Menuju Revolusi Mental
Sewaktu kampanye, pasangan itu membawa slogan ‘Revolusi Mental’, slogan itu begitu menghipnotis banyak orang termasuk saya yang terkagum kagum akan pandangan mereka yang begitu ‘futuristis’ itu. Saya tidak mau sekedar berharap, saya ingin hal ini benar dilaksanakan. Untuk itu saya coba membuat Brainstorming soal Revolusi Mental.
Brainstorming:
- 1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan.
- 2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?
- 3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?
- 4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?
- 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
- 6) Apa saja yang akan dilakukan?
- 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
- 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
- 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
- 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
- 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?
- 12) Apakah hanya warga Indonesia yang perlu menjalankan revolusi mental? Bagaimana dengan warga Alien itu?
Saya akan posting pemikiran (analisa) saya soal revolusi mental, semoga tulisan ini bisa memicu terjadinya revolusi mental secara nyata, bukan sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’ yang kemudian dilepas ke langit … terlihat bagus saat di daratan, kemudian balon dilepas, terbang tinggi ke langit, tertiup angin, perlahan hilang dari pandangan dan semua orang melupakannya.
Semoga ada banyak orang mau ikut ‘urun rembug’ membahas masalah revolusi mental ini. Berikan komentar, masukan, pertanyaan, pernyataan, tetapi tolong dalam bahasa yang santun, usahakan dalam kalimat ‘positif’ jangan yang negatif, jangan sebut nama tetapi gunakan INITIAL atau berikan penyamaran untuk orang itu.
Saya bertanggung jawab atas artikel yang saya tulis, dan penulis komentar, masukan, pernyataan bertanggung jawab atas tulisannya masing masing.
Maaf, untuk komentar yang terlalu vulgar akan saya remove (buang).
Kecuali pertanyaan, seburuk apapun kalimat yang dimaksudkan hanya sebagai pertanyaan akan saya biarkan, tetapi pertanyaan vulgar yang dicampur dengan pernyataan yang vulgar akan saya remove.
* * *
1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan
Joko Widodo dilantik sebagai presiden RI ke-7 pada tanggal 20 Oktober 2014. Waktu telah bergulir dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan demi bulan tanpa disadari. Kita tidak sadar bahwa dari sejak hari pelantikan itu sampai dengan hari ini (24 April 2015) sudah 6 bulan 4 hari berlalu. JKW-JK sudah 6 bulan lebih berada di tampuk kepemimpinan di republik ini. Apakah yang sudah dilakukan JKW-JK?
Saya melihat banyak perubahan yang dilakukan mereka dalam 6 bulan itu, seperti masalah kelautan yang terlihat ada perubahan besar, atau masalah kartel migas yang terlihat telah di-PHK (putus hubungan kerja), dan ada banyak hal lain lagi. Saya tidak akan membahas soal ekonomi, soal keuangan, sosial, dlsb, karena hal hal itu tidak akan bisa diukur oleh orang awam seperti saya. Penilaian atas unjuk kerja bidang bidang itu sifatnya relatif, ada yang bilang sudah terlihat perubahan, yang kontra akan mengatakan tidak ada perubahan. Saya yakin perubahan ke arah positif dalam beberapa hal tersebut tidak akan terlihat dengan jelas dalam waktu 6 bulan karena itu bukanlah pertunjukan sulap sim-salabim yang bisa berubah begitu saja, masih perlu waktu untuk membuktikan kebenaran unjuk kerja mereka. Untuk itu saya siap menunggu.
Saya ingin membahas satu hal yang sangat penting yang telah mereka sebutkan dalam masa kampanye mereka (JKW-JK) yaitu “REVOLUSI MENTAL”. Mereka berdua telah berhasil menggapai kursi kepresidenan dan kursi wakil presiden dengan slogan “Revolusi Mental” yang dikumandangkan selama masa kampanye mereka.
Perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa memang menjadi harapan banyak orang. Rakyat begitu terpesona dengan slogan “Revolusi Mental” ini, mereka menginginkan perubahan dalam banyak hal, dalam perubahan mental para pamong yang seharusnya memomong rakyat, perubahan mental para pejabat yang seharusnya memanage berbagai permasalahan negara untuk kepentingan rakyat bukan untuk pemenuhan nafsu perut dan nafsu bawah perut para pejabat itu sendiri, perubahan mental dari budaya korupsi menjadi budaya orang jujur, perubahan mental dari para aparatur negara yang seharusnya menjaga keamanan negara, yang menjaga kehidupan rakyat dan bukan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara, dll … begitu banyak orang menginginkan revolusi mental benar terjadi, termasuk saya yang juga berharap akan adanya perubahan karakter bangsa dari ‘buruk ke baik’.
Benarkah program itu berjalan!? atau hanya sekedar jargon saat kampanye!?
Benarkah JKW-JK akan melakukan Revolusi Mental? Atau sekedar menyebutnya di saat kampanye dan sekarang setelah 6 bulan, rakyat sudah kembali tenggelam dalam rutinitas kehidupan nyata yang penuh permasalahan, begitu beratnya kehidupan dihempas oleh naik turun harga BBM, tenggelam dalam pemberitaan oknum yang menyebut dirinya bukan ‘penegak hukum’, bukan ‘pejabat negara’ agar terlepas dari status ‘tersangka’ dan orang itu akhirnya tetap dilantik sebagai wakil pimpinan tertinggi pamong keamanan sipil, mungkin rakyat diharapkan sudah mulai lupa dengan slogan itu. Orang lain boleh mulai lupa, tetapi saya tidak bisa melupakan hal penting ini, apalagi setelah pemerintahan berjalan 6 bulan, belum juga terlihat suatu gerakan terkait Revolusi Mental? Memang ada berita berita seperti penggelontoran 149 miliar rupiah untuk Revolusi Mental, tetapi apa yang akan diproses, apa yang akan direvolusi, bagaimana prosesnya, siapa dst … itu belum pernah disosialisasikan, bahkan Visi dan Misi Revolusi Mental yang katanya ada 28 paragraf belum saya dapatkan.
Revolusi mental inilah yang ingin saya bahas dalam tulisan saya.
Lho … kenapa harus ada perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa?
Apa benar si mental dan si moral itu telah terbenam di dalam lumpur yang begitu kotor?
Sudah begitu kotor, bau, jelek, ruwet, sehingga perlu dilakukan pembenahan, pembersihan, pencucian, pertukaran menjadi sesuatu yang bersih, wangi, mulus, dan bagus?
9 April 2015 yang lalu, seorang keturunan BK didalam pertemuan kelompok mereka di Bali telah mengobarkan semangat revolusi, seakan akan inilah yang dikehendaki oleh BK, seakan akan inilah jalan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, dimana rakyat apalagi pendukungnya diharuskan merubah diri, menyesuaikan diri, memperbaiki diri, dst.
Inilah bagian dari pidato dari sang keturunan BK itu:
“Revolusi mental melahirkan jiwa yang hidup, berkarakter, disiplin, penuh percaya diri, dan unggul dalam kualitas kehidupan. Republik Rakyat Tiongkok dan Singapura memberi contoh. Mereka membangun manusia yang berwawasan luas, berdisiplin, dan memiliki kepercayaan total dengan pemimpinnya sendiri,” …
“Nation building membutuhkan bantuan revolusi mental. Karena itu adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah! Ya, Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa. Bangkit dan bergeraklah kembali ke cita-cita nasional. Bangkit dan geraklah ke arah kesadaran cita-cita sosial. Bangkit dan geraklah menjadi manusia baru yang bekerja, berjuang, berbakti, berkorban guna membina bangsa dan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita nasional dan sosial itu, yakni cita-cita Proklamasi. Buanglah segala kemalasan, buang segala ego sentrisme, buang segala ketamakan. Jadilah manusia Indonesia, manusia pembina, manusia yang sampai ke tulang sumsumnya bersemboyan satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita,” …
Apakah si pembicara itu tahu benar ada sesuatu yang salah begitu fatal dengan mental bangsa, ada yang sangat tidak benar sehingga harus mengambil langkah cepat (revolusi), apakah dia tahu bagaimana caranya, adakah dia menggambarkan langkah langkah yang harus diambil oleh pemerintah, langkah apa, bagaimana, kapan, dst. Atau sekedar euphoria saja. Revolusi revolusi … Kok seperti pedagang keliling yang sedang menjual ember plastik: “… brak, brak … ember plastik anti pecah … brak, brak … ember plastik anti pecah”, atau seperti pedagang kaki lima di trotoar yang sedang menjual sisir plastik: “… sisir anti patah, anti patah!” sambil menekuk nekuk sisir itu sedemikian rupa.
Atau mungkin hal itu cuma sekedar jargon seperti video-clip pedagang minuman soda dari Amrik itu: “Yang penting SEMANGAT!”, padahal tidak tahu apa yang akan di-semangat-i, sangat mirip dengan slogan “Revolusi Mental”, hanya sekedar jargon padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, tidak tahu kenapa kita harus mengambil langkah cepat (revolusi) itu, tidak tahu dimana letak kesalahan yang ada, tidak tahu bagaimana memperbaikinya: “Yang penting semangat!!!” alias “Yang penting Revolusi!!!”.
Masih lebih bagus pesan yang disampaikan iklan minuman soda dari Amrik itu, yang penting semangat, agar orang orang bersemangat dalam segala hal, saat bekerja, dalam berkarier, saat menuntut ilmu, dalam perjalanan, saat berolahraga, saat menghadapi halangan rintangan, mungkin penuh semangat saat minum minuman soda itu, atau bersemangat dalam hal hal lain. Iklan itu masih cukup berhasil, cukup sukses karena kata ‘semangat’ memang bisa digunakan dalam banyak hal … tetapi REVOLUSI!? Tidak bisa orang menggunakan kata ‘revolusi’ begitu saja, tidak bisa seenak udel-nya sendiri mengucapkan “Mari kita revolusi!” padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, begitu juga dengan kalimat ‘Revolusi Mental’, kalimat dengan 2 kata ini begitu menyesatkan banyak orang, begitu menghipnotis banyak orang sehingga banyak orang terpengaruh untuk ikut mencoblos pasangan itu, karena ada dalam diri banyak orang keinginan untuk menemukan perubahan dalam kehidupan berbangsa bernegara yang saat ini terlihat begitu ambur-adul.
Jangan sampai ada orang orang yang mengobarkan semangat ‘Revolusi Mental’ padahal sebenarnya cuma sekedar mengobarkan semangat saja, mengobarkan semangat untuk berteriak ‘Revolusi Mental’, padahal tidak tahu apa apa soal ‘Revolusi Mental’ itu! Mungkin orang orang itu baru minum minuman soda penuh semangat sehingga begitu bersemangat untuk melantunkan kalimat 2 kata itu. Apakah orang orang itu tahu apa yang dimaksudkan dengan ‘Revolusi Mental’!? Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu?
Bisa saja orang yang mengobarkan semangat revolusi itu malah harus me-revolusi dirinya sendiri lebih dulu, karena dia sudah rusak lebih parah, dan sebenarnya dia telah membiarkan segala kerusakan terjadi selama ini!? Atau dia adalah bagian dari kerusakan selama ini!?
Atau kalimat 2 kata itu cuma sekedar propaganda seperti di negeri komunis!? Hanya sekedar kalimat penuh daya sihir (hipnotis) agar para pendengar terpesona dengan pidatonya itu.
Pesan dari tulisan ini:
Jangan cuma bisa teriak ‘Revolusi Mental’ padahal tidak tahu apa apa, tidak tahu IST dan SOLL dari kalimat 2 kata itu.
* * *
IST dan SOLL
IST adalah keadaan saat ini, SOLL adalah suatu keadaan yang ditargetkan, yang dituju, yang diinginkan.
Keadaan saat ini bisa menjadi landasan perencanaan menuju ke masa depan:
- Dari keadaan (IST) yang sangat buruk menjadi keadaan masa depan (SOLL) yang lebih baik walau hasil akhir sebenarnya masih buruk tetapi tetap terlihat ada perubahan dari sangat buruk menjadi kurang buruk. Pencapaian dari sangat buruk menjadi kurang buruk sudah memberikan kemajuan, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi makan dua kali sehari @ setengah piring nasi putih dengan garam. orang tahu keadaan IST yang sangat buruk itu, dan mungkin saja SOLL yang ditetapkan sudah sampai ke tahap 3 kali makan lengkap, tetapi hanya berhasil meningkatkan sampai ke 2 kali makan nasi dengan garam itu.
- Dari keadaan yang sangat buruk menjadi keadaan yang sangat baik, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi tiga kali sehari @ sepiring penuh nasi lengkap dengan lauk pauk ‘4 sehat 5 sempurna’ merupakan perencanaan dan perubahan yang sangat bagus, sempurna, istimewa, dan bisa jadi hanya sekedar impian, mimpi! IST-nya begitu buruk, SOLL yang ditetapkan bisa jadi sudah cukup tinggi, dan ternyata berhasil mencapai lebih dari yang direncanakan.
Tahukah kita IST dari ‘Revolusi Mental’ itu?
Tahukah kita SOLL dari ‘Revolusi Mental’ itu?
Tahukah kita apa saja yang akan dilakukan dari kondisi IST sampai mencapai kondisi SOLL itu?
Atau hanya sekedar mampu berteriak: “Kita harus menjalankan Revolusi Mental!!!”!?
* * *
2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?
Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘Revolusi Mental” itu?
Apa arti dan maksud 2 kata ‘Revolusi’ dan ‘Mental’ itu?
Rasanya saya belum pernah mendengar kedua hal itu dijabarkan dengan pasti, oleh presiden Jokowi atau oleh wakil presiden Jusuf Kalla ataupun oleh tim kampanye mereka. Sampai hari ini saya belum mengerti apa yang mereka maksudkan dengan revolusi mental itu, belum juga diketahui ada satu keadaan yang begitu penting, begitu berat sampai harus ada sebuah revolusi meski itu revolusi mental dan bukan revolusi fisik. Lalu, mental itu apa?, mental siapa yang begitu rusak atau begitu terbelakang?, apakah mental rakyat atau mental pejabat atau mental pemimpin yang rusak dan terbelakang itu? Bisakah ditampilkan yang mana saja, siapa saja yang rusak dan terbelakang itu!?
Kenapa harus ada revolusi mental ini?, sampai sejauh mana kita perlu melakukan revolusi mental?, lalu apa saja yang akan dilakukan?, siapa saja yang perlu digarap (harus ikut merevolusi mentalnya)?, siapa yang menggulirkan revolusi itu?, kemudian batasan (tujuan, hasil) akhir apa yang menggambarkan revolusi mental itu telah sukses?, apa faktor faktor yang menggambarkan revolusi itu telah sukses 100%?, berapa lamakah revolusi mental ini akan dijalankan sampai 100% itu tercapai?, berapa tahapan revolusi mental itu? … ada banyak pertanyaan lainnya terkait revolusi mental ini.
Pemerintahan ini sudah berjalan 6 bulan, tidak ada seorangpun di antara mereka yang memberikan penjabaran tentang revolusi mental ini. Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu???
* * *
Kembali ke IST dan SOLL
Diperlukan keberanian, kejujuran dari seorang pemimpin untuk mengatakan inilah IST kita saat ini. Jabarkan dimana keadaan IST yang begitu buruk, berapa banyak yang terlihat buruk, siapa saja yang terlihat buruk, dimana letak keburukan itu sampai kita perlu melakukan perubahan cepat. Akui dulu keadaan buruk yang ada saat ini seperti contoh berikut:
- banyak orang makan hanya sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam, atau
- membuka rahasia yang selama ini ditutup tutupi bahwa bangsa ini dari segala SDA yang diserahkan ke pihak ALIEN itu hanya menerima bagian dalam bentuk ROYALTI sebesar 1%, sudah berjalan 40 tahun lebih, dan itupun tak terbayarkan (mereka tidak selalu membayar!), atau
- kita tampilkan bagaimana perangai orang banyak di jalanan, ada yang makan di jalan, minum di jalan, olahraga di jalan, bermain di jalan, pesta di jalan, upacara di jalan, ritual agama di jalan, aak di jalan, pipi di jalan, dst, atau
- perlihatkan rekaman orang orang yang melanggar peraturan di jalan, melawan arus, anak anak dibawah umur membawa kendaran, pembiaran pelanggaran oleh oknum keamanan, oknum penuh keistimewaan yang melakukan pelanggaran, atau keluarga oknum yang melakukan itu, dst, dlsb, atau
- tunjukkan IST buruk lainnya. Harus ada sesuatu yang begitu buruk sehingga kita perlu menjalankan ‘Revolusi Mental’! Tidak bisa kita diam seribu bahasa seakan akan tidak ada hal hal buruk yang menjadi dasar pencetus ‘Revolusi Mental’. Atau hanya sekedar melepas balon besar berisi angin ke udara bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?
Adakah orang orang yang berteriak ‘lakukan Revolusi Mental’ itu mengerti IST saat ini, dan orang itu mau membukakan IST saat ini, mau mengakui IST saat ini, mau mengungkapkan dengan jujur apa yang sudah dan sedang terjadi!? … sehingga keadaan saat ini terbentuk seperti itu.
Kalau sudah berani mengatakan “Perlu perubahan cepat” maka orang itu sudah seharusnya tahu apa yang akan dirubah, sudah tahu IST saat ini yang buruk, harus bisa (berani dan jujur) mengatakan dimana keburukan itu ada, dan dengan terbuka menyatakan inilah keadaan buruk saat ini yang harus dirubah, harus diganti, harus diperbaiki, harus direformasi, harus direstorasi, harus di-revolusi. Jangan hanya menggelar kampanye akan melakukan revolusi mental, sekedar menina-bobokan sebagian orang akan adanya perubahan besar dan cepat, sekedar menghipnotis sebagian orang yang tidak suka akan keadaan saat ini yang menginginkan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, dan atau sekedar kata manis penuh janji surga belaka, sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?!? Sekedar slogan, jargon, atau propaganda?
Sebagai seorang pemimpin negara seharusnya berani menentukan SOLL yang akan dicapai. Kalau orang itu tahu akan IST yang ada maka orang itu bisa menggunakan keadaan ini untuk merencanakan SOLL masa depan bangsa dan negara. Apa sajakah SOLL itu!?
Dia tidak bisa begitu saja mengatakan SOLL yang akan dicapai tanpa pengetahuan IST yang ada, jangan sampai SOLL yang ditampilkan itu kembali seperti balon besar berisi angin bertuliskan ‘SOLL yang akan dicapai’!
Seorang calon pemimpin bisa saja naik ke singgasana tanpa janji apa apa, hanya sekedar memperlihatkan kepiawaian dirinya selama ini, tidak perlu janji janji manis, hanya karakter penuh semangat, penuh kejujuran, keberanian, ketegasan dst. Orang seperti ini pasti berani menentukan sikap, berani mengatakan suatu ‘goal’ yang akan dicapai dalam kepemimpinannya dan keberaniannya itu didasarkan pada pengalaman dia dalam bidang yang dia geluti. Orang seperti itu tidak perlu suatu slogan aneh untuk mendapatkan kursi kepemimpinan, apa yang dia tawarkan pasti suatu goal realistis yang pasti.
Lain halnya dengan pasangan yang sudah berani menggunakan slogan ‘Revolusi Mental’ yang begitu mempesona dan menghipnotis banyak orang. Ini sebuah kalimat 2 kata yang sangat penuh makna, tidak sekedar melepas balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’. Pasangan yang punya slogan ini seharusnya punya visi masa depan (SOLL) yang sangat cemerlang berdasarkan pengetahuan keadaan saat ini (ke belakang atau IST) yang jelas dan berani mengungkapkan keadaan yang ada ini, dan bukan berdiam diri membiarkan balon udara berisi angin itu terbang melayang menghilang di langit. Waktu 6 bulan seharusnya cukup untuk mulai dengan membukakan mata rakyat terhadap keadaan yang ada saat ini (IST), dimulai dari hal-hal paling penting dan genting saat ini yang menyebabkan bangsa ini perlu menjalankan revolusi mental. 6 bulan sudah berjalan, dan pelaksana tugas yang ditunjuk untuk pembangunan karakter manusia itu belum terlihat bekerja dengan baik, jabatan yang dia terima malah dianggap jabatan ringan yang diperlihatkannya dalam pernyataannya bahwa tugas yang diterima dari presiden itu jabatan ringan dan dia mampu merangkap jabatan itu bersama jabatan partai. Sementara sang ibu dari pejabat itu, yang senior dalam partai itu begitu keras mengatakan perlunya revolusi mental, begitu mantap mengatakan inilah hal yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara, tetapi apa yang mereka tampilkan tidak terlihat bahwa mereka sebenarnya akan melakukan revolusi mental itu, terutama dalam merevolusi diri mereka lebih dulu, demi kepentingan bangsa dan negara.
* * *
3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?
Presiden, sebagai panglima tertinggi tentu tidak akan melakukan revolusi mental secara langsung, tetapi dia yang menentukan waktu untuk memulai pekerjaan besar, dialah ujung pangkal suatu rangkaian komando pelaksanaan proyek besar ini, dia ada di awal rangkaian misi pembenahan ini, dia hanya perlu menekan satu tombol ‘ON’ maka bergeraklah proses itu. Presiden berada di awal rangkaian, dia bukan berada di tengah rangkaian sebagai pelaksana lapangan, tetapi dia juga berada di ujung akhir rangkaian sebagai seseorang yang akan mendapatkan laporan hasil akhir dari proses revolusi mental ini, dia akan minta pertanggung jawaban dari kelompok pelaksana itu, kemudian sang presiden akan mempertanggung jawabkan kegiatan ini kepada rakyat.
Presiden, sebagai penentu, penekan tombol ‘ON’ untuk memulai rangkaian proses revolusi mental, dia harus tahu benar akan IST dan SOLL yang akan dijalankan oleh kelompok pelaksana itu. Dia tahu benar IST itu seperti apa, karena itulah kenapa dia menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, dia tahu benar keadaan IST saat ini sudah begitu parah: mental, moral, pikiran, logika, nurani, etika, budaya dan tentu sampai ke masalah religi juga berada dalam keadaan kritis, sudah begitu jauh tenggelam kedalam lumpur kotor bau dan gelap, maka semboyan itulah yang dia gunakan dalam masa kampanyenya di tahun 2014. Dia tahu benar akan IST saat ini maka dia berani menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, begitu juga seorang wanita senior kawakan suatu partai yang kebetulan keturunan BK, ibu ini tahu benar akan IST saat ini karena dia terlihat begitu penuh semangat meneriakkan ‘Revolusi – Revolusi Mental’, dia minta kepada setiap anggota partainya untuk melakukan revolusi mental, dia minta rakyat melakukan revolusi mental, dia tegaskan juga, hanya dengan revolusi mental maka bangsa negara ini akan bisa lepas dari keterpurukan!
Dari 33 menteri yang diangkat presiden Jokowi, ada satu menteri yang kiranya paling terkait dengan revolusi mental ini yaitu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang dijabat oleh PM, masih keturunan BK Sang Proklamator. Menteri koordinator inilah yang seharusnya bertanggung jawab soal revolusi mental. PM sebagai anak dari senior kawakan, kedua orang ini keturunan BK (katanya!), tentu punya kepiawaian dalam tugasnya sebagai koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan yang terkait dengan tugas utama pemerintahan ini yaitu menjalankan revolusi mental. Jadi, PM sebagai anak dari senior kawakan itu pasti punya kesempatan besar untuk menggerakan roda revolusi mental, lihat dan perhatikan pidato sang senior kawakan itu dalam konferensi di Bali di awal April 2015, mengedepankan revolusi, semua orang harus mau menjalankan revolusi.
Ditambah lagi dengan pernyataan PM, bahwa tugasnya sebagai MENKO (menteri koordinator) itu cukup ringan sehingga dia berani mengambil tugas rangkap, sebagai MENKO dan sebagai pejabat di partai. Sungguh mengagumkan apa yang dia tampilkan di awal April 2015 itu. Semoga unjuk kerjanya sebagai MENKO dalam menjalankan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan berjalan lancar adanya.
Marilah kita memusatkan perhatian kita kepada MENKO yang satu ini, kita lupakan jabatannya di partai itu, sebagai rakyat kita akan melihat prestasinya sebagai pejabat pemberintah, bukan sebagai pejabat partai, prestasinya di partai itu tidaklah penting untuk kita amati, untuk kita ikuti, itu urusan internal mereka di partai itu. Kita akan minta kepada menko ini untuk mulai memberikan definisi mental dan definisi revolusi mental yang jadi pekerjaan mereka, kaitan revolusi mental dalam pembangunan manusia dan kebudayaan. Kita minta mereka menjabarkan rencana kerja mereka dalam kegiatan REVOLUSI MENTAL ini, apa saja yang akan direvolusi, kenapa dan mengapa hal itu perlu direvolusi, berapa lama hal itu akan dilakukan, siapa yang melakukan apa, siapa yang terkena revolusi itu, kapan hal itu berjalan, bagaimana caranya, dst … dst. Kalau beliau tidak tahu, tentu bisa bertanya kepada ibunya senior kawakan yang telah berpidato soal revolusi mental di kongres Bali pada tanggal 9 April 2015 lalu, beliau yang senior itu sudah tahu apa yang akan dilakukan. (Semoga …!? Untuk itu, mari kita panjatkan doa.)
* * *
IST dan SOLL Revolusi Mental
Sudah 6 bulan pemerintahan ini berlangsung, begitu juga PM sudah 6 bulan menjadi MENKO, semoga beliau sudah memiliki informasi soal IST yang ada dalam kehidupan bangsa ini, apa saja yang sudah masuk ke lumpur kotor bau dan gelap sehingga perlu mendapatkan perawatan super cepat (Revolusi Mental), tentu beliau akan dengan senang hati dan murah hati men-sharing IST yang sudah lama tenggelam di lumpur kotor bau dan gelap itu, apa saja, siapa saja, dimana saja, seberapa parahnya IST itu, dst dlsb.
Jangan sampai, apa yang dikumandangkan dalam pidato sang senior kawakan itu hanya sekedar jargon, hanya propaganda, hanya balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’, dan hanya memberikan anjuran agar setiap orang melakukan revolusi mental sendiri sendiri. Kalau seperti itu rancangannya!?, rasanya rakyat tidak perlu diberi impian balon besar lagi, karena selama ini rakyat sudah berusaha sendiri sendiri, ada atau tidak ada pemerintah, rakyat sudah berjuang sendiri sendiri. Saya berharap, sang senior kawakan dan anaknya, PM akan bisa menjabarkan apa saja IST yang sedang dihadapi rakyat saat ini. Kemudian SOLL apa yang akan menjadi ‘GOAL’ akhir dari proses revolusi mental ini, apa saja misi-misi yang perlu dijalankan.
Inilah yang diharapkan dari PM, beliau perlu menjabarkan:
- Apa saja IST saat ini?
- Apa yang menjadi SOLL bagi bangsa ini?
- Berapa tahapan (babak) revolusi itu, atau hanya satu tahapan saja?
- Berapa lama setiap tahapan, dan berapa % besaran pencapaian dalam setiap tahapan itu, berapa nilai biaya revolusi mental ini, berapakah yang sudah dialokasikan untuk revolusi mental ini, dst.
* * *
4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?
Dari hasil penelusuran di media, ada berita terkait revolusi mental, seperti pernyataan sang MENKO yang ingin menjadikan jamu sebagai bagian dari revolusi mental, ada berita BAPPENAS mempaparkan penggunaan 149 miliar rupiah untuk program revolusi mental, dan beberapa berita lainnya seputar revolusi mental.
Jadi, sementara ini yang terlihat cuma pernyataan MENKO yang mengatakan pekerjaannya sebagai MENKO bisa dirangkap sebagai pejabat partai dan soal jamu, dan BAPPENAS merencanakan penggunaan uang untuk program revolusi mental. Saya belum pernah mendapatkan berita atau artikel baik dari pemerintah (MENKO ybs) atau BAPPENAS soal apa saja yang menjadi permasalahan bangsa ini (IST!!!) yang telah tenggelam di lumpur bau kotor dan gelap itu, kemudian tidak ada gambaran SOLL (target, tujuan, goal) yang bagaimana yang akan dicapai, juga tidak ada gambaran misi misi apa yang akan diambil untuk melancarkan program revolusi mental.
Beberapa berita atau artikel ataupun pembabaran dari MENKO ataupun BAPPENAS itu tidak menggambarkan sama sekali adanya keadaan kritis dari bangsa dan negara ini sehingga perlu ada satu gerakan yang disebut REVOLUSI MENTAL. Tampilan mereka saat pembabaran itu juga tidak terlihat sedang berhadapan dengan masalah bangsa yang begitu penting dan genting, mereka terlihat tidak cukup serius dalam menangani masalah itu, jadi pelaksanaan program revolusi mental ini terlihat sekedar ada, sekedar pencitraan belaka.
Ada berita dimana seorang tokoh (maaf, kelas kambing) mengatakan bahwa penggunaan kata ‘revolusi mental’ itu hanya mencomot dari revolusi idealisme komunis, yang kemudian dibantah oleh si pembawa program ini dengan menyatakan bahwa revolusi ini berasal dari BK dengan uraian lengkap terkait TRISAKTI dan entah apa lagi. Mungkin si tokoh kelas kambing itu tidak suka akan adanya revolusi mental, mungkin orang itu hanya asal cuap cuap, mungkin sekedar mencari sensasi, mungkin pengetahuan dia hanya ala kadarnya, dan kemungkinan lainnya lagi.
Jadi, setelah 6 bulan pemerintahan, saya belum membaca atau mungkin belum mendapatkan ‘sesuatu’ yang formal yang mereka sosialisasikan terkait revolusi mental, hanya ada beberapa kalimat yang mengatakan keadaan karakter bangsa yang terpuruk, yang menjadikan bangsa dan negara ini kalah bersaing, dan kalimat kalimat diluar pemerintah yang mengajak rakyat untuk menjalankan revolusi mental agar bisa bertahan dalam persaingan, agar bangsa dan negara ini bisa maju.
Semoga, saya segera mendapatkan berita yang positif dan formal dari pemerintah terkait revolusi mental ini. Semoga …
* * *
Pertanyaan berikut ini tidak perlu segera dibahas.
- 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
- 6) Apa saja yang akan dilakukan?
- 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
- 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
- 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
- 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
- 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?
Saya akan posting tulisan tulisan yang ada dibuku seri “Menuju Revolusi Mental”, dari tulisan itu nanti bisa diketahui apa saja yang seharusnya diperlihatkan (pertanyaan 5), apa yang perlu dilakukan (6), siapa yang harus dilibatkan (7), misi misi apa saja (8), dst.
Ada 4 buah buku seri “menuju Revolusi Mental”:
- 1) Yang Di Depan Menjadi Panutan (YDDMP, 173 halaman),
- 2) Pendidikan Mental – Moral (PMM, 214 halaman),
- 3) Mens Sana In Corpore Sano (MSICS, 174 halaman),
- 4) Hukum Kasih Sayang (HKS, 92 halaman).
3 buah buku tersebut YDDMP, PMM dan MSICS di awal Januari 2015 sudah saya kirimkan ke JKW/JK melalui jalur pertemanan di Jogja yang punya jalur ke istana, tetapi entah sudah sampai atau belum, entah mandeg, atau mereka simpan sendiri, disampaikan ke pihak lain atau entah apa yang mereka lakukan dengan ke-3 buku itu. Buku ke-4 (HKS) memang belum saya kirim, karena itu merupakan buku kunci untuk menjawab permasalahan yang digambarkan di 3 buku sebelumnya. Setelah 4 bulan tanpa berita, saya ambil keputusan untuk melepas buku buku itu di internet. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai apakah tulisan saya itu layak atau tidak.
Jakarta, 28 April 2015
* * * * * * * * * *
KATALOG POSTINGAN “MENUJU REVOLUSI MENTAL”
* * * * * * * * * *
DAFTAR ISI YDDMP, Yang Di Depan menjadi Panutan
010 YDDMP – KATA PENGANTAR
011 YDDMP – Menuju Revolusi Mental
012 YDDMP – Optimisme Menyongsong Masa Depan Indonesia
013 YDDMP – Bangsa Ini Manja?
014 YDDMP – Suharto Tidak Punya Se-sen-pun!?
015 YDDMP – Beras Ketan dan Pesawat Terbang
016 YDDMP – Kekayaan Alam Indonesia
017 YDDMP – Arisan dan Bancakan Pat-Gulipat
018 YDDMP – Tiga Monyet Bijaksana: Wakil Rakyat Yang Buta
019 YDDMP – Hidup Tidak Bebas Korupsi
020 YDDMP – Kehidupan Tidak Bebas Korupsi (KTBK)
021 YDDMP – Korupsi: Imbas Korupsi
022 YDDMP – Rampok – Rampok!!!
023 YDDMP – Maling Kecil dan Maling Besar
024 YDDMP – Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
025 YDDMP – Sebuah Kebijakan atau Kebijaksanaan
026 YDDMP – Pam Swakarsa
027 YDDMP – Perintah Lisan
028 YDDMP – Sang Penjegal
029 YDDMP – Yang di DEPAN menjadi PANUTAN
030 YDDMP – Kisah 3 Pencuri Kepeng
DAFTAR ISI PMM, Pendidikan Mental – Moral
031 PMM – KATA PENGANTAR
032 PMM – Pendidikan Mental – Moral
033 PMM – Bicara Reformasi Bukan Hanya Politik
034 PMM – Langkah Yang Tidak Benar
035 PMM – Managemen Kartu
036 PMM – Ranjau Kehidupan
037 PMM – Gajah vs Semut/Kutu
038 PMM – MADANI
039 PMM – Subway-Marine
040 PMM – Moral di Jalan Raya
041 PMM – Motor Gadungan
042 PMM – Sepeda Motor Masuk Tol
043 PMM – Menghentikan Korupsi
044 PMM – Umatnya Allah
045 PMM – Silaturahmi
046 PMM – Belajar Sampai Ke Negeri Cina
047 PMM – S W O T
048 PMM – Industri Otomotif
049 PMM – Mencari Pilihan Industri Yang Sesuai
050 PMM – Pariwisata
051 PMM – Buku Cetak Pelajaran Sekolah
052 PMM – Surat ke Media Masa, Para Tokoh, Unicef, dll
053 PMM – Banjir dan Generasi Penerus
054 PMM – Berlalulintas Yang Baik
055 PMM – Perubahan Mental – Moral
056 PMM – Roda Kehidupan
057 PMM – Sumber Referensi
DAFTAR ISI MSICS, Mens Sana In Corpore Sano
058 MSICS – KATA PENGANTAR
059 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano
060 MSICS – KARTU, KARTU dan KARTU
061 MSICS – Mobil Ambulance & Kesehatan Pemimpin
062 MSICS – Buah Tidak Akan Jatuh Jauh Dari Pohonnya
063 MSICS – PERCONTOHAN YANG . . .
064 MSICS – Pembiaran atau Dibiarkan Terjadi
065 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano (2)
066 MSICS – Tidak Bebas Korupsi di Swasta
067 MSICS – INDONESIA KAYA RAYA
068 MSICS – 9 Miliar Penduduk Dunia
069 MSICS – GENERASI JEMPOLAN
070 MSICS – Sistem Jaminan Kesehatan
071 MSICS – Virus Korupsi
072 MSICS – Sakit dan Obat Herbal
073 MSICS – OBAT KW-1
074 MSICS – Obat Farmasi atau Herbal, KW-3 atau KW-1?
075 MSICS – Punya Otak
076 MSICS – Merayakan Hari Anak Sedunia
077 MSICS – Sehat dan Kesehatan
078 MSICS – Kerusakan Lingkungan dan Kesehatan
079 MSICS – Perilaku Oknum
080 MSICS – Persepsi, Sudut Pandang
081 MSICS – Manipulasi Persepsi, Skenario Adu Domba
082 MSICS – Back To Nature, Kembali Ke Alam
DAFTAR ISI HKS, Hukum Kasih Sayang
083 HKS – KATA PENGANTAR
084 HKS – Bukan Mimpi Biasa
085 HKS – Mimpi Besar Tentang Kehidupan
086 HKS – IST dan SOLL
087 HKS – Penjajahan Oleh Orang Asing
088 HKS – Para Penghianat Bangsa
089 HKS – Mimpi Indah Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
090 HKS – Rasa Kasih dan Rasa Sayang

