DIBOGEM JADI KINCLONG

Sy jadi naik darah membaca dongeng RS cs
… mereka orang-orang gendeng.
RS memang aktor kawakan, dia ahli bersandiwara, cukup sulit untuk bisa membaca dongeng RS ditambah riuh rendah teriakan dari berbagai arah, marah-marah menyerang pemerintah. Politikus tua, badut-badut sampai emak-emak ikut bermain theater seakan-akan kejadian yang menimpa RS adalah benar terjadi penuh kekejian. Teriakan perlawanan dari warga yang tak percaya juga cukup keras, netizen dari berbagai sisi ikut meramaikan suasana.
Jelas tidak mudah membuat analisa dongeng ini, dan setelah dilepas juga bikin mumet orang yang membaca untuk memahami analisa ini, maka terpaksa saya edit sedikit, saya tambahkan cara saya menganalisa dongeng RS ini.
Dongeng RS saya jawab dengan analisa 3 BABAK.
Sejak awal, kita membuat asumsi bahwa RS benar di-BOGEM-i seperti yang dia ceritakan. RS bercerita dia pergi ke Bandung mengikuti konferensi internasional di suatu hotel, kemudian di jalan dekat bandara Husein Sastranegara dia di-BOGEM-i oleh 3 orang, selanjutnya dia mengatakan dia lupa dan tidak ingat karena trauma. Saya mengarah kepada pertanyaan: “Bagaimana mungkin dia tidak bisa mengatakan lokasinya?” … itulah DONGENG BABAK 1.
Setelah itu kita beranjak ke hipotesa di BABAK 2, masih dengan asumsi bahwa benar dia di-BOGEM-i di Bandung pada tanggal 21 September, dan setelah beberapa hari istirahat, recovery, dia melaporkan keadaannya kepada sang BOSS. Tidak mungkin kan sang BOSS percaya begitu saja, tidak mungkin sekedar cerita di awang awang diterima. Toh kelihatan sang BOSS percaya banget DONGENG RS. RS dikatakan tidak ingat lokasi konferensi dan nama hotelnya, padahal ada waktu cukup panjang untuk istirahat dan kebenaran kegiatan RS pasti bisa ditelusuri lewat sang asisten atau lewat HP. Masih berdasarkan asumsi BABAK 1, dia benar di-BOGEM-I … masa sih sang BOSS menerima begitu saja!?
Di BABAK 3 muncul gosip-gosip di media sosial, kemudian fakta-fakta dari kepolisian.
Di bagian akhir, 2 alinea terakhir merupakan kesimpulan.
BABAK 1)
RS ini bukan single fighter. Seorang single fighter tidak punya asisten, segala urusan dilakukan sendiri, mengurus segalanya sendiri bahkan makan minum dia siapkan sendiri, kemana mana jalan sendiri, beli tiket pesawat sendiri, berangkat ke bandara sendiri, nyetir sendiri, nelpon RSVP acara konferensi sendiri, terima undangan acara sendiri … dst dst … hanya dia sendiri yg tahu apa yg dia lakukan.
IMPOSIBLE lah kalau RS ini single fighter.
Terus … sebagai single fighter, RS tidak akan pernah ngerumpi dia akan kemana, tidak pamer ke orang lain dia berada dimana, semua dia keep sendiri. Padahal … dia jelas suka nge-tag sana sini, itu jelas keinginan pamer. Dan … RS pasti punya asisten!
Terkait dongeng yg dia lepas: RS bilang lupa acaranya apa, lupa nama hotelnya, lupa rumah sakit nya … oke lah kalau lupa nama tempat dia dirawat. TETAPI … Tidak mungkin kan dia tidak bilang ke asistennya dia mau ikut acara apa di hotel mana. Asisten pasti mencatat kegiatan dia, asisten yg membelikan tiket, melakukan RSVP ke panitia dst.
Anggap saja dia gegar otak sampai lupa semuanya, masih trauma jadi tidak berani ke polisi.
Boleh saja dia tidak sempat lapor polisi … tapi nama acara dan nama hotel itu bisa dia tanya kepada asistennya atau dilihat di HP. Jadi, tanpa lapor pada hari kejadian, dia tetap bisa memberikan kepastian kebenaran keberadaan dia di Bandung … tinggal dikatakan, dia berada disini, disini, disitu dan itu bisa dicek kebenarannya.
Dari gelagatnya saja … mengatakan “lupa, lupa, lupa, tidak ingat” … sudah jelas itu pembohongan publik. Karena dia tetap bisa menggali informasi itu dari asisten atau sekedar periksa di HP dan itu jelas bisa disuguhkan kapanpun juga.
Mungkin RS gegar otak … asistennya juga! Terus, RS tidak pernah pamer dia di acara tsb di hotel anu. Jaman now, tidak meninggalkan jejak digital … tidak selfie, tidak kirim status, tidak ngerumpi, tidak ngetag di medsos … WOW! WOW! IMPOSIBLE!
JADI … JADI … Tanpa melihat adanya berita / data / fakta tentang operasi plastik, apa yg diceritakan RS bahwa dia dianiaya tengah malam setelah acara konferensi pers internasional di hotel di Bandung itu tidak bisa diterima. Itu PEMBOHONGAN BRUTAL!
BABAK 2)
PS menerima dongeng itu?
Begitu saja?
PS juga tidak bertanya kepada asistennya RS?
Jelas konspirasi …
PS sebagai seorang presiden (to be) menerima begitu saja dongeng itu!?
Langsung bikin konferensi pers tembak kiri kanan!
… nggak layak lah!
Seharusnya sebagai presiden (to be) dia harus dorong RS melaporkan kejadian itu ke polisi, tentu dengan kejelasan bukti konferensi apa, hotel apa … untuk cross check, PS juga bisa langsung cross check! Nelpon kek, suruh siapa kek! Nggak mampu!? atau memang sengaja!?
Kalaupun tidak ada visum dari rumah sakit, kebenaran keberadaan RS di Bandung bisa di-cross check, acaranya, hotelnya, kemudian dicari rumah sakitnya.
Nyatanya, PS tidak melakukan penjernihan situasi, dia tidak minta penjelasan kepada RS, dia tidak melakukan cross check, dia tidak mampu memberikan fakta kebenaran, dia malah menutup kebenaran itu! Dia bergerak tanpa kebenaran, membuat pernyataan yg menguatkan, melakukan konferensi pers mendukung RS, menembak kiri kanan dengan peluru bodong!
Kalau sebagai presiden (to be … if … if jadi!) menerima dongeng pepesan kosong tanpa kebenaran lalu dia bela mati-matian … ini mah presiden (teleTUBiEs) … nggak layak *to be!*_
BABAK 3)
Ada gosip RS operasi plastik, dia dirawat dari tgl 21 sampai tgl 24 … gosip ini sangat mungkin benar terjadi, ada potongan data muncul di berbagai penjuru. Gosip ini klop dengan pernyataan “lupa, lupa, lupa … tidak ingat”. Gosip ini lebih menjurus ke kebenaran, ini mematahkan pernyataan RS berada di Bandung, bahwa dia dianiaya orang. RS tidak bisa memberi bukti keberadaan dia di Bandung, tak berani menyebut acaranya, tak bisa menyebutkan hotelnya … kalau saja dia bisa sebutkan acaranya, hotelnya, tanpa nama dan lokasi rumah sakit, dia bisa lepas dari gosip oplas.
Di point ini, sy bikin MEME DIBOGEM JADI KINCLONG, sekitar jam 12 siang sy upload dan share ke beberapa group.
Kemudian siang (sore) tgl 3 September, polisi memberikan klarifikasi keberadaan RS di rumah sakit sulap wajah alias oplas alias operasi plastik dalam rentang waktu dari tgl 21 jam 17 sampai tgl 24 jam 21 RS berada didalam ruang perawatan … sama sekali bukan dianiaya, bukan berada di Bandung.
Akhirnya …
Terjawablah sudah … kecurigaan saya benar adanya. RS berbohong, dia membuat cerita palsu. PS, FZ, FH, AR atau siapapun mereka … kelihatan sengaja mendongkrak dongeng itu seakan-akan benar terjadi penganiayaan. Tak mungkin mereka tidak tahu RS membuat dongeng, mereka sengaja melakukan itu.
Kalau mereka percaya begitu saja tanpa cross check, tidak mencari kebenarannya lewat asisten si RS, atau melihat di HP si RS, mereka terlalu bodoh! Tetapi kalau mereka sebenarnya tahu dan mendongkrak dongeng itu menjadi suatu gambaran ancaman dari pihak lawan … maka mereka terlalu jahat!
Jakarta, 4 September 2018, jam 12:39