SATRIA PININGIT SANG PENYELAMAT

SATRIA PININGIT SANG PENYELAMAT

Cerita/Mitos Sang Penyelamat (SP)
Ada keyakinan/kepercayaan/agama pada masyarakat (bangsa) di berbagai penjuru dunia akan munculnya seseorang yang disebut sebagai sang penyelamat (SP). Setiap kelompok masyarakat memiliki sebutan yang berbeda untuk sang penyelamat itu, ada yang menyebutnya dengan Satria Piningit (juga SP), Ratu Adil, Herutjokro, Juru Penyelamat, Yesus, Imam Mahdi, dan banyak sebutan lainnya sesuai keyakinan/kepercayaan/agama yang berlaku di daerah/kawasan/negara tertentu.

Kelompok Yahudi punya kepercayaan itu, Islam dan Kristen punya tokoh yang sama (Yesus/Nabi Isa) sekaligus berbeda (Yesus dan Imam Mahdi), Hindu punya tokoh sendiri, Budha juga berbeda, Zoroaster punya tokoh/cerita tentang SP, berbagai suku/bangsa: Indian Hopi, Lakota, Maya, Yunani, Ethiopia (Rastafari dengan Haile Selassie), dlsb. Banyak mitos atau legenda tentang SP di berbagai penjuru dunia yang akan datang pada saat mereka menghadapi begitu banyak kesulitan dalam kehidupan mereka.

Sosok SP banyak dimonopoli oleh kelompok agama-agama yang memiliki banyak pengikut, dikatakan bahwa SP adalah keturunan junjungan kelompok mereka, dengan ciri-ciri yang sesuai dengan ajaran mereka. Terjadilah pertentangan akan sosok SP yang disetujui oleh kelompok yang berbeda … padahal gambaran utamanya: SP akan muncul saat umat manusia sedang mengalami begitu banyaknya kesulitan hidup. Setiap kelompok mengatakan kalau SP tertentu hanya akan melindungi kelompok mereka saja, sementara yang diluar kelompok tidak akan dilindungi.

Kehidupan manusia di dunia semakin sulit, bencana alam muncul dimana-mana karena manusia tidak peduli akan alam-lingkungan, hutan dibakar, digunduli, ditanami hanya tanaman mono-kultur, kerusakan alam-lingkungan jelas merusak siklus kehidupan alami, siklus terputus atau terhenti, hama merajalela, gagal panen karena gangguan alam, gangguan cuaca, banjir bandang sekonyong konyong karena lahan di hulu telah gundul, teleh berubah fungsi, kehilangan daya serap atau daya penahan air hujan, pemanasan global terjadi, kekeringan, kehilangan tanaman bahan pangan membawa dampak kekurangan bahan pangan sampai kelaparan melanda dunia, saat ini ada sekitar 1 milliar orang pergi tidur dalam keadaan perut kosong alias kelaparan!, penyakit aneh muncul, penyakit langka muncul kembali, ada banyak penyakit yang belum ada obatnya … dst. Peperangan, pertikaian antar kelompok antar negara karena beda ideology, karena yang satu ingin menguasai sumber daya/energi yang ada di negara lain, teror kekerasan muncul di berbagai penjuru dunia, pembunuhan, penganiayaan terus terjadi karena ketiadaan keadilan dalam kehidupan berbangsa-bangsa, karena fanatisme buta … dst. Kematian karena perang di abad 20 saja >200 juta orang, kematian karena penyakit dll juga sama banyak atau malah lebih banyak … dan dengan munculnya penyakit aneh tanpa obat, kecenderungan kematian akan meningkat terus, terjadinya penghentian kehamilan karena orang takut akan Zikka yang merusak janin dan bayi manusia, yang sudah terlanjur hamil akan menghadapi risiko kelahiran bayi dengan cacat di kepala (otak) menjadikan bayi yang lahir akan cacat seumur hidup …, air bersih menjadi sulit diperoleh, air danau dan laut telah terkena polusi, ikan laut juga tercemar berbagai racun/polutan, es di kutub utara dan selatan terus tergerus mencair karena pemanasan global, permukaan air laut terus meningkat, pulau-pulau kecil mulai tenggelam, negara pulau sudah ada yang dievakuasi ke negara lain karena pulau itu sudah tergenang air laut … dst, dlsb.

Ketidakadilan terjadi di berbagai penjuru dunia, kejahatan terus meningkat dan semakin canggih, kecurangan terjadi di berbagai bidang, korupsi juga terjadi di negara maju apalagi di negara yang sedang berkembang … dst, dlsb.

Agama tidak berhasil menjadi fasilisator keadilan, kedamaian, kesejahteraan karena ada begitu banyak oknum yang memakai agama sebagai topeng untuk melakukan pemenuhan hasrat pribadi belaka … peperangan karena alasan agama terus terjadi, pembunuhan dengan membawa nama Tuhan terus dilakukan, seakan akan Tuhan mengijinkan hal itu … seakan akan Tuhan menginginkan hal itu dilakukan oleh kelompok tertentu. Kelompok yang satu menghalangi kelompok yang lain untuk melakukan ritual agamanya, kelompok yang satu memaksakan kehendak kepada kelompok yang lain … pembenaran ketidakadilan atas nama agama, kekerasan dilakukan dengan topeng agama … dst, dlsb.

Setiap kelompok masyarakat menggantungkan harapan perubahan kepada sosok SP, seakan akan SP akan menyelesaikan semua kerusakan yang telah terjadi, memperbaiki segala keruwetan akibat ulah manusia … menyelesaikan berbagai masalah yang ada. SP digadang gadang agar segera hadir, tetapi orang tak mau melakukan pembenahan dari berbagai kerusakan yang telah mereka perbuat … tidak mau juga manusia melakukan perubahan gaya hidup, melakukan perbaikan mental moral … setiap orang mengejar hawa nafsunya masing masing, mencapai satu posisi jabatan dan kekayaan untuk dirinya, untuk kelompoknya sendiri … tak peduli akan orang lain apalagi berbeda suku/bangsa, agama dan ideologi.

Semua tahu, semua kerusakan itu ulah manusia yang tak kenal Cinta Kasih Sayang … semua tak peduli, hanya mengikuti hawa nafsu masing masing … dan di ujung akhir mereka berharap SP akan membereskan itu semua.

Sungguh manusiawi … ?

Jakarta, 24 Januari 2017

Versi lengkap artikel ini: SATRIA PININGIT SANG PENYELAMAT

Untuk download artikel ini: SATRIA PININGIT.pdf

Link:
https://id.wikipedia.org/wiki/Akhir_zaman
https://id.wikipedia.org/wiki/Haile_Selassie

HERBAL, KESEHATAN dan REVOLUSI MENTAL

HERBAL, KESEHATAN dan REVOLUSI MENTAL

Beberapa hari terakhir saya googling di internet mencari berita terkait herbal, WHO, Uni Eropa dll. Saya menemukan banyak informasi terkait beberapa kata kunci itu, begitu banyak, dengan kata kunci herbal saja didapatkan 150 juta web-site dalam 0,48 detik, dengan kata kunci gabungan 2 kata: ‘traditional medicine’ ada 31,7 juta web-site, ‘WHO herbal’ ada 77 juta web-site, ‘using herbal’ ada 61,1 juta web-site, ‘european herbal’ ada 39,1 juta web-site, dengan kata kunci gabungan 3 kata: ‘WHO traditional medicine’ ada 49 juta web-site, ‘european traditional medicine’ ada 5,65 juta web-site. Ada banyak hasil googling yang bisa kita peroleh di internet.

Apakah herbal itu?

Dari Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/Herbal) didapatkan deskripsi herbal, yaitu satu kumpulan dari tanaman yang digunakan untuk pengobatan tertentu. Lebih jauh, itu adalah buku (daftar) berisikan bermacam tanaman yang bermanfaat untuk pengobatan tertentu, cairan, makanan, racun, efek halusinasi, aroma atau kekuatan magis dan juga cerita legenda yang terkait dengannya.

Dari informasi yang diperoleh, dikatakan bahwa orang Mongol memiliki sejarah penggunaan herbal sejak 2500 tahun yang lampau, sedangkan China dikatakan berhasil mengumpulkan catatan lebih dari 12ribu resep herbal sejak ribuan tahun yang lampau. Lebih jauh lagi, dari catatan yang tersimpan, penelitian herbal telah terjadi 5000 tahun lalu pada masa Sumerians. Di zaman Mesir kuno, sekitar 1552 SM ada catatan diatas papyrus tentang penggunaan pengobatan dengan herbal dan praktek pengobatan dengan sihir. Dalam Perjanjian Lama juga dikatakan adanya pengggunaan herbal. Di candi Borobudur juga ada relief tanaman herbal.

Herbal dan mineral yang digunakan dalam Ayurveda diungkapkan oleh herbalist India seperti Charaka dan Sushruta pada masa 1 millenium SM. Buku herbal China, Shennong Bancao Jing, telah disusun pada masa dinasti Han, yang berasal dari masa yang lebih dini lagi.

Jadi penggunaan herbal sudah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi, ada pada bermacam masyarakat yang disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, hanya ada beberapa catatan atau buku atau tulisan yang bisa ditemui setelah penggalian oleh para ilmuwan. Dan ada banyak catatan yang tersimpan masih belum bisa diterjemahkan karena berbagai faktor, bisa berisikan cerita sejarah kejadian, kepahlawanan, dan atau juga berisikan cara dan bahan pengobatan tertentu. Seperti juga di Indonesia, ada buku buku kuno ditulis dalam bahasa Jawi kuno yang belum diterjemahkan karena keterbatasan waktu, kesempatan dan dana untuk melakukan itu.

OBAT KONVENSIONAL dan OBAT ALTERNATIVE

Sejak sekitar abad 15-17, dimulailah dipakai kata pharmacy (farmasi) yaitu sebuah ilmu yang menggabungkan ilmu pengobatan dengan ilmu kimia (https://en.wikipedia.org/wiki/Pharmacy) yang kemudian menumbuh-kembangkan pembuatan obat kimia yang memberikan kebebasan bagi si produsen untuk memproduksi obat secara massal, murah, dan bisa dikirimkan ke seluruh penjuru dunia. Tentu saja kemampuan para ahli pharmacy dan pabrik pembuatan obat ini bisa melewati kemampuan obat herbal yang produksinya tergantung panen kedaerahan, kesediaan bahan baku herbal yang terbatas. Pabrik pharmacy bisa membuat obat secara massal, dalam kemasan yang lebih tahan, dalam bentuk yang lebih mudah untuk didistribusikan ke seluruh penjuru dunia, terlepas dari ketergantungan bahan seperti herbal, dan selanjutnya obat yang diproduksi massal ini disebut sebagai obat konvensional.

Tetapi sebenarnya, kata ‘pharmacy’ dalam bahasa Yunani berasal dari kata ‘pharmakos’ yang berarti ‘sorcery’ atau kekuatan magik, sihir bahkan berarti ‘poison’ atau racun (dari wikipedia!).

Jadi obat konvensional adalah obat yang dibuat oleh pabrikan, obat farmasi, obat yang dirancang, dibuat secara kimiawi dan cara pengobatan konvensional adalah pengobatan yang dilakukan oleh ahli pengobatan (dokter) menggunakan obat farmasi.

Obat obat-an yang bukan buatan pabrik farmasi, disebut sebagai obat alternative, salah satunya adalah obat herbal berasal dari bagian tanaman, bagian hewan atau mineral tertentu. Pengobatan alternative itu: pengobatan suatu penyakit yang tidak dilakukan oleh seorang dokter, tetapi bisa dilakukan oleh seorang ahli alternative, ada yang menyebut orang itu dengan nama dukun, shaman, orang pintar, ahli alternative, folk healer, dlsb, atau suatu cara pengobatan yang tidak menggunakan cara-cara konvensional tetapi menggunakan cara-cara tradisional yang kembali digali ulang, seperti cara pengobatan menggunakan batu panas, batu magnet, massage, totok, akupuncture, akupressure, resonansi, kerokan, bekam, sinar UV, dlsb. Kemudian ada cara alternative baru seperti sedot lintah, penggunaan sengatan lebah, mandi lumpur, dll.

Ada juga pengobatan alternative yang menggunakan unsur spiritual (gaib), menggunakan air putih yang diberi doa, pembacaan doa doa tertentu dalam jumlah dan waktu tertentu, penggunaan telur dan binatang untuk memindahkan penyakit (benarkah!?), penggunaan ranting dan daun kelor untuk mengobati penyakit jiwa, penggunaan batu meteor (Ponari?), dll.

Banyak masyarakat negara maju yang berusaha mengurangi penggunaan obat konvensional, mereka ber-alih ke pengobatan alternative, baik penggunaan cara terapi seperti massage, akupuncture, resonansi, dll itu, juga penggunaan bahan bahan dari alam seperti herbal. Sebelum tahun 2004, banyak warga di Eropa yang menggunakan obat herbal, dan waktu itu saya pernah membaca ada negara barat yang sudah menggantikan 60% obat konvensional dengan obat herbal, tetapi kemudian Komisi Kesehatan Eropa membuat larangan penggunaan obat herbal, larangan peredaran obat herbal. Larangan itu dimulai di tahun 2004 dengan masa transisi selama 7 tahun, dan sejak 1 Mei 2011, tidak ada lagi bahan bahan herbal yang dijual di toko toko obat di negara negara Uni Eropa.

Obat herbal hanya boleh dijual di Eropa bila sudah menjalani masa uji pakai selama 30 tahun dan 15 tahun di antaranya berada di Eropa, obat itu harus didaftarkan dan mendapat lisensi dari badan kesehatan Eropa, kemudian si pengusaha harus mendaftarkan setiap herbal untuk uji penelitian kelayakan keamanan kebenaran obat herbal yang nilainya lebih dari £80,000 sampai £120,000 per satuan jenis tanaman herbal.

Dari informasi yang bisa diperoleh, yang disebut herbal di Uni Eropa itu adalah herbal dari China dan India.

http://www.bbc.com/news/health-13215010

http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/health-news/europe-to-ban-hundreds-of-herbal-remedies-2171781.html

PENGOBATAN ALTERNATIVE

Negara China terlihat (dari berbagai literatur) jelas sebagai negara yang menerapkan pengobatan alternative yang digabungkan dengan pengobatan modern, mereka terus berusaha memperbaiki teknologi pengobatan tetapi tetap mempertahankan penggunaan pengobatan alternative bahkan menerapkannya dengan lebih intensif: dokter dokter di China diharuskan menulis resep herbal, mahasiswa kedokteran diberi mata kuliah pengetahuan herbal dan mata kuliah penulisan resep herbal, juga terus menerapkan cara pengobatan alternative seperti akupuncture, akupresure, massage, dll.

Negara China merupakan negara yang paling rajin dalam menghimpun (menggali, mencatat) obat herbal warisan leluhur mereka. Mereka berhasil membuat catatan ribuan resep herbal. Dan dalam menjaga kelestarian resep herbal ini, ada begitu banyak ahli peracik obat (Shinshe) yang sudah bekerja secara turun temurun, mereka inilah bagian dari pelestari resep herbal itu, mereka menyimpan bahan-bahan, meracik, meneruskan ilmu mereka kepada anak keturunan mereka.

China punya catatan lebih dari 12.000 bahan herbal yang dipakai dalam pengobatan alternativ (traditional healer), mereka punya banyak ahli peracik herbal (shinshe), pabrik-pabrik mereka memproduksi berbagai jenis obat herbal untuk berbagai macam penyakit, mereka menerapkan pengobatan herbal kedalam sistem kesehatan mereka, menerapkan pengobatan alternativ, para dokter menulis resep herbal untuk berbagai penyakit, dan terus memperharui teknologi pengobatan modern mereka. Banyak pejabat dari Indonesia yang berobat sampai ke China karena sistem pengobatan mereka yang terlihat lebih baik. China mengekspor bermacam obat herbal ke mancanegara, dan setelah pembatasan oleh Komisi Kesehatan Uni Eropa maka penjualan obat herbal itu menurun.

Dari literature yang saya baca, di Uni Europa dikenal obat herbal dari China dan India, obat herbal dalam berbagai bentuk (sudah dikemas atau masih bahan mentah) dari kedua negara itu saja yang banyak beredar. Kemudian pemerintah China bekerja sama dengan Republic Of Moldova membangun the Chinese Traditional Medical Cente yang berhasil diselesaikan di tahun 2013, China juga melakukan kerjasama dengan The Kyrzygstan dalam pembangunan industri farmasi berbahan herbal. Kyrzigstan juga membuat kerjasama dengan perusahaan Adjanta-Pharma dari India membangun industri farmasi dengan produksi sebanyak 70 jenis obat, dalam bentuk tablets, racikan, ramuan siap minum dan bahan mentah herbal.

Di bagian benua yang lain, di Amerika Latin juga ada gerakan mengedepankan herbal, pengobatan alternativ, penggunaan obat tradisional. Dalam rangka menjaga kelestarian pengobatan alternative, ada sekelompok penyembuh alternative (shaman, penyembuh rakyat, folk healer) dari suku Matsés di sekitar sungai Amazone (di kawasan Brazil dan Peru) berkumpul dan menuliskan informasi tentang traditional medicine, penyembuhan (cara) alternative, tanaman obat, mantra, dlsb, menjadi satu buku The Matsés Traditional Medicine Encyclopedia setebal 500 halaman, ditulis dalam bahasa mereka agar pengetahuan itu bisa diteruskan kepada para penyembuh yang baru belajar dan hanya ditulis dalam bahasa mereka agar tidak dicuri oleh orang luar seperti yang pernah terjadi di waktu yang lalu.

Dengan buku encyclopedia ini dapatlah diajarkan kepada masyarakat setempat akan adanya banyak tanaman obat didalam hutan, dan dengan kesadaran masyarakat akan kebutuhan akan tanaman obat diharapkan masyarakat mau menjaga keberadaan hutan tropis disana dari penghancuran.

Amazon tribe creates 500-page traditional medicine encyclopedia

Para ahli pengobatan alternative telah menginisiasi pembuatan buku encyclopedia, dan pemerintah Brazil juga menetapkan penggunaan herbal medicine dalam sistem kesehatan masyarakat. Brazil memiliki hutan tropis dengan sejumlah besar species tanaman yang dapat dijadikan tanaman obat. Dengan penetapan penggunaan herbal medicine, penyebaran pengetahuan akan tanaman obat yang ada di hutan, raktyat diajak untuk menjaga hutan mereka.

BRAZIL: Public Health Embraces Herbal Medicines

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebelum kita berbicara soal herbal di Indonesia, kita buat rekapitulasi tentang herbal di dunia: herbal sudah dikenal sejak 5000 tahun yang lalu, catatan penggunaan sekitar 2500 tahun yang lalu seperti di Mongol, China punya catatan lebih dari 12.000 obat alternative, China menerapkan penggunaan obat alternative dalam sistem kesehatan rakyat mereka, China memproduksi sekitar 5000 obat alternative, di Eropa dikenal obat alternative dari China dan India, banyak orang di Eropa yang sebenarnya lebih suka menggunakan obat herbal daripada obat konvensional, Komisi kesehatan Uni Eropa sejak 2004 (2011) melarang penggunaan atau penjualan obat alternative, China melakukan kerjasama pembangunan the Chinese Traditional Medical Cente di Moldova dan Kyrzigstan, China dan India bekerja sama dengan Kyrzigstan, Brazil menerapkan penggunaan obat alternative di dalam sistem kesehatan masyarakat mereka, para dukun suku Matsés di Brazil dan Peru membuat buku ‘The Matsés Traditional Medicine Encyclopedia’. Dari artikel Traditional Medicine di Wikipedia disebutkan adanya praktek penggunaan traditional medicine seperti Ayurveda (India), Siddha medicine, Unani, Iranian medicine, Irani, Islamic medicine, Chinese medicine, Korean medicine, acupuncture, Muti, Ifá, dan traditional African medicine. Di banyak negara herbal disebut sebagai food supplements, 80% penduduk Afrika yang menggunakan traditional herbal medicine, ada beberapa negara yang memasukkan traditional herbal medicine kedalam sistem kesehatan mereka. Nilai pasar dunia obat alternative ini sekitar US$60miliar. Riset herbal intensif dilakukan di China, India, Nigeria, America Serikat (USA), WHO dan industri farmasi. Di Amerika, riset lembaga National Center for Complementary and Alternative Medicine telah menghabiskan sekitar US$33juta di tahun anggaran 2005; dan di tahun 2004, lembaga National Cancer Institute menyatakan telah menghabiskan hampir US$89juta untuk mempelajari penggunaan terapi traditional untuk menghadapi kanker. Di Afrika dilakukan uji coba penggunaan herbal untuk melawan HIV-AIDS. Industri farmasi Novartis di tahun 2006 menganggarkan lebih dari US$100juta untuk mempelajari traditional medicine yang dilakukan di Shanghai … dan banyak lagi usaha internasional terkait traditional medicine (pengobatan alternative).

… lalu bagaimana dengan Indonesia???

  • Adakah kita mempertahankan herbal yang kita punya, menerapkan penggunaan herbal dalam sistem kesehatan rakyat Indonesia?
  • Adakah kita punya obat herbal warisan LELUHUR?
  • Apakah kita telah menjaga warisan LELUHUR itu, menyimpannya di tempat terhormat, menjaga setiap resep itu?
  • Apakah kita peduli akan obat obat herbal itu atau dibiarkan lenyap tak berbekas?
  • Sudahkah kita mengumpulkan pengetahuan pengobatan alternative warisan leluhur itu, menggalinya, menterjemahkannya dan mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat?

… atau hanya sekedar mengurus pengobatan konvensional dengan obat konvensional saja!?

Potensi Herbal di Indonesia

Kita punya lahan yang begitu luas dengan iklim yang hampir sama sepanjang tahun, matahari bersinar sepanjang tahun, hujan turun hampir sepanjang tahun, hutan tropis ada di banyak pulau, keragaman hayati terbesar di dunia, kita punya begitu besar keragaman tekstur alam dengan berbagai ragam temperatur, keragaman kelembaban daerah, keragaman komposisi tanah, keragaman laut dan pantai, dst. Jelas sekali, kita punya potensi kepemilikan obat herbal yang sangat besar. Kita lihat ke Brazil, alam kita mirip Brazil, mereka punya banyak tanaman obat, mereka menggunakan obat alternative dalam sistem kesehatan mereka, kita punya tanaman obat yang paling tidak sama banyak seperti Brazil dan mungkin lebih banyak, dan yang pasti lebih banyak dari negara manapun di dunia ini. Mungkin kita boleh sedikit sombong atas karunia yang kita miliki … tapi, apakah potensi ini telah kita gunakan dengan benar!?

Herbal, Warisan leluhur

Lalu kita lihat ke masa lalu, budaya Leluhur sudah tinggi pada masa ribuan tahun yang lampau, di situs Gunung Padang malah sudah terlihat peradaban maju dari masa 10ribu tahun yang lalu, itu masa yang jauh lebih tua dari masa kejayaan Mesir dengan pyramida Giza (2500 tahun SM), lebih tua dari masa kejayaan dari situs Goebekli Tepe di Turki yang ber-usia 9000-9500 tahun lampau. Lihatlah kawasan (situs) Gunung Padang yang dikatakan berada pada kurun waktu antara 10ribu-25ribu tahun yang silam, terlihat dari hasil penelitian dimasa itu disana sudah ada masyarakat yang berbudaya tinggi sementara pada kurun waktu yang sama masyarakat di daerah lain masih jauh dari keberadaban.

Sampai dengan masa 500 tahun yang lalu, agama leluhur yang dianut kebanyakan Hindu (Shiwa – Budha), mereka punya ‘WELAS ASIH’ yang tinggi, mereka sudah berbudaya tinggi, jelas mereka pasti menggunakan berbagai sumber alam sebagai alternative medicine, mereka punya berbagai terapi pengobatan alternative termasuk punya doa – mantra untuk pengobatan, dan mereka menggunakan primbon (encyclopedia) ataupun catatan (lontar, lembaran kulit, dll) yang dapat dipakai sebagai patokan untuk menghadapi berbagai situasi keadaan termasuk masalah kesehatan waktu itu. Kemanakah (dimanakah) record (catatan) herbal itu!?

Memang ada banyak primbon, ada banyak catatan di berbagai daerah, ada serat Centhini ada cerita lisan penggunaan herbal yang disampaikan dari orang tua kepada anak anak mereka secara turun temurun, tetapi adakah lembaga negara terkait kesehatan sudah membuat database soal herbal, soal pengobatan alternative, soal terapi pengobatan, soal mantra dan doa yang menjadi warisan leluhur itu!?

Ataukah karena pergantian kekuasaan berdasarkan agama di masa 500 tahun yang silam banyak buku buku kuno, primbon, catatan, pelaku folk healer, pelaku traditional healer itu dihilangkan? Karena dianggap bertentangan dengan apa yang dianut oleh penguasa waktu itu, dianggap aliran sesat, dianggap musrik, dianggap berbahaya karena terkait dengan agama lama?

Sungguh aneh, dunia mengenal herbal China, India, Iran, Afrika, Korea dll tetapi tidak mengenal herbal Indonesia, padahal kita punya potensi ‘terbesar’ bahan herbal, kita dulu, dulu, pada masa 10ribu tahun SM sudah berbudaya tinggi sementara daerah lain saat itu masih belum memiliki keberadaban, tentu negeri atau kerajaan atau masyarakat saat itu sudah juga punya sistem kesehatan yang MAPAN! yang tentu saja berbasis herbal, karena waktu itu tidak ada industri farmasi, semua dari alam. Dan pasti pengetahuan akan herbal itu sudah diwariskan turun temurun, per lisan ataupun tertulis. Kenapa sekarang Indonesia tidak ada dalam daftar WHO sebagai pemilik atau pengguna herbal terbesar di dunia!? Apakah karena semua catatan itu telah dihancurkan, telah dibakar, dicuri, di’tiada’kan karena ketakutan akan sejarah masa silam!?

China punya catatan sekitar 12ribuan jenis obat alternativ, Mongol dikatakan punya sejarah herbal lebih dari 2500 tahun, Nusantara punya budaya yang tinggi di masa 10ribu tahun lalu, seharusnya paling tidak kita punya catatan seperti China atau lebih banyak lagi … kemanakah catatan itu? Apakah hilang begitu saja, atau dihancurkan pada 500 tahun yang lalu, dihancurkan karena dianggap catatan orang kafir, musrik tidak beragama? Atau kita yang malas untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, menyimpan semua catatan itu?

Apakah herbal dianggap tidak bernilai???

Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun, melalui VOC mereka menguasai perdagangan rempah-rempah (herb), dan dari hasil perdagangan rempah-rempah ini mereka berhasil membangun negara mereka. Dari posisi nieder-land atau tanah rendah, berada dibawah permukaan air laut menjadi sebuah daratan sehingga menjadi negara Belanda. Itu hasil dari berdagang rempah-rempah, mereka berhasil membangun negaranya, padahal cuma berdagang rempah-rempah sebagai bumbu masak! Bayangkan kalau kita bisa memperdagangkan berbagai herbal yang ada di Indonesia ke mancanegara … bayangkan juga saat ini tidak hanya rempah-rempah yang bisa diperoleh dari alam, ada berbagai sumber tambang berharga, kemanakah hasil penyedotan dari berbagai tambang itu!?

Kenapa kita tidak berusaha mengelola potensi herbal yang kita miliki?

Kenapa kita lebih banyak dicekoki dengan obat konvensional?

Kenapa sistem kesehatan rakyat tidak menggunakan pengobatan alternative (herbal) yang kita miliki dalam jumlah tak ternilai itu tetapi menggunakan obat artificial konvensional yang penuh risiko, ada yang ber-racun, menyehatkan sekaligus menyusahkan sementara China dan Brazil bisa menerapkan pengobatan alternative didalam sistem kesehatan rakyat mereka?

Kenapa di negeri ini pamong terkait lebih menerapkan pengobatan konvensional daripada pengobatan alternative?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya coba ungkapkan:

  • bukan masalah GREEDY yang berperan dalam hal pemaksaan penggunaan obat konvensional yang sekaligus menolak penggunaan obat tradisional TETAPI lebih ke arah penolakan akan adanya karunia YMK kepada manusia dalam bentuk obat alami (tradisional),
  • bukan masalah adanya MAFIA farmasi yang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari konspirasi para pamong pemerintahan dengan para pelaku bisnis farmasi TETAPI karena ada banyak manusia yang menolak kasih sayang dari YMK dan lebih memilih mendekat kepada iblis dan setan dalam mengejar nafsu perut dan nafsu bawah perut mereka,
  • yang lebih parah, banyak orang terutama mereka yang menjadi pamong, punya kedudukan (jabatan) sebagai penentu kebijakan terutama dalam hal kesehatan, tidak pernah PERCAYA kepada LELUHURnya yang pada ribuan tahun yang silam telah memiliki banyak obat tradisional, orang-orang ini, entah karena salah agama yang dianut atau salah paham dalam menjalankan agama mereka yang sudah benar atau memang sekedar mengejar NAFSU,
  • yang paling parah, banyak yang menolak adanya ‘KESAKTIAN’ leluhur dalam hal pengobatan alternativ karena penolakan akan existensi budaya agama kepercayaan leluhur yang sudah ada ribuan tahun yang lampau. Penolakan itu berakibat pada penghancuran budaya lama yang sudah ada berikut dengan berbagai buku yang ada termasuk buku-buku catatan pengobatan alami.

Padahal:

YMK memberikan kasih sayang dalam bentuk penciptaan yang seimbang, semua telah disiapkan termasuk adanya virus, bakteri dan penyakit … maka sudah barang tentu disiapkan olehNYA berbagai obat untuk menghadapi berbagai penyakit itu. YMK tidak menunggu sampai ada PABRIK FARMASI untuk menusia menghadapi berbagai penyakit yang ada. Obat-obat-an sudah tersedia dalam berbagai tanaman, mineral, atau hal lain yang merupakan ciptaanNYA.

YMK sudah menciptakan alam semesta sejak jutaan tahun yang lampau, keberadaan TUHAN, ALLAH atau sebutan lain itu bukan baru ada pada 2000 tahun atau 1500 tahun yang lalu, tetapi sudah lebih lebih jauh dari itu! LELUHUR pasti percaya kepada YMK, mereka menerima akan adanya YMK, menerima akan adanya segala ciptaanNYA, mereka mengelola dan mengolah alam sedemikian rupa agar diperoleh keseimbangan dalam kehidupan mereka di masa itu, mereka cari (siapkan) berbagai obat dari alam karena mereka punya rasa ‘WELAS ASIH’ atau sekarang disebut ‘KASIH-SAYANG’, karena itulah SIFAT utama YMK, Yang MAHA Pengasih dan Yang MAHA Penyayang.

Sebetulnya masih ada banyak hal yang bisa dituliskan dalam hal suatu negara, suatu masyarakat menentukan menggunakan obat tradisional dari alam yang ASLI karya cipta YMK yang disediakan olehNYA untuk menjaga keseimbangan kehidupan umat manusia atau menggunakan obat artificial (konvensional) buatan pabrik farmasi itu.

Memang obat tradisional tidak 100% benar dan obat konvensional tidak 100% salah. Pilah pilih lah, ambil yang terbaik dan buang yang jelek, lakukan penelitian, jagalah alam dan lingkungan dengan baik dan benar karena disanalah tersimpan berbagai obat alami.

Rasa Kasih dan rasa Sayang lah yang menentukan yang terbaik bukan GREEDY (kerakusan, ketamakan)!

Adakah nilai positif dalam penggunaan obat tradisional dari alam?

Ada begitu banyak nilai positif dari pengelolaan alam, dalam pengolahan obat dari alam:

  • ada banyak jenis pekerjaan yang dapat ditimbulkan dalam kegiatan pengelolaan alam dan pengolahan obat dari alam, ada banyak petani tanaman obat, ada banyak penjaga hutan, ada banyak pencari tanaman obat di hutan, ada banyak pengepul yang mengumpulkan panen tanaman obat dari petani ataupun dari pencari tanaman obat di hutan, ada banyak pekerja persiapan dari bahan mentah menjadi setengah jadi, ada pekerja managemen, ada pekerja pengangkut hasil panen (hutan), ada pekerja peracik bahan setengah jadi menjadi bahan jamu atau obat herbal, ada pekerja pengepakan, dan lain sebagainya …
  • ada begitu banyak orang yang bisa ikut serta dalam kegiatan penyediaan obat herbal, padat karya, dari hulu ke hilir,
  • ada orang yang bekerja sebagai pengawas, sebagai pembimbing, sebagai penyedia perlengkapan industri herbal, ada yang bekerja di managemen pemasaran, bekerja di bagian promosi, dlsb …
  • ada banyak yang bekerja di penelitian (kalau memang sudah sadar dan mau meneliti!), ada teknisi permesinan, ada yang di bagian support (IT, komunikasi) dlsb …
  • ada banyak yang menjadi penjual herbal di pasar, di supermarket, di warung herbal racikan, di warung jamu siap minum, dlsb …

Ada begitu banyak kesempatan kerja yang bisa dibangun dari kegiatan ini untuk jangka waktu yang panjang kedepan.

Benarkah ada manfaat dari herbal?

Dari http://umm.edu/health/medical/altmed/treatment/herbal-medicine, herbal bisa digunakan untuk menyembuhkan [asthma, eczema, premenstrual syndrome, rheumatoid arthritis, migraine, menopausal symptoms, chronic fatigue, irritable bowel syndrome, and cancer] dan dari pengamatan saya sendiri (15 tahun penelitian pete dan 5 tahun sosialisasi terapi pete) saya bisa menambahkan kemampuan herbal (buah pete dan kulit pete) untuk menyembuhkan asam urat (gout), ostheoporosis, trauma otot (saraf), lumpuh karena pasca stroke, hipertensi, migren, sakit jantung, sakit ginjal, Diabetes mellitus (dan kawan-kawan-nya!), lemah syahwat (impotensi, erectile dysfunction = ED atau DE = Disfungsi Ereksi), menambah stamina / power, diaree, muntaber, chikunguya, dan banyak lagi. Link ke buku Terapi Pete V7: https://drive.google.com/open?id=0B_8eHNuflTi8SGhKYUlkaWZ6dE0

Dari pengamatan/penelitian selama 20 tahun dari buah (pete) kita bisa mencapai ‘Kesehatan, Kehidupan, Kebahagiaan dan Kesejahteraan’, padahal kita punya puluhan ribu atau ratusan ribu jenis tanaman lain yang siap untuk diteliti, dicari manfaatnya, dicari resep (portion), dicari bahayanya, diolah, dikemas, dijual ke mancanegara, dan saat ini sudah ada begitu banyak tanaman obat yang sudah dipasarkan dalam berbagai bentuk dan kemasan, tinggal bagaimana memasukkan herbal itu kedalam sistem kesehatan kita, untuk menjaga kesehatan (preventif), untuk meningkatkan stamina/power, untuk menyembuhkan, untuk menambah kebahagiaan rumah tangga dan pastinya akan membawakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Apakah yang perlu dilakukan untuk mengangkat potensi BUMI PERTIWI?

Untuk bisa mendapatkan berbagai obat herbal yang bisa digunakan dalam sistem kesehatan rakyat Indonesia dan tentu bisa dijual ke mancanegara, kita membutuhkan banyak kerja keras, kita butuh penelitian berbagai tanaman obat agar bisa diketahui manfaatnya, portion (resep), batasan penggunaan, bahayanya, campuran (racikan) dengan herbal yang lain untuk mendapatkan kemampuan pengobatan yang sesuai. Diperlukan uji klinik untuk setiap herbal itu, dilihat dicatat dan dimodifikasi agar mendapatkan keamanan bagi orang banyak. Diperlukan penelitian bagaimana membudidayakan berbagai tanaman obat agar terdapat kemampuan pengadaan tanaman yang berkelanjutan bukan mengambil yang liar di alam, panen yang menjaga kelestarian alam, bagaimana menyiapkan bibit tanaman, bagaimana menjaga pertumbuhan tanaman obat, mencari berbagai penyakit tanaman itu dan mencari pencegahan atau penyembuhan tanaman dari serangan penyakit, mencari lokasi yang cocok untuk tanaman tertentu, dlsb. Diperlukan penelitian bagaimana memindahkan tanaman obat, mendistribusikan produk herbal baik ke pelosok Indonesia maupuan ke mancanegara dengan baik dan aman.

Kemudian, diperlukan persiapan orang-orang yang akan membimbing para petani, rakyat sebagai pemburu (pengumpul) tanaman obat liar, pembimbing operasional pengolahan, pembimbing managemen, dlsb. Selanjutnya disiapkan kelas-kelas bimbingan bagi petani, para calon pekerja dalam berbagai tingkatan pekerjaan pengolahan tanaman herbal, kelas bimbingan peracikan herbal, kelas bimbingan penjualan herbal siap minum atau konsumsi (warung jamu, a’la shinshe), kelas bimbingan dan pelatihan terapi alternativ (akupressure, massage, bekam, dll), dlsb. Diperlukan sarana prasarana lain untuk pemasaran dalam negeri dan ke luar negeri, dll.

Jangan ketinggalan, kita perlu ahli bahasa Jawa kuno (sansekerta), ahli bahasa daerah di Indonesia, ahli sejarah, dan berbagai ahli terkait untuk menggali warisan kekayaan LELUHUR Nusantara yang tersebar di seluruh Indonesia, kumpulkan semua buku-buku, primbon, lontar, serat dlsb itu, jadikan satu database primbon nasional dalam bahasa Indonesia. Cetak primbon nasional itu, jual di toko buku, taruh di setiap perpustakaan daerah, dan upload ke homepage Herbal Indonesia, juga ajarkan di sekolah dan universitas. Siapkan mata kuliah herbal, mata kuliah persiapan atau peracikan herbal, mata kuliah penulisan resep herbal, dll.

REVOLUSI MENTAL

Herbal, tanaman obat, pengobatan tradisional bisa menjadi satu point penting dalam REVOLUSI MENTAL, dimana banyak orang bisa ikut bergabung dalam sistem pengolahan herbal nasional, dalam pengadaan obat herbal untuk digunakan dalam sistem kesehatan rakyat Indonesia, banyak perubahan perilaku rakyat dilakukan/dicapai dalam berbagai kegiatan bimbingan tersebut diatas, banyak orang akan mendapatkan pekerjaan, terjadi perubahan wawasan/wacana dalam mensikapi alam lingkungan, dalam memandang BUMI PERTIWI, banyak yang mendapatkan manfaat (kesehatan, kehidupan, kebahagiaan), mendapatkan kesejahteraan. Maaf, bukan seperti yang dilakukan seorang MENKO yang hanya menampilkan dirinya minum jamu lalu mengatakan inilah Revolusi Mental.

DASAR PEMIKIRAN, MORAL dari tulisan ini:

Saat melihat orang lain sengsara dalam menghadapi masalah kesehatan mereka, dengan biaya perawatan dan pengobatan yang cukup tinggi saat ini, diperlukan rasa KASIH antar manusia. Kehadiran rasa Kasih inilah yang membawa kepada kepedulian banyak orang, seperti juga para LELUHUR dulu yang melakukan pencarian obat herbal, yang melakukan pencatatan, menuliskan primbon, serat, yang menyampaikan resep herbal dari orang tua kepada anaknya turun temurun. Tanpa rasa Kasih, akan terjadi pembiaran pembiaran, ketidak-pedulian satu sama lain, keacuhan pamong pemerintah terhadap penderitaan rakyat, ketidak-hadiran kebijakan yang mengatur kesehatan ataupun kesejahteraan rakyat. Adanya rasa Kasih inilah yang mendorong penelitian dan pengamatan saya selama 20 tahun sampai mendapatkan satu terapi pete.

Dengan kehadiran rasa KASIH berarti seseorang punya rasa CINTA kepada YMK, ada rasa hormat kepada YMK, ada rasa menghargai akan karya ciptaNYA, yaitu tanaman obat (herbal). TANPA RASA KASIH, maka sebenarnya orang itu TIDAK PUNYA RASA CINTA kepada YMK … kalaupun orang itu beragama, hanya sekedar RITUAL belaka.

Biasanya, bila orang punya rasa KASIH, maka dia juga akan punya rasa SAYANG, rasa SAYANG kepada alam dimana dia dan manusia lainnya (umat dunia) itu berada, maka orang itu akan berusaha menjaga agar alam – lingkungan berada dalam keseimbangan, tidak merusak alam, menjaga proses alam itu berjalan seperti seharusnya, tidak merusak alam, tidak mengganggu proses alam, dst. Sebagai contoh: seseorang yang punya sebidang (lahan) tanah, maka dia tidak akan membangun seluruh lahan itu, tidak menutup seluruh lahan itu, dia akan membiarkan air hujan meresap di lahan bagian dia, karena itulah proses yang alami, dia tidak akan membiarkan seluruh air hujan itu mengalir ke jalanan, mengalir ke tanah yang lebih rendah kemudian menggenang disana menjadi banjir.

Tetapi orang yang tidak punya rasa SAYANG, dia akan menguasai seluruh lahan yang dia katakan hak milik itu, … [padahal! … kapan orang itu bertransaksi jual beli lahan dengan SANG MAHA PEMILIK ALAM SEMESTA!?] … orang itu akan menutup seluruh lahannya, dijadikan bangunan, dibeton, difloor, kemudian saat air hujan turun, tidak ada secelah lubang pun bagi air hujan itu untuk meresap kedalam tanah, air mengalir ke parit pembuangan, mengalir menuju daerah yang rendah, menjadi genangan dan banjir. MAKA orang yang tidak punya RASA SAYANG itu sebenarnya TIDAK PUNYA RASA KASIH … dan orang yang TIDAK PUNYA RASA KASIH, jelas TIDAK PUNYA RASA CINTA kepada YMK … orang itu tidak beragama, kalaupun beragama cuma RITUAL … sebenarnya orang itu lebih bisa disebut sebagai ATHEIS karena tidak peduli kepada YMK, mengangkangi karya cipta YMK.

Seseorang yang beragama baik dan benar akan menjalankan CKS, Cinta Kasih Sayang.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, mohon dimaafkan bila ada kata-kata yang tak berkenan di hati, tapi cobalah resapi dengan penuh Cinta Kasih Sayang … akan ada pencerahan di hati.

SALAM CKS

Jakarta, 5 Agustus 2015

Bambang Subaktyo EDV.F.T.

Don’t Judge The Books By It’s Cover

“Don’t Judge The Books By It’s Cover”

Orang terbiasa melihat dan menilai segala hal dari tampilan luar, dari citra yang terlihat pertama, dari kemasan luar, dari kata-kata yang tertera di bagian depan sebuah kemasan. Saat melihat yang indah, cantik, ganteng, berwibawa, penuh senyum, kaya berpendidikan, naik mobil mewah, tinggal di rumah mewah di kawasan elite, maka seseorang terlihat punya isi yang bagus dengan kemungkinan punya karakter yang bagus, terlihat baik, terlihat sopan, terlihat sebagai orang alim, dll. Seperti juga penawaran suatu barang dalam bentuk iklan, dalam kemasan yang begitu indah penuh warna, dengan kata kata yang begitu menarik, maka barang yang ditawarkan akan dipercaya sebagai barang yang bagus.

Banyak orang salah nilai saat melihat seorang pejabat (oknum kah?) yang memiliki tampilan (citra) yang begitu menawan, terlihat berpendidikan tinggi, punya pengetahuan luas, agama-is, dst. Padahal, apa yang ada dalam hati orang itu belum tentu sama seperti tampilannya. Lihatlah begitu banyak oknum pejabat yang tertangkap karena korupsi, ternyata tampilan yang begitu menawan itu hanya sekedar tipuan. Ada pejabat partai yang mengusung agama malah kesandung susu dan sapi. Cobalah minta mereka membuat perhitungan antara nilai gaji yang mereka terima dengan besaran kekayaan yang mereka punya, benarkah kekayaan itu merupakan hasil tabungan dari gaji resmi mereka? Kita semua tahu, pencapaian nilai kekayaan yang fantastis itu tidak mungkin bisa dicapai karena tabungan gaji resmi mereka … tidak mungkin bisa segala kehidupan yang begitu menawan, rekening yang begitu fantastis merupakan hasil dari gaji resmi. Ada pamong keamanan sipil yang punya uang triliunan rupiah, apakah pejabat pamong itu memang begitu rajin menabung selama ratusan tahun!? Ada banyak rekening gendut milik para pamong … tak mungkin merupakan tabungan gaji resmi kan!?

Orang mudah terpesona dengan penampilan luar, seakan akan tampilan luar itu pasti menggambarkan isinya, sesuai dengan sifat dan karakter dari sesuatu (orang, dlsb). Kalau melihat seorang tokoh terkenal naik mobil mewah, berpakaian perlente, dengan tampilan agama-is (penuh pernak-pernik yang mencerminkan keber-agama-an, busana, perhiasan, ditambah dengan sikap yang terlihat patuh dan sesuai aturan agama), bertitel pendidikan tinggi dari universitas berkelas dunia, terlihat begitu sering tampil dalam kegiatan agama, dengan aksi aksi memberikan sumbangan (amal, sedekah, dll), apalagi yang bergelar agama-is berikut ritual ber-ulang kali cuci dosa, maka orang yang melihat sang tokoh seperti itu segera menggambarkan sang tokoh sebagai orang yang baik baik adanya.

Seperti kita ketahui bersama, ada begitu banyak oknum pejabat (sipil ataupun militer) yang memiliki penampilan seperti itu, padahal mereka cuma sekedar penjahat penjahat culas belaka, tapi lihat bagaimana mereka memberi tampilan cover luar mereka, begitu indah, begitu menawan, tak terlihat ada cela, begitu sempurna, begitu agama-is, begitu bernilai tinggi. Padahal, maaf, itu hanya tampilan luar (cover depan) yang menipu, hanya fatamorgana, hanya manipulatif, hanya akting (sandiwara) aktor aktor kelas kakap karena kebanyakan dari mereka cuma penjahat dan perampok adanya.

Sebaliknya kepada orang yang tampil sederhana dengan kehidupan sederhana, rumah sederhana, kendaraan sederhana atau naik angkutan umum, tidak banyak gaya, tidak banyak bicara, tidak suka mencari perhatian orang, mencoba hidup dengan uang halal yang ada, dst … orang seperti ini tidak diperhatikan orang banyak, tidak dianggap bernilai karena tidak terlihat punya ‘sesuatu’ yang bisa diambil dari dirinya. Sebuah hidup penuh kejujuran tidak mendapat perhatian dari masyarakat, tetapi gaya hidup seorang oknum pejabat yang glamour (mewah) malah mendapatkan perhatian masyarakat meski penuh dengan gambaran tindakan korupsi, karena dari si kaya itu masih bisa diambil keuntungan duniawi … semacam mutualis simbiosis antara banyak pihak.

Begitu juga pada penawaran barang, ada barang yang dibungkus dalam kemasan yang begitu pancawarna (penuh warna), design yang menarik, import dari luar negeri. Apakah barang itu bisa tahan lama!? Sangat mungkin ada jebakan disana sini. Coba saja lihat para pedagang kecil saat ini, mereka berusaha mendapatkan bentuk (tampilan) makanan yang begitu menarik dengan warna warna yang sebetulnya sulit diperoleh dengan cara biasa, dengan rasa yang begitu ‘krenyes’ saat makanan itu digigit, dengan rasa yang begitu legit, harga yang terjangkau dan tahan lama. Sebuah cara menawarkan (marketing) barang dengan segala cara, segala daya, penuh tipu tipu, karena menggunakan berbagai bahan artificial, ada pewarna artificial, ada penambah rasa artificial, digoreng dengan minyak goreng yang ditambahkan zat zat lain yang sebenarnya bukan untuk bahan makanan, bisa tahan lama karena diberi bahan pengawet, dlsb. Dan sebenarnya akal-akal-an seperti itu bukan monopoli pedagang kecil saja, yang besar pun juga mencari berbagai cara untuk mendapatkan untung besar. Soal si pelanggan (pembeli) itu bisa sakit, bisa tewas, tidak jadi pertimbangan mereka.

Sesuatu yang indah dilihat, begitu menarik perhatian, begitu menggoda … itu yang terlihat dari tampilan luar, padahal belum tentu bagus untuk kesehatan, mengandung berbagai bahan ber-racun atau sesuatu yang seharusnya dilarang untuk diperjual-belikan sebagai bahan makanan, tetapi karena tidak ada yang peduli atau karena ketidak-tahuan orang, maka hal ini bisa terus berlangsung.

Orang mengutamakan tampilan luar yang terlihat lebih dulu daripada melihat latar belakang atau isinya. Mereka terpesona dengan penampilan luar, seakan akan tampilan luar itu pasti menggambarkan isinya, padahal di zaman modern ini, tampilan itu bisa dipulas, dipersolek, diperindah, dimark-up, operasi plastik, dimanipulasi, artificial, dlsb. Hal ini berlaku tidak hanya pada barang (benda) tetapi juga pada manusia. Saat ini ada banyak tampilan luar (cover depan) yang menipu, hanya fatamorgana, artificial dan manipulatif, dan bagi manusia tampilan seperti itu bisa berupa akting (sandiwara) dari keadaan yang sebenarnya, sebagian lagi merupakan kompensasi atau keinginan untuk balas dendam dari keadaan yang sebelumnya. Tampilan luar itu seakan akan menggambarkan seorang elite kelas atas, penuh kebaikan, begitu agamais, begitu baik hati dengan sumbangan sumbangan besar ke banyak lembaga agama, padahal cuma sekedar polesan untuk menutupi kejahatan mereka selama ini.

Pete, citra atau manfaat

Saat saya menyodorkan terapi pete kepada masyarakat, perlu perjuangan untuk bisa meyakinkan orang untuk menerima terapi pete ini … KARENA, tampilan sang pete selama ini yang begitu sederhana, makanan kelas rendahan cenderung kampungan, dibenci karena bau pesing … citra bawaan yang tidak cukup bagus padahal punya manfaat yang begitu besar. Banyak orang lebih percaya kepada sesuatu yang bergengsi, obat mahal dari luar negeri, obat yang resepnya ditulis profesional berkelas dari lembaga elite kelas atas, sekali kunjungan bisa senilai 1/4 UMP (upah minimum propinsi, gaji buruh) bahkan lebih, dst. Bagaimana dengan terapi pete!? Cuma hasil penelitian dari orang yang tidak dikenal, hanya orang biasa saja dalam banyak hal, dan terapi ini ditawarkan gratis tanpa biaya … dst. Mana mungkin terapi itu bisa bermanfaat kan!? Mana mungkin buah pete bisa bertanding dengan obat obat bergengsi itu?

Sudah biasa, orang memang lebih suka melihat bagian depan (cover, tampilan, pencitraan) tapi tidak suka mencoba memahami apa yang ada di bagian dalam, orang mau sesuatu yang instan, langsung terlihat begitu indah, begitu bagus, begitu menjanjikan lengkap dengan kalimat penuh rayuan. Orang tidak peduli apa yang terkandung di bagian dalam, apakah itu bermanfaat atau tidak, benar menyehatkan atau malah penuh racun, yang penting adalah mendapatkan gengsi saat memiliki sesuatu yang penuh gaya penuh gengsi, bahkan orang lebih suka menuliskan status (update) di media sosial bahwa dirinya sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit bergengsi kelas atas dalam rangka penyembuhan penyakit kronis tapi bergengsi yang bernilai ratusan juta rupiah dibanding mencoba menjaga kesehatan dengan sebuah terapi pete yang murah meriah.

Memang tidak mudah, untuk membujuk orang mencoba terapi pete, karena tampilannya yang kelas rendahan padahal punya banyak manfaat bagi kesehatan. Saya dan banyak orang yang tahu akan manfaat pete tidak akan pernah berhenti berusaha untuk meyakinkan banyak orang, kami bermaksud membantu orang banyak, kami ingin memperlihatkan bagian dalam (apa yang terkandung) di pete yang bisa membantu umat manusia, dan kami lakukan hal ini dengan sungguh sungguh dan ikhlas.

Sebaiknya, jangan lihat segala sesuatu cuma dari cover depan saja, cobalah perhatikan apa yang ada didalamnya. Seperti kata pepatah orang barat: “Don’t Judge The Books By It’s Cover”, bukalah bukunya, baca dan simak isinya, perhatikan apa yang ada didalamnya, benarkah ada berlian didalamnya atau malah cuma berisi lumpur kotor penuh racun.

Tidak mudah untuk merubah kebiasaan orang banyak yang sudah terbiasa hanya melihat cover buku tetapi tidak suka membaca bukunya, inilah kondisi masyarakat saat ini yang lebih suka segala sesuatu a’la instan dan tidak sabar menunggu suatu proses, makanan instan, mie instan, minuman instan, obat instan, dlsb, mereka kurang suka dengan segala sesuatu yang harus dibuat, diproses secara mandiri. Terapi pete jelas bukan herbal instan, perlu proses, meski sederhana dan relatif sebentar, tetap dianggap merepotkan.

Kalau saja kita mau menggali sedikit lebih dalam soal pete, sekedar searching dengan nama latin dari pete: “Parkia speciosa”, maka kita akan menemukan sekitar 66 ribu web-page, dari sejumlah itu, ada banyak penelitian terkait Parkia speciosa yang dilakukan oleh berbagai lembaga, berbagai univeristas di mancanegara. Ada banyak hasil penelitian yang mereka tampilkan, dari manfaat, ke budidaya sampai penyait yang menyerang pohon pete. Mereka mendapatkan zat (nutrisi) yang dikandung pete, mereka berhasil menemukan berbagai kemampuan dari pete, ada banyak kemungkinan pete untuk pengobatan berbagai penyakit … tetapi mereka baru melakukan uji laboratorium, dimana extract (sari) pete diadu dengan sel kanker, diberikan kepada binatang percobaan, dlsb … belum sampai kepada pemberian pete kepada manusia untuk pengobatan tertentu, dan mereka masih tetap berada pada penyebutan pete sebagai “Stink Bean” atau “Evil Smelling Bean”. Jadi mereka belum mengetahui secara pasti kenapa pete menyebabkan bau pesing, tidak sampai kepada ‘makan pete tidak menyebabkan bau pesing’, karena penelitian mereka masih lebih banyak kepada binatang percobaan.

Penelitian yang saya lakukan bertujuan menemukan kemampuan pete dalam beberapa variasi pemanasan (memasak) pete dan kulit pete, hanya beberapa variasi yang paling jelas perbedaan waktunya. Ada yang 3 menit pemanasan, 5 menit, 11 menit, 15 menit dan 20 menit. Bagi peserta biasa, saya hanya memberikan patokan: 1) merebus pete berikut kulit selama 3 menit, 2) merebus kulit pete selama 11 menit hanya bagi penderita hipertensi, dan 3) merebus kulit pete selama 20 menit bagi peseta non hipertensi. Sebenarnya ada perbedaan hasil dari perbedaan waktu pemanasan: semakin lama pemanasan maka semakin besar antioxidant yang dihasilkan, tetapi pada pemanasan kulit pete selama 11 menit itu, menghasilkan air pete yang paling kuat dalam menurunkan tekanan darah, yang bermanfaat bagi penderita hipertensi tetapi berbahaya bagi peserta non hipertensi. Bila ada yang tertarik dengan penelitian/pengamatan saya, bisa mengunduh buku “Terapi Pete Versi 7”, dan bagi peserta biasa cukup mengunduh “Resep Terapi Pete Versi 7”.

Memang tidak mudah memberikan terapi pete ini kepada orang yang sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat instan, mereka tidak suka menjalankan suatu proses meski yang sederhana, mereka juga kurang suka membaca, mungkin lebih suka menonton (melihat) atau mendengar tapi kemudian sering lupa. Jadi, meski disiapkan suatu buku terapi pete yang lengkap dengan berbagai keterangan, berbagai warning, berbagai cerita kesaksian, tetap sulit diterima, karena ‘nama buruk’ yang selama ini melekat di pete, karena banyak orang tidak mau bersusah susah, lebih memilih yang instan, seperti membeli obat KW-3 itu, meski harus antri berlama lama berkali kali, toh mereka kan cuma duduk duduk membuang waktu sambil nonton sinetron di televisi yang ada di ruang tunggu daripada harus membuang waktu sekitar 30 menit di dapur untuk menyiapkan buah pete dan air pete.

Kesimpulan

Sesuatu yang sederhana seperti terapi pete akan disepelekan, tidak dianggap, tidak dipandang, tidak dipedulikan, tidak berharga padahal terapi pete punya begitu banyak manfaat, bisa menyehatkan, bisa menjaga kesehatan, bisa membawakan kebahagian dan kesejahteraan bagi banyak orang.

Orang sederhana akan segera disepelekan, tidak dianggap, tidak dipandang, tidak didengar, tidak dipedulikan, tidak berharga, tidak bisa dimintai sumbangan yang besar, tidak ada kemungkinan untuk bisa menghisap kekayaannya (tidak terlihat punya uang, tidak punya jabatan, tidak punya fasilitas, tidak punya hubungan yang bisa memberikan keuntungan), tidak terlihat ada untungnya bergaul dengan orang seperti itu.

Orang terbiasa mendekat kepada orang yang punya tampilan hebat, punya rumah mewah, mobil mewah, terkenal, punya kekayaan melimpah, dengan harapan, barangkali saja bisa kecipratan kekayaan itu, siapa tahu bisa dapat sumbangan, mungkin ada kesempatan proyek, atau barangkali bisa dapat surat sakti untuk keperluan khusus, atau paling tidak bisa berbangga ‘status update’ di media sosial sedang ber-haha-hihi dengan orang terkenal nan kaya itu.

Memang sebuah gejala normal sih, ada gula pasti ada semut-nya, tidak peduli bahwa gula gula yang terhimpun itu berasal dari urusan haram, uang curian, uang korupsi, hasil rampokan, dlsb. Yang penting bisa ikutan … kalau perlu lakukan ‘jilat pantat’, ‘cari muka’, ‘muka setia’, membungkuk bungkuk sampai ‘jalan ndodok’ akan dilakukan demi mendapatkan sedikit gula gula dari sang tokoh itu.

Keadaan saat ini memang sudah seperti yang diramalkan oleh Joyoboyo, sudah banyak wong edan (orang gila), yang nggak ikut edan nggak kebagian, maka banyaklah orang orang mendekati ‘wong edan’ itu, agar ikut kebagian. Sebetulnya juga sudah dikatakan, sebaik-baik-nya wong edan … lebih bejo sing waras. Saat ini tidak banyak orang yang mau ikut orang waras, mayoritas lebih memilih mendekat kepada wong edan … begitulah gambaran ramalan yang sudah ada ribuan tahun lalu itu. Ternyata terbukti!!!

Yang waras, akan mencoba mengajak orang orang yang suka mengikuti wong edan agar menjauhi sikap edan, wong waras pasti mencoba mendekati wong edan, tidak untuk minta gula gula dari wong edan itu, tapi untuk mencoba memperbaiki karakter wong edan. Lalu, sing waras yang sederhana tapi baik hati mencoba memberikan jalan keluar bagi masyarakat … nah disinilah muncul persoalan, masyarakat tidak mau menerima apa yang diusulkan wong waras itu, karena wong waras biasanya tampil sederhana. Mau coba coba membereskan wong edan!? … Itu adalah ‘Mission imposible’!!!

Orang lebih suka mendekat kepada wong edan, lebih suka mengengar apa yang dikatakan wong edan, karena ada banyak gula gula yang bisa dihisap dari wong edan. Yang edan ada begitu banyak, malah mayoritas, maka yang mayoritas itulah secara aklamasi demokratis menganggap diri mereka sebagai sing waras, sementara yang tidak mau ikut bergabung dalam gerbong mayoritas edan dianggap tidak normal (ab-normal ataupun up-normal) maka yang sedikit inilah yang dianggap sebagai wong edan. Apalagi wong waras yang menawarkan terapi pete, wah orang ini dianggap dua kali edan-nya!!!

Inilah adanya …

Menuju Revolusi Mental

Menuju Revolusi Mental

Sewaktu kampanye, pasangan itu membawa slogan ‘Revolusi Mental’, slogan itu begitu menghipnotis banyak orang termasuk saya yang terkagum kagum akan pandangan mereka yang begitu ‘futuristis’ itu. Saya tidak mau sekedar berharap, saya ingin hal ini benar dilaksanakan. Untuk itu saya coba membuat Brainstorming soal Revolusi Mental.

Brainstorming:

  • 1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan.
  • 2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?
  • 3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?
  • 4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?
  • 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
  • 6) Apa saja yang akan dilakukan?
  • 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
  • 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
  • 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
  • 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
  • 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?
  • 12) Apakah hanya warga Indonesia yang perlu menjalankan revolusi mental? Bagaimana dengan warga Alien itu?

Saya akan posting pemikiran (analisa) saya soal revolusi mental, semoga tulisan ini bisa memicu terjadinya revolusi mental secara nyata, bukan sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’ yang kemudian dilepas ke langit … terlihat bagus saat di daratan, kemudian balon dilepas, terbang tinggi ke langit, tertiup angin, perlahan hilang dari pandangan dan semua orang melupakannya.

Semoga ada banyak orang mau ikut ‘urun rembug’ membahas masalah revolusi mental ini. Berikan komentar, masukan, pertanyaan, pernyataan, tetapi tolong dalam bahasa yang santun, usahakan dalam kalimat ‘positif’ jangan yang negatif, jangan sebut nama tetapi gunakan INITIAL atau berikan penyamaran untuk orang itu.

Saya bertanggung jawab atas artikel yang saya tulis, dan penulis komentar, masukan, pernyataan bertanggung jawab atas tulisannya masing masing.

Maaf, untuk komentar yang terlalu vulgar akan saya remove (buang).

Kecuali pertanyaan, seburuk apapun kalimat yang dimaksudkan hanya sebagai pertanyaan akan saya biarkan, tetapi pertanyaan vulgar yang dicampur dengan pernyataan yang vulgar akan saya remove.

* * *

1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan

Joko Widodo dilantik sebagai presiden RI ke-7 pada tanggal 20 Oktober 2014. Waktu telah bergulir dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan demi bulan tanpa disadari. Kita tidak sadar bahwa dari sejak hari pelantikan itu sampai dengan hari ini (24 April 2015) sudah 6 bulan 4 hari berlalu. JKW-JK sudah 6 bulan lebih berada di tampuk kepemimpinan di republik ini. Apakah yang sudah dilakukan JKW-JK?

Saya melihat banyak perubahan yang dilakukan mereka dalam 6 bulan itu, seperti masalah kelautan yang terlihat ada perubahan besar, atau masalah kartel migas yang terlihat telah di-PHK (putus hubungan kerja), dan ada banyak hal lain lagi. Saya tidak akan membahas soal ekonomi, soal keuangan, sosial, dlsb, karena hal hal itu tidak akan bisa diukur oleh orang awam seperti saya. Penilaian atas unjuk kerja bidang bidang itu sifatnya relatif, ada yang bilang sudah terlihat perubahan, yang kontra akan mengatakan tidak ada perubahan. Saya yakin perubahan ke arah positif dalam beberapa hal tersebut tidak akan terlihat dengan jelas dalam waktu 6 bulan karena itu bukanlah pertunjukan sulap sim-salabim yang bisa berubah begitu saja, masih perlu waktu untuk membuktikan kebenaran unjuk kerja mereka. Untuk itu saya siap menunggu.

Saya ingin membahas satu hal yang sangat penting yang telah mereka sebutkan dalam masa kampanye mereka (JKW-JK) yaitu “REVOLUSI MENTAL”. Mereka berdua telah berhasil menggapai kursi kepresidenan dan kursi wakil presiden dengan slogan “Revolusi Mental” yang dikumandangkan selama masa kampanye mereka.

Perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa memang menjadi harapan banyak orang. Rakyat begitu terpesona dengan slogan “Revolusi Mental” ini, mereka menginginkan perubahan dalam banyak hal, dalam perubahan mental para pamong yang seharusnya memomong rakyat, perubahan mental para pejabat yang seharusnya memanage berbagai permasalahan negara untuk kepentingan rakyat bukan untuk pemenuhan nafsu perut dan nafsu bawah perut para pejabat itu sendiri, perubahan mental dari budaya korupsi menjadi budaya orang jujur, perubahan mental dari para aparatur negara yang seharusnya menjaga keamanan negara, yang menjaga kehidupan rakyat dan bukan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara, dll … begitu banyak orang menginginkan revolusi mental benar terjadi, termasuk saya yang juga berharap akan adanya perubahan karakter bangsa dari ‘buruk ke baik’.

Benarkah program itu berjalan!? atau hanya sekedar jargon saat kampanye!?

Benarkah JKW-JK akan melakukan Revolusi Mental? Atau sekedar menyebutnya di saat kampanye dan sekarang setelah 6 bulan, rakyat sudah kembali tenggelam dalam rutinitas kehidupan nyata yang penuh permasalahan, begitu beratnya kehidupan dihempas oleh naik turun harga BBM, tenggelam dalam pemberitaan oknum yang menyebut dirinya bukan ‘penegak hukum’, bukan ‘pejabat negara’ agar terlepas dari status ‘tersangka’ dan orang itu akhirnya tetap dilantik sebagai wakil pimpinan tertinggi pamong keamanan sipil, mungkin rakyat diharapkan sudah mulai lupa dengan slogan itu. Orang lain boleh mulai lupa, tetapi saya tidak bisa melupakan hal penting ini, apalagi setelah pemerintahan berjalan 6 bulan, belum juga terlihat suatu gerakan terkait Revolusi Mental? Memang ada berita berita seperti penggelontoran 149 miliar rupiah untuk Revolusi Mental, tetapi apa yang akan diproses, apa yang akan direvolusi, bagaimana prosesnya, siapa dst … itu belum pernah disosialisasikan, bahkan Visi dan Misi Revolusi Mental yang katanya ada 28 paragraf belum saya dapatkan.

Revolusi mental inilah yang ingin saya bahas dalam tulisan saya.

Lho … kenapa harus ada perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa?

Apa benar si mental dan si moral itu telah terbenam di dalam lumpur yang begitu kotor?

Sudah begitu kotor, bau, jelek, ruwet, sehingga perlu dilakukan pembenahan, pembersihan, pencucian, pertukaran menjadi sesuatu yang bersih, wangi, mulus, dan bagus?

9 April 2015 yang lalu, seorang keturunan BK didalam pertemuan kelompok mereka di Bali telah mengobarkan semangat revolusi, seakan akan inilah yang dikehendaki oleh BK, seakan akan inilah jalan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, dimana rakyat apalagi pendukungnya diharuskan merubah diri, menyesuaikan diri, memperbaiki diri, dst.

Inilah bagian dari pidato dari sang keturunan BK itu:

“Revolusi mental melahirkan jiwa yang hidup, berkarakter, disiplin, penuh percaya diri, dan unggul dalam kualitas kehidupan. Republik Rakyat Tiongkok dan Singapura memberi contoh. Mereka membangun manusia yang berwawasan luas, berdisiplin, dan memiliki kepercayaan total dengan pemimpinnya sendiri,” …

“Nation building membutuhkan bantuan revolusi mental. Karena itu adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah! Ya, Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa. Bangkit dan bergeraklah kembali ke cita-cita nasional. Bangkit dan geraklah ke arah kesadaran cita-cita sosial. Bangkit dan geraklah menjadi manusia baru yang bekerja, berjuang, berbakti, berkorban guna membina bangsa dan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita nasional dan sosial itu, yakni cita-cita Proklamasi. Buanglah segala kemalasan, buang segala ego sentrisme, buang segala ketamakan. Jadilah manusia Indonesia, manusia pembina, manusia yang sampai ke tulang sumsumnya bersemboyan satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita,” …

Apakah si pembicara itu tahu benar ada sesuatu yang salah begitu fatal dengan mental bangsa, ada yang sangat tidak benar sehingga harus mengambil langkah cepat (revolusi), apakah dia tahu bagaimana caranya, adakah dia menggambarkan langkah langkah yang harus diambil oleh pemerintah, langkah apa, bagaimana, kapan, dst. Atau sekedar euphoria saja. Revolusi revolusi … Kok seperti pedagang keliling yang sedang menjual ember plastik: “… brak, brak … ember plastik anti pecah … brak, brak … ember plastik anti pecah”, atau seperti pedagang kaki lima di trotoar yang sedang menjual sisir plastik: “… sisir anti patah, anti patah!” sambil menekuk nekuk sisir itu sedemikian rupa.

Atau mungkin hal itu cuma sekedar jargon seperti video-clip pedagang minuman soda dari Amrik itu: “Yang penting SEMANGAT!”, padahal tidak tahu apa yang akan di-semangat-i, sangat mirip dengan slogan “Revolusi Mental”, hanya sekedar jargon padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, tidak tahu kenapa kita harus mengambil langkah cepat (revolusi) itu, tidak tahu dimana letak kesalahan yang ada, tidak tahu bagaimana memperbaikinya: “Yang penting semangat!!!” alias “Yang penting Revolusi!!!”.

Masih lebih bagus pesan yang disampaikan iklan minuman soda dari Amrik itu, yang penting semangat, agar orang orang bersemangat dalam segala hal, saat bekerja, dalam berkarier, saat menuntut ilmu, dalam perjalanan, saat berolahraga, saat menghadapi halangan rintangan, mungkin penuh semangat saat minum minuman soda itu, atau bersemangat dalam hal hal lain. Iklan itu masih cukup berhasil, cukup sukses karena kata ‘semangat’ memang bisa digunakan dalam banyak hal … tetapi REVOLUSI!? Tidak bisa orang menggunakan kata ‘revolusi’ begitu saja, tidak bisa seenak udel-nya sendiri mengucapkan “Mari kita revolusi!” padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, begitu juga dengan kalimat ‘Revolusi Mental’, kalimat dengan 2 kata ini begitu menyesatkan banyak orang, begitu menghipnotis banyak orang sehingga banyak orang terpengaruh untuk ikut mencoblos pasangan itu, karena ada dalam diri banyak orang keinginan untuk menemukan perubahan dalam kehidupan berbangsa bernegara yang saat ini terlihat begitu ambur-adul.

Jangan sampai ada orang orang yang mengobarkan semangat ‘Revolusi Mental’ padahal sebenarnya cuma sekedar mengobarkan semangat saja, mengobarkan semangat untuk berteriak ‘Revolusi Mental’, padahal tidak tahu apa apa soal ‘Revolusi Mental’ itu! Mungkin orang orang itu baru minum minuman soda penuh semangat sehingga begitu bersemangat untuk melantunkan kalimat 2 kata itu. Apakah orang orang itu tahu apa yang dimaksudkan dengan ‘Revolusi Mental’!? Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu?

Bisa saja orang yang mengobarkan semangat revolusi itu malah harus me-revolusi dirinya sendiri lebih dulu, karena dia sudah rusak lebih parah, dan sebenarnya dia telah membiarkan segala kerusakan terjadi selama ini!? Atau dia adalah bagian dari kerusakan selama ini!?

Atau kalimat 2 kata itu cuma sekedar propaganda seperti di negeri komunis!? Hanya sekedar kalimat penuh daya sihir (hipnotis) agar para pendengar terpesona dengan pidatonya itu.

Pesan dari tulisan ini:

Jangan cuma bisa teriak ‘Revolusi Mental’ padahal tidak tahu apa apa, tidak tahu IST dan SOLL dari kalimat 2 kata itu.

* * *

IST dan SOLL

IST adalah keadaan saat ini, SOLL adalah suatu keadaan yang ditargetkan, yang dituju, yang diinginkan.

Keadaan saat ini bisa menjadi landasan perencanaan menuju ke masa depan:

  • Dari keadaan (IST) yang sangat buruk menjadi keadaan masa depan (SOLL) yang lebih baik walau hasil akhir sebenarnya masih buruk tetapi tetap terlihat ada perubahan dari sangat buruk menjadi kurang buruk. Pencapaian dari sangat buruk menjadi kurang buruk sudah memberikan kemajuan, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi makan dua kali sehari @ setengah piring nasi putih dengan garam. orang tahu keadaan IST yang sangat buruk itu, dan mungkin saja SOLL yang ditetapkan sudah sampai ke tahap 3 kali makan lengkap, tetapi hanya berhasil meningkatkan sampai ke 2 kali makan nasi dengan garam itu.
  • Dari keadaan yang sangat buruk menjadi keadaan yang sangat baik, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi tiga kali sehari @ sepiring penuh nasi lengkap dengan lauk pauk ‘4 sehat 5 sempurna’ merupakan perencanaan dan perubahan yang sangat bagus, sempurna, istimewa, dan bisa jadi hanya sekedar impian, mimpi! IST-nya begitu buruk, SOLL yang ditetapkan bisa jadi sudah cukup tinggi, dan ternyata berhasil mencapai lebih dari yang direncanakan.

Tahukah kita IST dari ‘Revolusi Mental’ itu?

Tahukah kita SOLL dari ‘Revolusi Mental’ itu?

Tahukah kita apa saja yang akan dilakukan dari kondisi IST sampai mencapai kondisi SOLL itu?

Atau hanya sekedar mampu berteriak: “Kita harus menjalankan Revolusi Mental!!!”!?

* * *

2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘Revolusi Mental” itu?

Apa arti dan maksud 2 kata ‘Revolusi’ dan ‘Mental’ itu?

Rasanya saya belum pernah mendengar kedua hal itu dijabarkan dengan pasti, oleh presiden Jokowi atau oleh wakil presiden Jusuf Kalla ataupun oleh tim kampanye mereka. Sampai hari ini saya belum mengerti apa yang mereka maksudkan dengan revolusi mental itu, belum juga diketahui ada satu keadaan yang begitu penting, begitu berat sampai harus ada sebuah revolusi meski itu revolusi mental dan bukan revolusi fisik. Lalu, mental itu apa?, mental siapa yang begitu rusak atau begitu terbelakang?, apakah mental rakyat atau mental pejabat atau mental pemimpin yang rusak dan terbelakang itu? Bisakah ditampilkan yang mana saja, siapa saja yang rusak dan terbelakang itu!?

Kenapa harus ada revolusi mental ini?, sampai sejauh mana kita perlu melakukan revolusi mental?, lalu apa saja yang akan dilakukan?, siapa saja yang perlu digarap (harus ikut merevolusi mentalnya)?, siapa yang menggulirkan revolusi itu?, kemudian batasan (tujuan, hasil) akhir apa yang menggambarkan revolusi mental itu telah sukses?, apa faktor faktor yang menggambarkan revolusi itu telah sukses 100%?, berapa lamakah revolusi mental ini akan dijalankan sampai 100% itu tercapai?, berapa tahapan revolusi mental itu? … ada banyak pertanyaan lainnya terkait revolusi mental ini.

Pemerintahan ini sudah berjalan 6 bulan, tidak ada seorangpun di antara mereka yang memberikan penjabaran tentang revolusi mental ini. Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu???

* * *

Kembali ke IST dan SOLL

Diperlukan keberanian, kejujuran dari seorang pemimpin untuk mengatakan inilah IST kita saat ini. Jabarkan dimana keadaan IST yang begitu buruk, berapa banyak yang terlihat buruk, siapa saja yang terlihat buruk, dimana letak keburukan itu sampai kita perlu melakukan perubahan cepat. Akui dulu keadaan buruk yang ada saat ini seperti contoh berikut:

  • banyak orang makan hanya sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam, atau
  • membuka rahasia yang selama ini ditutup tutupi bahwa bangsa ini dari segala SDA yang diserahkan ke pihak ALIEN itu hanya menerima bagian dalam bentuk ROYALTI sebesar 1%, sudah berjalan 40 tahun lebih, dan itupun tak terbayarkan (mereka tidak selalu membayar!), atau
  • kita tampilkan bagaimana perangai orang banyak di jalanan, ada yang makan di jalan, minum di jalan, olahraga di jalan, bermain di jalan, pesta di jalan, upacara di jalan, ritual agama di jalan, aak di jalan, pipi di jalan, dst, atau
  • perlihatkan rekaman orang orang yang melanggar peraturan di jalan, melawan arus, anak anak dibawah umur membawa kendaran, pembiaran pelanggaran oleh oknum keamanan, oknum penuh keistimewaan yang melakukan pelanggaran, atau keluarga oknum yang melakukan itu, dst, dlsb, atau
  • tunjukkan IST buruk lainnya. Harus ada sesuatu yang begitu buruk sehingga kita perlu menjalankan ‘Revolusi Mental’! Tidak bisa kita diam seribu bahasa seakan akan tidak ada hal hal buruk yang menjadi dasar pencetus ‘Revolusi Mental’. Atau hanya sekedar melepas balon besar berisi angin ke udara bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?

Adakah orang orang yang berteriak ‘lakukan Revolusi Mental’ itu mengerti IST saat ini, dan orang itu mau membukakan IST saat ini, mau mengakui IST saat ini, mau mengungkapkan dengan jujur apa yang sudah dan sedang terjadi!? … sehingga keadaan saat ini terbentuk seperti itu.

Kalau sudah berani mengatakan “Perlu perubahan cepat” maka orang itu sudah seharusnya tahu apa yang akan dirubah, sudah tahu IST saat ini yang buruk, harus bisa (berani dan jujur) mengatakan dimana keburukan itu ada, dan dengan terbuka menyatakan inilah keadaan buruk saat ini yang harus dirubah, harus diganti, harus diperbaiki, harus direformasi, harus direstorasi, harus di-revolusi. Jangan hanya menggelar kampanye akan melakukan revolusi mental, sekedar menina-bobokan sebagian orang akan adanya perubahan besar dan cepat, sekedar menghipnotis sebagian orang yang tidak suka akan keadaan saat ini yang menginginkan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, dan atau sekedar kata manis penuh janji surga belaka, sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?!? Sekedar slogan, jargon, atau propaganda?

Sebagai seorang pemimpin negara seharusnya berani menentukan SOLL yang akan dicapai. Kalau orang itu tahu akan IST yang ada maka orang itu bisa menggunakan keadaan ini untuk merencanakan SOLL masa depan bangsa dan negara. Apa sajakah SOLL itu!?

Dia tidak bisa begitu saja mengatakan SOLL yang akan dicapai tanpa pengetahuan IST yang ada, jangan sampai SOLL yang ditampilkan itu kembali seperti balon besar berisi angin bertuliskan ‘SOLL yang akan dicapai’!

Seorang calon pemimpin bisa saja naik ke singgasana tanpa janji apa apa, hanya sekedar memperlihatkan kepiawaian dirinya selama ini, tidak perlu janji janji manis, hanya karakter penuh semangat, penuh kejujuran, keberanian, ketegasan dst. Orang seperti ini pasti berani menentukan sikap, berani mengatakan suatu ‘goal’ yang akan dicapai dalam kepemimpinannya dan keberaniannya itu didasarkan pada pengalaman dia dalam bidang yang dia geluti. Orang seperti itu tidak perlu suatu slogan aneh untuk mendapatkan kursi kepemimpinan, apa yang dia tawarkan pasti suatu goal realistis yang pasti.

Lain halnya dengan pasangan yang sudah berani menggunakan slogan ‘Revolusi Mental’ yang begitu mempesona dan menghipnotis banyak orang. Ini sebuah kalimat 2 kata yang sangat penuh makna, tidak sekedar melepas balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’. Pasangan yang punya slogan ini seharusnya punya visi masa depan (SOLL) yang sangat cemerlang berdasarkan pengetahuan keadaan saat ini (ke belakang atau IST) yang jelas dan berani mengungkapkan keadaan yang ada ini, dan bukan berdiam diri membiarkan balon udara berisi angin itu terbang melayang menghilang di langit. Waktu 6 bulan seharusnya cukup untuk mulai dengan membukakan mata rakyat terhadap keadaan yang ada saat ini (IST), dimulai dari hal-hal paling penting dan genting saat ini yang menyebabkan bangsa ini perlu menjalankan revolusi mental. 6 bulan sudah berjalan, dan pelaksana tugas yang ditunjuk untuk pembangunan karakter manusia itu belum terlihat bekerja dengan baik, jabatan yang dia terima malah dianggap jabatan ringan yang diperlihatkannya dalam pernyataannya bahwa tugas yang diterima dari presiden itu jabatan ringan dan dia mampu merangkap jabatan itu bersama jabatan partai. Sementara sang ibu dari pejabat itu, yang senior dalam partai itu begitu keras mengatakan perlunya revolusi mental, begitu mantap mengatakan inilah hal yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara, tetapi apa yang mereka tampilkan tidak terlihat bahwa mereka sebenarnya akan melakukan revolusi mental itu, terutama dalam merevolusi diri mereka lebih dulu, demi kepentingan bangsa dan negara.

* * *

3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?

Presiden, sebagai panglima tertinggi tentu tidak akan melakukan revolusi mental secara langsung, tetapi dia yang menentukan waktu untuk memulai pekerjaan besar, dialah ujung pangkal suatu rangkaian komando pelaksanaan proyek besar ini, dia ada di awal rangkaian misi pembenahan ini, dia hanya perlu menekan satu tombol ‘ON’ maka bergeraklah proses itu. Presiden berada di awal rangkaian, dia bukan berada di tengah rangkaian sebagai pelaksana lapangan, tetapi dia juga berada di ujung akhir rangkaian sebagai seseorang yang akan mendapatkan laporan hasil akhir dari proses revolusi mental ini, dia akan minta pertanggung jawaban dari kelompok pelaksana itu, kemudian sang presiden akan mempertanggung jawabkan kegiatan ini kepada rakyat.

Presiden, sebagai penentu, penekan tombol ‘ON’ untuk memulai rangkaian proses revolusi mental, dia harus tahu benar akan IST dan SOLL yang akan dijalankan oleh kelompok pelaksana itu. Dia tahu benar IST itu seperti apa, karena itulah kenapa dia menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, dia tahu benar keadaan IST saat ini sudah begitu parah: mental, moral, pikiran, logika, nurani, etika, budaya dan tentu sampai ke masalah religi juga berada dalam keadaan kritis, sudah begitu jauh tenggelam kedalam lumpur kotor bau dan gelap, maka semboyan itulah yang dia gunakan dalam masa kampanyenya di tahun 2014. Dia tahu benar akan IST saat ini maka dia berani menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, begitu juga seorang wanita senior kawakan suatu partai yang kebetulan keturunan BK, ibu ini tahu benar akan IST saat ini karena dia terlihat begitu penuh semangat meneriakkan ‘Revolusi – Revolusi Mental’, dia minta kepada setiap anggota partainya untuk melakukan revolusi mental, dia minta rakyat melakukan revolusi mental, dia tegaskan juga, hanya dengan revolusi mental maka bangsa negara ini akan bisa lepas dari keterpurukan!

Dari 33 menteri yang diangkat presiden Jokowi, ada satu menteri yang kiranya paling terkait dengan revolusi mental ini yaitu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang dijabat oleh PM, masih keturunan BK Sang Proklamator. Menteri koordinator inilah yang seharusnya bertanggung jawab soal revolusi mental. PM sebagai anak dari senior kawakan, kedua orang ini keturunan BK (katanya!), tentu punya kepiawaian dalam tugasnya sebagai koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan yang terkait dengan tugas utama pemerintahan ini yaitu menjalankan revolusi mental. Jadi, PM sebagai anak dari senior kawakan itu pasti punya kesempatan besar untuk menggerakan roda revolusi mental, lihat dan perhatikan pidato sang senior kawakan itu dalam konferensi di Bali di awal April 2015, mengedepankan revolusi, semua orang harus mau menjalankan revolusi.

Ditambah lagi dengan pernyataan PM, bahwa tugasnya sebagai MENKO (menteri koordinator) itu cukup ringan sehingga dia berani mengambil tugas rangkap, sebagai MENKO dan sebagai pejabat di partai. Sungguh mengagumkan apa yang dia tampilkan di awal April 2015 itu. Semoga unjuk kerjanya sebagai MENKO dalam menjalankan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan berjalan lancar adanya.

Marilah kita memusatkan perhatian kita kepada MENKO yang satu ini, kita lupakan jabatannya di partai itu, sebagai rakyat kita akan melihat prestasinya sebagai pejabat pemberintah, bukan sebagai pejabat partai, prestasinya di partai itu tidaklah penting untuk kita amati, untuk kita ikuti, itu urusan internal mereka di partai itu. Kita akan minta kepada menko ini untuk mulai memberikan definisi mental dan definisi revolusi mental yang jadi pekerjaan mereka, kaitan revolusi mental dalam pembangunan manusia dan kebudayaan. Kita minta mereka menjabarkan rencana kerja mereka dalam kegiatan REVOLUSI MENTAL ini, apa saja yang akan direvolusi, kenapa dan mengapa hal itu perlu direvolusi, berapa lama hal itu akan dilakukan, siapa yang melakukan apa, siapa yang terkena revolusi itu, kapan hal itu berjalan, bagaimana caranya, dst … dst. Kalau beliau tidak tahu, tentu bisa bertanya kepada ibunya senior kawakan yang telah berpidato soal revolusi mental di kongres Bali pada tanggal 9 April 2015 lalu, beliau yang senior itu sudah tahu apa yang akan dilakukan. (Semoga …!? Untuk itu, mari kita panjatkan doa.)

* * *

IST dan SOLL Revolusi Mental

Sudah 6 bulan pemerintahan ini berlangsung, begitu juga PM sudah 6 bulan menjadi MENKO, semoga beliau sudah memiliki informasi soal IST yang ada dalam kehidupan bangsa ini, apa saja yang sudah masuk ke lumpur kotor bau dan gelap sehingga perlu mendapatkan perawatan super cepat (Revolusi Mental), tentu beliau akan dengan senang hati dan murah hati men-sharing IST yang sudah lama tenggelam di lumpur kotor bau dan gelap itu, apa saja, siapa saja, dimana saja, seberapa parahnya IST itu, dst dlsb.

Jangan sampai, apa yang dikumandangkan dalam pidato sang senior kawakan itu hanya sekedar jargon, hanya propaganda, hanya balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’, dan hanya memberikan anjuran agar setiap orang melakukan revolusi mental sendiri sendiri. Kalau seperti itu rancangannya!?, rasanya rakyat tidak perlu diberi impian balon besar lagi, karena selama ini rakyat sudah berusaha sendiri sendiri, ada atau tidak ada pemerintah, rakyat sudah berjuang sendiri sendiri. Saya berharap, sang senior kawakan dan anaknya, PM akan bisa menjabarkan apa saja IST yang sedang dihadapi rakyat saat ini. Kemudian SOLL apa yang akan menjadi ‘GOAL’ akhir dari proses revolusi mental ini, apa saja misi-misi yang perlu dijalankan.

Inilah yang diharapkan dari PM, beliau perlu menjabarkan:

  • Apa saja IST saat ini?
  • Apa yang menjadi SOLL bagi bangsa ini?
  • Berapa tahapan (babak) revolusi itu, atau hanya satu tahapan saja?
  • Berapa lama setiap tahapan, dan berapa % besaran pencapaian dalam setiap tahapan itu, berapa nilai biaya revolusi mental ini, berapakah yang sudah dialokasikan untuk revolusi mental ini, dst.

* * *

4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?

Dari hasil penelusuran di media, ada berita terkait revolusi mental, seperti pernyataan sang MENKO yang ingin menjadikan jamu sebagai bagian dari revolusi mental, ada berita BAPPENAS mempaparkan penggunaan 149 miliar rupiah untuk program revolusi mental, dan beberapa berita lainnya seputar revolusi mental.

Jadi, sementara ini yang terlihat cuma pernyataan MENKO yang mengatakan pekerjaannya sebagai MENKO bisa dirangkap sebagai pejabat partai dan soal jamu, dan BAPPENAS merencanakan penggunaan uang untuk program revolusi mental. Saya belum pernah mendapatkan berita atau artikel baik dari pemerintah (MENKO ybs) atau BAPPENAS soal apa saja yang menjadi permasalahan bangsa ini (IST!!!) yang telah tenggelam di lumpur bau kotor dan gelap itu, kemudian tidak ada gambaran SOLL (target, tujuan, goal) yang bagaimana yang akan dicapai, juga tidak ada gambaran misi misi apa yang akan diambil untuk melancarkan program revolusi mental.

Beberapa berita atau artikel ataupun pembabaran dari MENKO ataupun BAPPENAS itu tidak menggambarkan sama sekali adanya keadaan kritis dari bangsa dan negara ini sehingga perlu ada satu gerakan yang disebut REVOLUSI MENTAL. Tampilan mereka saat pembabaran itu juga tidak terlihat sedang berhadapan dengan masalah bangsa yang begitu penting dan genting, mereka terlihat tidak cukup serius dalam menangani masalah itu, jadi pelaksanaan program revolusi mental ini terlihat sekedar ada, sekedar pencitraan belaka.

Ada berita dimana seorang tokoh (maaf, kelas kambing) mengatakan bahwa penggunaan kata ‘revolusi mental’ itu hanya mencomot dari revolusi idealisme komunis, yang kemudian dibantah oleh si pembawa program ini dengan menyatakan bahwa revolusi ini berasal dari BK dengan uraian lengkap terkait TRISAKTI dan entah apa lagi. Mungkin si tokoh kelas kambing itu tidak suka akan adanya revolusi mental, mungkin orang itu hanya asal cuap cuap, mungkin sekedar mencari sensasi, mungkin pengetahuan dia hanya ala kadarnya, dan kemungkinan lainnya lagi.

Jadi, setelah 6 bulan pemerintahan, saya belum membaca atau mungkin belum mendapatkan ‘sesuatu’ yang formal yang mereka sosialisasikan terkait revolusi mental, hanya ada beberapa kalimat yang mengatakan keadaan karakter bangsa yang terpuruk, yang menjadikan bangsa dan negara ini kalah bersaing, dan kalimat kalimat diluar pemerintah yang mengajak rakyat untuk menjalankan revolusi mental agar bisa bertahan dalam persaingan, agar bangsa dan negara ini bisa maju.

Semoga, saya segera mendapatkan berita yang positif dan formal dari pemerintah terkait revolusi mental ini. Semoga …

* * *

Pertanyaan berikut ini tidak perlu segera dibahas.

  • 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
  • 6) Apa saja yang akan dilakukan?
  • 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
  • 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
  • 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
  • 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
  • 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?

Saya akan posting tulisan tulisan yang ada dibuku seri “Menuju Revolusi Mental”, dari tulisan itu nanti bisa diketahui apa saja yang seharusnya diperlihatkan (pertanyaan 5), apa yang perlu dilakukan (6), siapa yang harus dilibatkan (7), misi misi apa saja (8), dst.

Ada 4 buah buku seri “menuju Revolusi Mental”:

  • 1) Yang Di Depan Menjadi Panutan (YDDMP, 173 halaman),
  • 2) Pendidikan Mental – Moral (PMM, 214 halaman),
  • 3) Mens Sana In Corpore Sano (MSICS, 174 halaman),
  • 4) Hukum Kasih Sayang (HKS, 92 halaman).

3 buah buku tersebut YDDMP, PMM dan MSICS di awal Januari 2015 sudah saya kirimkan ke JKW/JK melalui jalur pertemanan di Jogja yang punya jalur ke istana, tetapi entah sudah sampai atau belum, entah mandeg, atau mereka simpan sendiri, disampaikan ke pihak lain atau entah apa yang mereka lakukan dengan ke-3 buku itu. Buku ke-4 (HKS) memang belum saya kirim, karena itu merupakan buku kunci untuk menjawab permasalahan yang digambarkan di 3 buku sebelumnya. Setelah 4 bulan tanpa berita, saya ambil keputusan untuk melepas buku buku itu di internet. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai apakah tulisan saya itu layak atau tidak.

Jakarta, 28 April 2015

* * * * * * * * * *
KATALOG POSTINGAN “MENUJU REVOLUSI MENTAL”
* * * * * * * * * *

DAFTAR ISI YDDMP, Yang Di Depan menjadi Panutan
010 YDDMP – KATA PENGANTAR
011 YDDMP – Menuju Revolusi Mental
012 YDDMP – Optimisme Menyongsong Masa Depan Indonesia
013 YDDMP – Bangsa Ini Manja?
014 YDDMP – Suharto Tidak Punya Se-sen-pun!?
015 YDDMP – Beras Ketan dan Pesawat Terbang
016 YDDMP – Kekayaan Alam Indonesia
017 YDDMP – Arisan dan Bancakan Pat-Gulipat
018 YDDMP – Tiga Monyet Bijaksana: Wakil Rakyat Yang Buta
019 YDDMP – Hidup Tidak Bebas Korupsi
020 YDDMP – Kehidupan Tidak Bebas Korupsi (KTBK)
021 YDDMP – Korupsi: Imbas Korupsi
022 YDDMP – Rampok – Rampok!!!
023 YDDMP – Maling Kecil dan Maling Besar
024 YDDMP – Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
025 YDDMP – Sebuah Kebijakan atau Kebijaksanaan
026 YDDMP – Pam Swakarsa
027 YDDMP – Perintah Lisan
028 YDDMP – Sang Penjegal
029 YDDMP – Yang di DEPAN menjadi PANUTAN
030 YDDMP – Kisah 3 Pencuri Kepeng

DAFTAR ISI PMM, Pendidikan Mental – Moral
031 PMM – KATA PENGANTAR
032 PMM – Pendidikan Mental – Moral
033 PMM – Bicara Reformasi Bukan Hanya Politik
034 PMM – Langkah Yang Tidak Benar
035 PMM – Managemen Kartu
036 PMM – Ranjau Kehidupan
037 PMM – Gajah vs Semut/Kutu
038 PMM – MADANI
039 PMM – Subway-Marine
040 PMM – Moral di Jalan Raya
041 PMM – Motor Gadungan
042 PMM – Sepeda Motor Masuk Tol
043 PMM – Menghentikan Korupsi
044 PMM – Umatnya Allah
045 PMM – Silaturahmi
046 PMM – Belajar Sampai Ke Negeri Cina
047 PMM – S W O T
048 PMM – Industri Otomotif
049 PMM – Mencari Pilihan Industri Yang Sesuai
050 PMM – Pariwisata
051 PMM – Buku Cetak Pelajaran Sekolah
052 PMM – Surat ke Media Masa, Para Tokoh, Unicef, dll
053 PMM – Banjir dan Generasi Penerus
054 PMM – Berlalulintas Yang Baik
055 PMM – Perubahan Mental – Moral
056 PMM – Roda Kehidupan
057 PMM – Sumber Referensi

DAFTAR ISI MSICS, Mens Sana In Corpore Sano
058 MSICS – KATA PENGANTAR
059 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano
060 MSICS – KARTU, KARTU dan KARTU
061 MSICS – Mobil Ambulance & Kesehatan Pemimpin
062 MSICS – Buah Tidak Akan Jatuh Jauh Dari Pohonnya
063 MSICS – PERCONTOHAN YANG . . .
064 MSICS – Pembiaran atau Dibiarkan Terjadi
065 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano (2)
066 MSICS – Tidak Bebas Korupsi di Swasta
067 MSICS – INDONESIA KAYA RAYA
068 MSICS – 9 Miliar Penduduk Dunia
069 MSICS – GENERASI JEMPOLAN
070 MSICS – Sistem Jaminan Kesehatan
071 MSICS – Virus Korupsi
072 MSICS – Sakit dan Obat Herbal
073 MSICS – OBAT KW-1
074 MSICS – Obat Farmasi atau Herbal, KW-3 atau KW-1?
075 MSICS – Punya Otak
076 MSICS – Merayakan Hari Anak Sedunia
077 MSICS – Sehat dan Kesehatan
078 MSICS – Kerusakan Lingkungan dan Kesehatan
079 MSICS – Perilaku Oknum
080 MSICS – Persepsi, Sudut Pandang
081 MSICS – Manipulasi Persepsi, Skenario Adu Domba
082 MSICS – Back To Nature, Kembali Ke Alam

DAFTAR ISI HKS, Hukum Kasih Sayang
083 HKS – KATA PENGANTAR
084 HKS – Bukan Mimpi Biasa
085 HKS – Mimpi Besar Tentang Kehidupan
086 HKS – IST dan SOLL
087 HKS – Penjajahan Oleh Orang Asing
088 HKS – Para Penghianat Bangsa
089 HKS – Mimpi Indah Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
090 HKS – Rasa Kasih dan Rasa Sayang

 

BERGANTI TOPIK

BERGANTI TOPIK

Berawal dari rasa penasaran akan herbal yang mudah diperoleh di kota besar (saya lahir & hidup di kota besar), saya membatasi diri ke penggunaan herbal asli yang mudah dan jelas bisa ditemukan di kota besar. Saya mencoba makan pete rebus di tahun 1995 berdasarkan sebuah artikel pendek dari profesor Hembing yang menyatakan “Pete bagus untuk mencuci darah”.

Dari sebuah artikel pendek tanpa keterangan apa, berapa ataupun bagaimana menggunakan pete untuk cuci darah itu, dan dengan rasa penasaran yang cukup besar akhirnya saya masuk ke penelitian pete selama 15 tahun, dari tahun 1995 s/d tahun 2010. Uji coba makan buah pete rebus dan minum air rebusan kulit pete dimulai dengan diri sendiri sebagai kelinci percobaan kemudian berlanjut dengan sejumlah peserta dari lingkungan terbatas. Keberhasilan terapi pete dalam menyembuhkan beberapa penyakit terlihat nyata, hal ini memberikan dorongan bagi saya untuk menyebarkan terapi ini kepada masyarakat luas, kepada setiap orang dimanapun juga, itulah masa sosialisasi terapi pete sekaligus uji coba kepada peserta dalam jumlah yang lebih besar dengan jenis penyakit yang lebih banyak lagi.

Sosialisasi terapi pete berjalan sejak 2010/2011 s/d Oktober 2014, sekitar 4-5 tahun saya memperkenalkan terapi pete, saya tawarkan kepada kalangan luas, saya buatkan presentasi, saya siapkan buku resep dan buku tentang terapi pete. Selama masa sosialisasi itu, saya telah menulis 9 buku, dari versi 1 s/d versi 7 bahasa Indonesia dan 2 buah buku dalam bahasa Inggris.

Buku pete itu hampir semuanya tersedia di blog WordPress dan di Facebook page Pete Therapy 4 Love (PT4L), bebas didownload, boleh dicetak, boleh diberikan kepada orang lain dalam bentuk hardcopy (print out) maupun filenya. Dan bila seseorang punya link-nya, dia bisa langsung mengambil buku buku itu dari Google Drive.

Tinggal satu hutang saya kepada masyarakat yaitu buku “Terapi Pete versi 7”. Buku ini sudah lama selesai ditulis, tetapi belum saya taruh di Google Drive, karena buku itu sejak awal Maret 2015 berada dalam penilaian editor suatu penerbit buku di Yogyakarta. Ada kemungkinan buku ini akan saya taruh di Google Drive dalam beberapa hari ini.

Setelah 20 tahun (1995 – 2015) bermain dengan buah pete (Terapi Pete), saya ingin menyelesaikannya sampai tuntas, sudah saatnya saya berpindah jalur. Misteri buah pete sudah saya ungkap, sudah cukup jelas bahwa buah pete bisa memberikan bantuan bagi banyak orang, saya tidak perlu ber-cuap-cuap lagi untuk meyakinkan orang soal terapi ini, sudah banyak pembuktian soal kemampuan buah pete. Jadi, cukuplah pembahasan masalah pete untuk kesehatan, untuk bisa hidup sehat dan mendapatkan kebahagiaan didalam urusan 4X4, bisa diperoleh melalui buah pete (terapi pete).

Jadi lebih baik buku versi 7 ini saya lepas di internet sesegera mungkin, seperti buku-buku yang lainnya, setiap orang bebas mengunduh buku ini tanpa biaya, karena memang sedari awal saya tidak berniat mencari keuntungan dari masalah ketidak-sehatan orang banyak, saya ingin membantu sebanyak mungkin, sejauh mungkin, secepat mungkin, sebagai usaha ber-AMAL saya sebagai seorang manusia membantu orang lain dengan KASIH dan SAYANG. Seperti tertulis di bagian awal buku-buku itu, inilah CKS + IP, Cinta Kasih Sayang + Ilmu Pengetahuan, inilah sumbangan saya.

Hidup sehat bisa dijaga dengan terapi pete, berbagai penyakit bisa dibantu sembuhkan dengan terapi pete, untuk kebahagiaan rumah tangga juga bisa dibantu dengan terapi pete. Tersisa satu hal yaitu mendapatkan kesejahteraan dari buah pete, yang bisa diperoleh melalui budidaya buah pete, melalui perdagangan buah pete secara internasional. Untuk mencapai hal ini diperlukan kerjasama diantara banyak pihak, para petani, lembaga lembaga negara terkait perdagangan, lembaga terkait pertanian (budidaya), lembaga promosi, dlsb. Sosialisasi buah pete dan terapi pete kepada warga masyarakat secara nasional dan ke mancanegara perlu lebih digalakkan lagi, pembentukan demand dan supply pete secara nasional maupun internasional perlu dibentuk melalui promosi dan pemberitaan lewat berbagai media.

KESEHATAN BADAN (FISIK) & KESEHATAN JIWA

Pembahasan kesehatan badan (fisik) sudah cukup panjang, sudah cukup jelas, tidak perlu mahal, bisa dilakukan dengan mudah, dengan biaya yang relatif rendah, bisa dijalankan dengan peralatan yang sederhana, dan bahan bakunya (buah pete) tersedia di seluruh Indonesia. Saya kira saya bisa berhenti membahas masalah kesehatan badan (fisik), dan berpindah ke topik yang lebih penting yaitu membahas kesehatan pikiran, kesehatan jiwa, kesehatan mental dan moral.

Selanjutnya saya akan berpindah ke ‘Revolusi Mental’ yang pernah digaungkan oleh calon presiden ke 7 Indonesia dalam masa kampanyenya di tahun 2014, dan setelah pasangan itu berhasil naik ke tampuk pimpinan tertinggi negeri ini, maka inilah masanya pembahasan kesehatan jiwa, pikiran, mental dan moral, masa perubahan status kesehatan jiwa, pikiran, mental dan moral, dan perubahan ini harus dilakukan dengan cepat itulah Revolusi Mental. Saya akan membahas ‘Menuju Revolusi Mental’.

Sebetulnya di kwartal 3 tahun 2014 sampai Januari 2015 saya sudah menyiapkan 4 buah buku ‘Menuju Revolusi Mental’:

  1. Yang Di Depan Menjadi Panutan, 173 halaman,
  2. Pendidikan Mental – Moral, 214 halaman,
  3. Mens Sana In Corpore Sano, 174 halaman,
  4. Hukum Kasih Sayang, 92 halaman.

Satu demi satu artikel yang ada di buku-buku itu secara ber-urut-an akan saya pasang di blog WordPress kemudian di-taut-kan ke Facebook page ‘Menuju Revolusi Mental’ (MRM), setelah artikel suatu buku terpasang cukup lengkap kemudian bukunya akan saya taruh di Google Drive dan link-nya saya pasang di blog dan di MRM, mereka yang berminat bisa mendownload buku itu.

AKHIR PEMBAHASAN TERAPI PETE

Sesuai judul tulisan ini: “Berganti Topik”, selesailah pembahasan buah pete (Terapi Pete), saya sudah memberikan ‘CKS + IP’ kepada orang banyak dalam bentuk terapi pete, selanjutnya terserah kepada masyarakat, diterima atau tidaknya terapi ini merupakan pilihan orang per orang, saya sangat bersukur bila ada yang menjalankan terapi ini, juga tidak jadi masalah buat saya kalau ada yang tidak peduli akan terapi pete ini.

Buku-buku terapi pete telah saya kirimkan kepada beberapa lembaga akademis nasional, juga saya kirimkan kepada 3 professor dalam 3 bidang keilmuan, kepada beberapa media mancanegara, kepada beberapa penerbit, terima kasih banyak bila ada yang bersedia melanjutkan penelitian terapi pete ini atau ada yang mau menerbitkannya, kalau tidak ada yang bersedia juga tidak masalah buat saya, saya sudah mendahulukan lembaga/akademisi/media/penerbit dalam negeri, jangan salahkan saya kalau sampai terjadi ada peneliti mancanegara yang melanjutkan penelitian terapi pete ini lebih jauh lagi dan apalagi kalau buku serupa terbit di luar negeri.

Facebook page ‘Pete Therapy 4 Love’ (PT4L) tetap ada, terus berlanjut, akan saya isi dengan informasi terbaru seputar pelaksanaan terapi pete, mungkin ada testimoni dari para peserta, atau ada hal hal yang perlu diperhatikan para peserta terapi, atau informasi tentang herbal yang lain. Atau bila ada pertanyaan seputar terapi pete dan jawaban untuk itu akan saya tampilkan di PT4L

Saya akan berganti topik ke

MENUJU REVOLUSI MENTAL

Dalam beberapa hari ke depan, Facebook page ‘Menuju Revolusi Mental’ akan direlease setelah beberapa artikel terkait MRM terpasang di blog. Artikel demi artikel dari buku-buku MRM akan saya upload ke blog.

Jakarta, 20 April 2015