 61 tahun, dia datang diajak ZR silaturahmi ke rumah, dan saat makan siang saya perlihatkan cara memasak pete dan merebus kulit pete. Saya tawarkan 1 sloki (30-35 ml, sekitar 7 sendok makan) air rebusan kulit pete kepada pak Ulun, dia ragu-ragu dan terus berdalih agar tidak dipaksa minum air itu. Tapi menjelang pulang, sekitar jam 16 akhirnya dia mau meminum air itu. Keesokan pagi dia langsung menelpon ZR, teman yang mengajak dia ke rumah saya, pak Ulun bercerita bagaimana dia merasakan tidur nyenyak yang sebelumnya susah dia dapatkan … tetapi, kata pak Ulun ada yang tidak dia suka dengan air pete itu, pagi itu si Otong yang sudah belasan tahun tidur lelap ternyata bangun duluan!!! Itu yang dia tidak suka, katanya.
  • Seorang teman SMA, AH, umur sekitar 58 tahun setelah mendengar penjelasan langsung tertarik. Dia langsung menjalankan terapi air pete. Suatu siang dia mengirim SMS, mengatakan dia sudah minum air pete. Siang ke sore itu dia intensif berkirim SMS bertanya kapan reaksinya. Saya menjawab, baru juga siang ini minum, kok sudah berharap si Otong menjawab panggilan. Tunggulah sehari dua hari, atau beberapa hari, kan masih berproses. Ternyata keesokan paginya, dia sudah teriak di jaringan sosial media, dia bilang pagi ini sudah bangun berdua! Si teman bersitegang dan bersikeras! Hebat, pasti sensational untuk pria seusia itu mendapatkan keadaan ini, sampai heboh begitu.

Dengan bangun berdua, dan kembali aktifnya si Otong tidak selalu mendatangkan kegembiraan bagi pria se-usia tersebut diatas. Mereka mempertimbangkan kondisi pasangan mereka yang biasanya sudah se-umur-an, terus gimana? Inilah salah satu alasan beberapa teman pria se-usia itu tidak suka akan kehadiran si Otong dalam kehidupan mereka, mau apa lagi!?

Ada beberapa tahapan kehidupan si Otong:

  • bayangan hidup, bagi pria muda, baru membayangkan saja sudah hidup,
  • pandangan hidup, pria muda, saat melihat yang sesuai, sudah bisa hidup,
  • pegangan hidup, sudah agak lebih tua, membayangkan atau melihat saja masih belum bisa hidup, harus disentuh baru bisa hidup,
  • perjuangan hidup, sudah cukup tua, untuk bisa hidup harus berjuang keras, ada yang memaksakan diri minum obat khusus untuk menghidupkan, terutama yang masih ingin keintiman.

Menurut majalah pria dewasa, Penthouse Jerman edisi September 2007, 50% pria usia 20-30 tahun, sudah mencapai tahapan perjuangan hidup! Untuk bisa hidup harus minum obat khusus untuk itu. Akibat gaya hidup, makanan cepat saji (fast food), stress, penyakit gula, dlsb.

Selain itu, penderita Diabetes mellitus saat ini juga semakin muda, ada yang belasan tahun sudah terpapar penyakit ini, dan saya lihat di internet, anak-anak di India sudah mulai periksa darah untuk mengetahui kadar gula mereka, mengetahui sedini mungkin.

Buat pria yang sudah diatas 50 tahun, bisa berada di tahapan perjuangan hidup, karena kekurangan testosteron, rasa ingin itu muncul tetapi si Otong tak bergairah. Untuk itu, air pete ini tidak begitu saja bisa membantu, perlu ada doping testoterone dengan mengkonsumsi terong ungu atau semangka berbiji. Maaf, untuk hal ini tidak saya taruh di Misteri Pete, tetapi ada di buku Terapi Pete. Silahkan download bukunya, cari dengan Google dengan kata kunci “terapi pete”, pilih blog saya, disana ada 5 buku, ambil yang buku Terapi Pete yang full.

TIDAK SEMBUH DENGAN OBAT BIASA, BISA DENGAN TERAPI PETE

Seorang ahli kesehatan yang sudah cukup senior pada awalnya membantah keras kemampuan pengobatan dengan terapi pete, tetapi dia punya sakit maag yang tak kunjung sembuh. Akhirnya, berbekal buku resep dari istrinya yang didapatkan dari ZR, sang ahli itu mulai memasak pete sendiri, meski terbata-bata toh akhirnya dia berhasil mengatasi penyakit yang sudah lama dia derita. Sang istri bercerita kepada ZR kalau suaminya telah ikut terapi pete … tetapi jangan membahas hal ini, sang suami bisa marah besar. Sang ahli kesehatan senior itu tetap tidak mau mengakui di depan umum, dia cuma mengatakan kepada ZR: “… jangan bahas soal itu lagi, nggak penting!”.

Adi seorang teman tinggal di Bogor, dia berhasil meyakinkan seorang Professor ahli kesehatan agar ikut terapi pete untuk menyembuhkan hipertensi. Sang Professor setelah beberapa hari hanya bilang …. “kok begitu sederhana!?”. Dia berhasil mengatasi hipertensinya dalam waktu singkat, murah dan mudah … sederhana saja. Selain sang Professor, dia berhasil meyakinkan 2 orang ahli kesehatan lainnya. Menurut Adi, sang Professor berjanji akan meneliti pete dan akan memberikan informasi tentang hal itu.

PENYAKIT RAJASINGA

Ada peserta yang mengatakan dirinya sembuh dari penyakit ‘si raja singa’, pengobatan penyakit itu berjalan mulus tanpa dia sadari dan ternyata dia bebas setelah beberapa lama menjalankan terapi pete … sebelumnya dia harus berkunjung ke ahli kesehatan dan setiap minggu dia harus mengeluarkan biaya 500 ribu rupiah, dan setelah kehabisan dana toh tidak sembuh, dia beralih ke terapi pete …. dia sembuh tanpa disadari.

WARISAN LELUHUR

Adi berhasil menemukan informasi lebih jauh tentang pete. Dia cerita tentang pertemuannya dengan seorang wanita berumur 90 tahun yang begitu gembira mendengar terapi pete ini, sang nenek pun bercerita kalau penggunaan pete untuk kesehatan itu merupakan warisan leluhur dan saat sang nenek masih kecil sudah mendapatkan wejangan (nasihat) dari neneknya, tentang pete dan berbagai manfaatnya untuk kesehatan dan perawatan tubuh.

MEREBUS PETE MENGGUNAKAN KENDIL TANAH

Merebus pete bisa menggunakan mug (10, 12 cm), panci atau kendil tanah berikut tutupnya agar penguapan bisa dibatasi.

Teman dari seorang teman menganjurkan menggunakan kendil tanah liat, karena mug besi atau panci besi apalagi yang memiliki lapisan teflon akan mempengaruhi khasiat pete atau air rebusan pete yang akan berinteraksi dengan bahan besi / teflon tersebut. Saran yang masuk akal, jadi saya beli kendil di Slawi Tegal saat saya dan keluarga liburan ke Guci.

Ternyata penguapan yang terjadi saat merebus pete di kendil itu bisa dikurangi, dan besaran api kompor gas yang besar itu bisa ditahan oleh tanah liat sedemikian rupa dan hal inilah yang mengurangi penguapan itu. Saat merebus menggunakan mug atau panci, kita harus mengecilkan api kompor sekedar cukup panas untuk mendidihkan air rebusan saja. Pada kompor yang cukup bagus, besar-kecilnya api bisa diatur sedemikian rupa, tetapi pada kompor-kompor yang tidak cukup presisi, besaran api itu tidak bisa disetel pas tepat pada suhu pendidihan, sehingga pergolakan air akan terjadi cukup keras dan penguapan terjadi cukup cepat, meski mug atau panci itu ditutup. Pada kondisi seperti itu, kendil memberi solusi yang cukup baik. Api yang besar tidak membuat pergolakan keras, penguapan bisa dikurangi.

Banyak peserta mengeluhkan jumlah air rebusan yang tersisa, mungkin karena mereka menggunakan panci tidak bertutup, atau bisa saja pancinya terlalu luas, atau kompornya tidak bisa disetel agar apinya cukup kecil sekedar membuat rebusan itu mendidih. Untuk mengatasi masalah penguapan yang berlebihan itu, sebaiknya memasak menggunakan kendil tanah. Cari yang ukuran sedang berdiameter sekitar 15 cm, tinggi sekitar 15 cm berikut tutupnya.

CELL REGENERATIVE

Dari penelusuran di internet, ada satu kemampuan pete yang cukup penting untuk diketahui, yaitu ‘Cell Regenerative’ sebuah kemampuan untuk meregenerasi sel-sel tubuh, memperbaiki fungsi organ tubuh, memperbaiki trauma otot atau sendi dan ternyata benar adanya dan itu saya buktikan sendiri, dan banyak peserta lainnya,

Kemis, 22 Januari 2015, 22:51 diupload ke PT4L

* * *

Tambahan u/ “#8 Keberhasilan Terapi Pete”:

Buah pete yang dimakan akan bekerja membersihkan sistem pencernaan, sementara air pete yang diminum akan langsung disalurkan ke peredaran darah, dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Karena penumpukan TPD (Toxin, Poison dan Dirt) itu terjadi di sistem pencernaan, maka lebih afdol kalau peserta terapi memulai dengan makan buah pete lebih dulu, atau bersamaan dengan minum air pete. Kalau hanya minum air pete, proses pembersihan itu tidak tuntas, tidak menyeluruh, meski memang air pete yang diminum itu bisa langsung beredar ke seluruh tubuh, dan dalam hitungan detik bisa langsung merubah kondisi (status) organ tubuh, tetapi tetap tidak tuntas, tidak sempurna pembersihan itu, karena TPD itu masih bertumpuk di sistem pencernaan, tanpa makan buah pete, maka tumpukan TPD itu tetap ada, dan setiap kali akan kembali disalurkan ke darah dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Memang, saya tidak bisa memaksakan kehendak saya agar setiap peserta menjalankan Terapi Full, makan buah pete dan minum air pete. Itu keputusan atau kehendak pribadi setiap orang, dan hal ini bisa dimaklumi, karena banyak orang tidak suka buah pete. Maka dari itu saya berikan solusi untuk hanya menjalankan terapi air pete.

Ada banyak peserta yang pada awalnya hanya berani minum air pete, dan setelah mereka menemukan manfaat terapi (air) pete ini, mendapatkan perubahan drastis dalam kesehatan mereka, kemudian mereka malah berani makan pete, menjadi doyan pete, yang sebelumnya anti pete, menjadi getol makan buah pete dan minum air pete.

Memang itulah strategi saya, berikan saja kemungkinan untuk menjalankan terapi (air) pete, nanti setelah merasakan perubahan kesehatan, saya berharap peserta itu berani makan buahnya juga. Berhasil juga sih stategi itu, ada banyak yang akhirnya berani makan buahnya walau sebelumnya sangat anti pete.

Jumat, 23 Januari 2015, 15:04 diupload ke PT4L

* * *

Terapi pete untuk Diaree dan Chikungunya

Selain beberapa penyakit umum yang bisa dibantu-sembuhkan, seperti asam urat cs, hipertensi, Diabetes mellitus, dkk itu, saya sudah menguji buah pete untuk mengatasi serangan diaree dan juga penyakit Chikungunya.

Buah pete untuk menyembuhkan diaree

Khusus untuk menangani diaree, ambil 4 butir mentah buah pete, kunyah sampai halus agar bercampur dengan air liur, kemudian telan sekaligus pete yang sudah lumat itu. Rasakan sendiri bagaimana si pete berperang melawan bakteri diaree, feel it! Test it, taste it.

Kalau diaree itu agak bandel, setelah 3 – 4 jam biasanya diaree kembali lagi, lakukan sekali lagi, ambil 4 butir mentah pete, kunyah dan telan. Ada beberapa serangan diaree cukup dengan 2 kali makan pete, tetapi yang parah sekali, dengan 3 kali makan pete dengan jarak 3 – 4 jam berhasil menghentikan serangan diaree.

Kenapa tidak sekaligus 1 lanjar pete mentah?

Saya tidak berani, kekuatan 1 lanjar pete itu terlalu kuat, tetapi lain waktu kalau saya terserang diaree lagi, akan saya coba dengan 1 lanjar pete mentah. Coba coba dan coba coba, hasilnya nanti saya lepas lagi disini. Atau ada yang mau mencobanya sendiri, silahkan saja.

Uji coba menggunakan pete mentah dengan cara diatas sudah saya lakukan sebanyak 5 kali. Sebelum 2014 ada 3 kesempatan uji coba, di tahun 2014 ada 2 kesempatan. Saya berhasil bebas dengan mudah dari diaree.

Rasanya, cara pengobatan ini tidak hanya untuk diaree, tetapi bisa juga untuk menghadapi MUNTABER. Tapi saya belum pernah mendapatkan kesempatan terpapar muntaber, malah berharap tidak pernah terpapar . . . kalau ada yang mau mencoba, silahkan.

Terapi pete untuk menyembuhkan Chikungunya

Anak saya yang pertama, dia sering minum air pete, dia tidak suka makan buah pete.
Di bulan September 2014 dia terkena serangan demam kemudian muncul bintik-bintik di kulit hampir di seluruh tubuh setelah pulang berlibur. Saat awal demam saya kira itu DBD, saya buatkan ramuan air jambu biji, tetapi setelah muncul bintik-bintik di kulit, saya curiga itu adalah demam chikungunya. Saya suruh dia minum air pete sehari 2 kali dan saya haruskan makan buah pete agar lebih cepat sehat.
Dia siapkan sendiri buah pete sedemikian rupa, 10 butir buah pete di-potong-potong kecil jadi saat dimakan terasa seperti makan kacang tanah. 2 hari dia demam, kemudian bintik-bintik di tubuh perlahan menghilang, hari ke-3 dia sudah masuk kerja meski bintik-bintik itu masih ada, terapi berjalan terus, makan buah pete dan minum air pete. Hari ke-5 dia sehat.
Sejak itu dia sering makan buah pete dengan caranya sendiri. Dan sejak Desember 2014, dia sudah berani makan pete tanpa dipotong potong lebih dulu. Dia sudah menyukai buah pete.

Sederhana saja untuk mengatasi diaree dan chikungunya.

Sabtu, 24 Januari 2015, 14:54 diupload ke PT4L

8 thoughts on “#8 Keberhasilan Terapi Pete

  1. Assalamualaikum pak bambang….saya hanya ingin testimony aja….saya asam lambung sudah 2 tahun, udah sering bolak balik ke dokter, saking pengen sembuhnya saya udah coba datang ke 9 dokter ga kehitung brp kali, sampe di rawat di rmh sakit 2 x dan sering masuk UGD pake oxygen karena sesak nafas….karna asam lambung nafas jd pendek2…kl minum air segelas aja udah sesak, cuci piring berdiri asam lambung naik perut sakit jd sesak, kaget dikit sesak, kesel dikit sesak, ngomong kencang dikit sesak….pokoknya saya menderita bgt dech…lalu ada teman share di group mengenai artikel bapak, karna pengen sembuh jd saya mencobanya tp air rebusan blm saya coba…subhanallah baru 1 kali saya makan buat petai hanya malam saja karna saya puasa, bsk paginya perut saya bagian ulu hati udah ga sakit lagi dan asam lambung saya udah hilang sampe sudah seminggu ini, pdhal paginya saya dari dokter dikasih obat asam lambung tp saya ga minum karna saya mau mencoba therapy petai… malam kedua saya makan petai lagi dan bsk paginya nafas saya terasa panjang kembali …alhamdulillah subhanallah…sampe nangis saya ngetik ini pak saking senengnya terbebas dari asam lambung…asam lambung itu diatasnya sakit maag jd agak susah obatnya tp karna therapy petai alhamdulillah saya jadi sehat kembali….terimakasih pak umar madi indogrosir atas share nya…..terimakasih banyak rrpak bambang atas penelitiannya sehingga saya bisa terbebas dari asam lambung…terutama terimakasih padamu Ya Allah yang telah menyembuhkan hamba dari asam lambung ini….karna Allah kemudian melalui pak bambang saya diberi kesehatan kembali…semoga pak bambang beserta keluarga selalu diberi kesehatan, kebahagian dan kesuksesan lahir bathin dunia akherat…aamiin

    1. Salam sejahtera ibu R Siti Jumiati …
      Saya ikut bergembira atas keberhasilan ibu menghadapi asam lambung.
      Semoga ibu sehat selalu
      Terima kasih atas doanya … amin
      Salam …

  2. Saya mulai mencoba terapi pete seperti di blog bpk 1 bulan yg lalau. Tp tdk rutin. Krn sering pergi ke luar kota dan terputus terapinya. Sy tertarik karena gula darah sy tinggi. Sebelumnya sy mengikuti terapi lain dan gula darah sy dibawah 300 terus. Karena sy membaca terapi pete ini bisa pembersihan secara menyeluruh, sy ganti dengan terapi pete. Masalahnya sekarang ini kenapa gula darah sy tinggi terus ya pak? Dan ciri utama yg sy rasakan kalau gula darah sy tinggi, sendi2 kaku.. sy jd takut mau nerusin..Mohon penjelasan., Sy terkena masalah gula darah sdh 12 th..

  3. Mau tanya , utk menyembuhkan asam lambung apa sama dengan mengobati sakit mag? Mohon pencerahan nya.

    1. Sama … rebus pete-nya jangan 2 menit, tetapi 3 – 4 menit … jumlahnya boleh dikurangi sedikit … cobalah.

  4. Oh ya pak kalo utk maag atau luka lambung itu petenya brp lanjar dan airnya jg brp byk ya serta lamanya masak brp menit. Minumnya brp Kali dan selama brp hari ya.( nyun sewu pertanyaanya borongan)

    1. Adhe, untuk maag itu sama saja, masak air 200 ml sampai mendidih, saat mendidih itu, masukkan pete 1 lanjar (potong potong sesuai besaran panci/mug/kendil), rebus selama 3 menit … setelah 3 menit, matikan api, keluarkan pete dari panci itu, keluarkan buahnya dari kulit … lalu gunting gunting kulit itu, masukkan ke air tadi, rebus lagi selama 20 menit.

      Buah pete dimakan saat siang / malam, air pete boleh diminum setelah makan siang atau makan malam, hanya sekitar 5 SDM (sendok makan) sekali minum … lakukan selama seminggu berturut … setelah itu bebas, tentukan saja sendiri, mau lanjut atau dijeda jeda.

      Semoga membantu …

Leave a Reply to bambangbaktiCancel reply