Obat Herbal sudah ada sejak 5000 tahun lalu

Obat Herbal sudah ada sejak 5000 tahun lalu

Lihat juga videonya: Obat Herbal sudah ada sejak 5000 tahun lalu

Herbal digunakan sejak awal kehidupan manusia. Catatan tentang penggunaan herbal itu sudah ada sejak >5000 tahun yang lalu. Setiap bangsa atau masyarakat memiliki herbal yang spezifik sesuai dengan kondisi alam lingkungan dimana mereka berada, di daerah tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan yang tinggi terdapat banyak variasi tanaman berpotensi herbal dan dalam jumlah yang besar, sementara di daerah jauh ke utara (selatan) dari katulistiwa yang punya 4 musim ada tanaman herbal yang hidup di alam itu dalam jumlah dan variasi tertentu tetapi jelas tidak sebanyak di daerah tropis seperti Indonesia.

Zaman dulu belum ada pabrik farmasi, belum ada dokter, belum ada apotik, cuma herbal dan cara pengobatan kuno yang digunakan oleh para ‘dukun’ penyembuh.

Kita perlu belajar dari bangsa lain, China, India atau Brasil.

China sejak 3000 BC (SM, Sebelum Masehi) sudah melakukan pengumpulan, pencatatan (dokumentasi) berbagai herbal. China punya sekitar 13,000 jenis herbal dan >100,000 resep pengobatan yang merupakan kombinasi dari ribuan herbal itu.

Sejak 5,000 tahun lalu, nenek moyang bangsa China telah menggunakan bagian tanaman, bagian hewan, dan mineral untuk meramu obat-obatan. Hal itu terbukti dengan adanya kitab pengobatan kuno Huang Di Nei Jing (Kitab Kaisar Kuning) dan Wai Tai Mi Yao (Resep Rahasia). Pemerintah China melakukan pengumpulan Obat Herbal (OH) dan Cara Pengobatan Kuno (CPK) itu demi menjaga kesehatan rakyatnya dan demi menghargai warisan leluhur.

OH dan CPK itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari rakyat China dan memasukkan OH dan CPK kedalam Sistem Kesehatan Nasional mereka, digabungkan dengan Obat & Pengobatan Modern (O&PM)

Punyakah Rasa Kasih?

Ironis memang! Negeri yang di-cap ‘komunis’ itu begitu menjaga warisan leluhur mereka, sementara masyarakat yang begitu bersemangat mengurusi agama, tidak melakukan dokumentasi obat dan pengobatan warisan leluhur, malah mengabaikan dan meninggalkan warisan leluhur.

Bangsa ini dikatakan punya sumber daya herbal yang begitu besar, kita punya hutan tropis yang sangat luas, sekitar 120 juta hektar, dengan potensi sekitar 10 ribu tanaman obat. Padahal dari satu species tanaman bisa diperoleh bermacam kemungkinan obat: daun, kulit, bunga, buah, kulit buah, akar, umbi, dlsb. Bahkan benalu pohon tertentu bisa menjadi herbal!

Leluhur Nusantara sudah berbudaya pada 25 ribu tahun silam (lihat Situs Gunung Padang) sementara diluar sana masih tidak berada. Tidak mungkin kalau leluhur tidak punya catatan OH dan CPK! Pasti ada, mereka sudah lama punya budaya tulis menulis, mereka telah menyiapkan banyak primbon dalam aksara Sansekerta untuk berbagai hal dalam kehidupan.

Tapi kok sulit sekali menemukan catatan (primbon) OH dan CPK itu?

Kemanakah primbon catatan OH dan CPK itu?

Hancur dimakan rayap atau terbakar/dibakar?

TANYA KENAPA!?

Kenapa hilang, kenapa tidak disimpan, kenapa tidak digunakan!?!?!?!?!?

Terlalu ???

  • Kenapa banyak orang lebih suka menggunakan cara pengobatan modern, minum obat buatan pabrik dari negeri barat?
  • Kenapa kita meng-anak-tiri-kan OH & CPK warisan leluhur, dan meng-anak-emas-kan obat dan pengobatan dari luar negeri?

Sistem Kesehatan Nasional

China, India dan Brazil sudah menerapkan penggunaan (OH) + teknologi kesehatan dari warisan leluhur / (CPK) kedalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) mereka, digabungkan dengan Obat dan Pengobatan Modern (O&PM).

OH + CPK + O&PM => SKN

Memang terlalu!!! … entahlah, terlalu goblok atau terlalu malas!?

negara-negara di dunia yang mencoba kembali ke alam alias Back to Nature, kembali ke terapi pengobatan warisan leluhur. Kembali ke OH & CPK yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Karena herbal jelas efektive, lebih aman dan cukup tersedia, sudah disediakan oleh YMK.

TCM & SKN

Negara-negara Eropa, Rusia, Australia dan Amerika juga mempelajari dan menggunakan Traditional Chinese Medicine (TCM) yang merupakan kumpulan berbagai penyembuhan alternatif seperti acupuncture, acupressure (massage, pijat), resonansi (dengung gong), terapi panas-dingin, dan berbagai jenis terapi/cara lainnya.

Banyak negara di dunia mulai menerapkan OH + CPK + O&PM

Banyak universitas di negara maju yang menyiapkan fakultas khusus TCM, Ayurveda, herbal, atau OH / CPK lainnya. Lihatlah sendiri di mbah Google, begitu banyak penawaran pendidikan terkait OH dan CPK.

RESUME:

  1. Penggunaan herbal sebagai obat sudah berlangsung ribuan tahun, sudah teruji secara langsung, tidak perlu ragu atau curiga terutama kepada herbal yang sudah jelas selama ini.
  2. Kita harus kembali ke OH dan CPK warisan leluhur, menggali, mengumpulkan, mendokumentasikan, menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dimasukkan kedalam SKN.
  3. Kita punya potensi besar, kita punya sumber daya herbal yang mungkin terbesar di dunia, akan ada banyak kegiatan terbentuk dalam pengelolaan, dalam pengolahan, dalam managemen OH, dalam pemasaran OH.
  4. Kita bisa menjual OH ke luar negeri, semua warga dunia sedang gandrung OH, pasar sudah terbuka, ini saatnya!
  5. Rubahlah wawasan kita, jangan ‘luar negeri minded’, karena leluhur sudah menyiapkan banyak hal … dan YMK sudah menyediakan berbagai obat bagi berbagai penyakit, itu semua ada di alam raya, di gunung, di desa, di kota, di hutan tropis. Peliharalah alam dengan lebih baik, jangan hancurkan hutan tropis karena disanalah gudang herbal … jadikan sumber devisa, bukan dengan merubah hutan tropis heterogen menjadi hutan homogen industri tanpa keseimbangan alam, tapi jadikan sumber OH!
  6. Para ahli kesehatan perlu belajar OH dan CPK, perlu belajar menulis resep OH seperti yang diajarkan oleh negara-negara maju belakangan ini … jangan bersiteguh bahwa OH itu tidak valid, penuh racun, berbahaya … terbalik deh … yang penuh racun dan berbahaya itu obat yang lain itu!

Referensi:
Chinese Herbology,Obat herbal China
https://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_herbology

Traditional Chinese Medicine Benefits, Herbs & Therapies
https://draxe.com/traditional-chinese-medicine/

TRADITIONAL CHINESE MEDICINE
http://www.ibiblio.org/chineseculture/contents/heal/p-heal-c01s08.html

AN INTRODUCTION TO CHINESE HERBS
http://www.itmonline.org/arts/herbintro.htm

Master of Applied Science (Chinese Herbal Medicine) – RMIT University
https://www.rmit.edu.au/study-with-us/levels-of-study/postgraduate-study/masters-by-coursework/mc138

California School of Herbal Studies

Home

Connecticut Institute for Herbal Studies
http://www.ctherbschool.com/

University of Bridgeport USA, Chinese Herbology (M.S.) Degree
http://www.bridgeport.edu/academics/graduate/masters-science-chinese-herbology/

Northwestern Health Sciences University
http://www.nwhealth.edu/acupuncture-oriental-medicine/

Phoenix Academy of Acupuncture and Herbal Medicine

Home

CHINESE MEDICINE IN ITALY, Integrated into the Modern Medical System
http://www.itmonline.org/arts/italy.htm

Danube University Krems, Traditional Chinese Medicine
http://www.donau-uni.ac.at/en/studium/tcm/index.php

New York College’s Graduate School of Oriental Medicin
http://www.nycollege.edu/academics/school-of-oriental-medicine

University of Maryland Medical Center (UMMC)
http://umm.edu/health/medical/altmed/treatment/herbal-medicine

Toronto School of Traditional Chinese Medicine
http://www.tstcm.com/html/tcm_education.html

Shenzhou Open University of Traditional Chinese Medicine, Leiden, Amsterdam, Netherland

Education in Chinese Medicine

Cinta-Kasih-Sayang (CKS) dan Obat Herbal

Cinta-Kasih-Sayang (CKS) dan Obat Herbal

Adakah agama yang mengajarkan kedengkian, kebencian, kemarahan, peperangan, pembunuhan, permusuhan, perbudakan atau penindasan antar manusia?

Tidak akan ada yang mengaku kalau agama mereka mengajarkan kedengkian, kebencian, kemarahan, peperangan, permusuhan, pembunuhan, perbudakan atau penindasan. Bahkan kelompok (bangsa) yang sudah melakukan peperangan, penindasan, pembunuhan, perbudakan terhadap kelompok (bangsa) lain tetap mengatakan bahwa agama mereka tidak mengajarkan hal-hal negative itu. Mereka pasti mengatakan agama mereka adalah yang terbaik, penuh kasih sayang! cinta damai!

Semua agama pasti mengajarkan Cinta, Kasih, dan Sayang (CKS). Rasa Cinta dalam hubungan manusia dengan Tuhan, rasa Kasih dalam hubungan antar manusia, dan rasa Sayang dalam hubungan manusia dengan alam. Tidak hanya agama yang mengajarkan CKS, kepercayaan kepada YMK, atau agama lama, agama asli kedaerahan juga mengajarkan CKS.

Cinta kepada YMK membawa tanggung jawab, yaitu menerapkan kasih sayang, memberikan rasa kasih kepada sesama manusia tanpa perbedaan SARA, memberikan rasa sayang kepada alam lingkungan.

Rasa Cinta kepada YMK ditampilkan dengan menjalankan aturan ataupun ritual agama dengan penuh semangat dan penuh keyakinan. Rasa Kasih dan rasa Sayang akan mendorong kepada perilaku, sikap, pengambilan langkah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam saat membuat peraturan, perundang-undangan, hukum, kebijakan, keputusan dlsb.

Rasa cinta kepada YMK berjalan seiring dengan rasa kasih dan rasa sayang. Kalau hanya sekedar mengikuti aturan dan menjalankan ritual, tetapi tidak ada rasa kasih, cinta itu hanya sekedar cinta egois belaka, bagaikan cinta anak remaja yang belum tahu akan tanggung jawab.

Penerapan kasih sayang itu sesuai dengan posisi / jabatan seseorang. Semakin tinggi posisi sesorang dalam masyarakat, maka sebaran rasa kasih juga semakin luas, begitu juga dengan rasa sayang, semakin tinggi posisi maka sebaran rasa sayang juga semakin luas.

Bila para pengemban amanat rakyat itu punya kasih, maka berbagai kekayaan bangsa / negara akan sepenuhnya dipergunakan, dikelola, dipersiapkan untuk menunjang kehidupan rakyat untuk pencapaian kesejahteraan rakyat. Tetapi nyatanya, SDA diberikan kepada para ALIEN, hutan dengan potensi obat herbal malah dibiarkan dibabat, digunduli, ditanami produk mono-kultur, lautan yang luas dibiarkan dirampok oleh nelayan asing yang bekerja sama dengan para kolaborator oknum petugas, dll dlsb … sudah begitu lama bangsa – negara ini kehilangan kekayaannya, rakyat tidak menerima manfaat dari kekayaan negara ini, hanya memperoleh bagian dalam bentuk ROYALTI sebesar 1% selama 40 tahun lebih. Para oknum itu menjadi anggota ARISAN – BANCAKAN komisi hasil kolaborasi mereka dengan para pencuri kekayaan itu. Segala aspek kehidupan dipersiapkan menjadi halangan bagi setiap warganegara, banyak hal dibikin susah, dibikin mahal, dibikin berbelit-belit, dibikin ruwet, dibikin tumpang tindih, dibikin panjang berlama-lama … dst dst. Pendidikan dijadikan komoditi perdagangan, kesempatan kerja dan pencari kerja dibiarkan berjalan sendiri-sendiri paling jauh dipertemukan dalam bursa kerja, kesehatan dijadikan ajang mencari komisi jualan obat dari luar negeri, dlsb … semua orang harus berjuang untuk diri sendiri … rasa sosial dikesampingkan, keuntungan pribadi (oknum pejabat) dinomor-satukan … dst dst.

Kenyataan yang sudah terjadi berpuluh tahun selama ini, para pengemban amanat rakyat yang agamis itu sebenarnya tak punya rasa kasih dan rasa sayang dan hal itu bisa dilihat dari pembiaran pengerukan SDA oleh para ALIEN, pencurian ikan di lautan oleh kapal ALIEN, pembiaran berbagai aspek kehidupan yang berjalan sendiri-sendiri … LIHATLAH SENDIRI, semua itu nyata terjadi … para oknum itu tak punya kasih-sayang, mereka memang beragama tetapi cuma sekedar menjalankan aturan yang berbau ritual belaka. Sebenarnya mereka tak CINTA kepada YMK.

Lihatlah pimpinan agama yang terlihat dengan kehidupan glamour menggunakan kendaraan super mahal, memiliki rumah mewah, bagaikan para raja yang tak perlu kerja tapi hidup mewah … mereka tak peduli kalau umatnya tak sekolah, tak punya rumah, tak punya pekerjaan, sakit tak punya biaya, hidup susah kekurangan … mereka tak punya KASIH SAYANG, berarti CINTA mereka bohong belaka, hanya sekedar tampilan ritual agama, mereka tak berTuhan, tak beragama.

Agama mengajarkan agar manusia mau berbagi kasih, saling membantu satu sama lain, bersifat dan bersikap sosial, tidak memikirkan diri sendiri tetapi berusaha mencapai satu kesejahteraan bersama, kebersamaan dalam hidup, kebahagiaan bersama … dst. Itulah sosialis religius!

Pembahasan Cinta-Kasih-Sayang bisa panjang lebar … buku “Menebar Kasih Sayang, Menuai Cinta” setebal 100 halaman sudah saya selesaikan per Agustus 2014, belum diterbitkan.

Saya tampilkan sebuah contoh penerapan rasa kasih untuk kemaslahatan umat, untuk kesejahteraan orang banyak, untuk kesehatan, kehidupan dan kebahagiaan rakyat.

Obat Herbal di China dan India, dan Sistem Kesehatan Nasional

Saya membaca di internet, ada 3 negara besar yang terus menjaga warisan leluhur mereka yang sudah ribuan tahun, yaitu obat-obatan herbal (OH) dan cara pengobatan kuno (CPK), yaitu: India, China dan Brasil. 3 negara ini tidak hanya menjaga keberadaan OH dan CPK tetapi juga menerapkan OH + CPK kedalam sistem kesehatan nasional (SKN) mereka.

Saya fokus kepada 2 negara yang ada di Asia, yaitu China dan India, 2 negara dengan penduduk terbesar di dunia. India jelas beragama hindu, sementara China dicap sebagai negara atheis, komunis … sosialis komunis. Dulu China ditakuti karena dianggap komunis, tetapi sekarang begitu banyak negara maju mengikuti cara pengobatan China, menggunakan OH dan CPK, ada yang memasukkan OH dan CPK dari China kedalam SKN mereka. Banyak universitas besar di berbagai negara dunia menyiapkan jurusan TCM (Tradional Chinese Medicine) mempelajari OH dan CPK dari China. Berbagi kasih tidak hanya berlaku di suatu negara (China ataupun India) tetapi menyebar ke seluruh dunia.

Banyak negara di Eropa yang terlihat begitu kapitalis ternyata sosialis, mereka menyiapkan berbagai penunjang kehidupan warganya, pendidikan, kesempatan kerja, kesehatan, perumahan. Mereka bukan sosialis komunis tetapi lebih ke sosialis religius.

Bagaimana dengan kita!?

Padahal hutan Indonesia punya potensi OH yang begitu besar!

Jakarta, 8 Desember 2016

******

Untuk membaca artikel klik=>  Obat Herbal di China dan India, dan Sistem Kesehatan Nasional

Silahkan download ebooknya: Obat Herbal (PDF).

Don’t Judge The Books By It’s Cover

“Don’t Judge The Books By It’s Cover”

Orang terbiasa melihat dan menilai segala hal dari tampilan luar, dari citra yang terlihat pertama, dari kemasan luar, dari kata-kata yang tertera di bagian depan sebuah kemasan. Saat melihat yang indah, cantik, ganteng, berwibawa, penuh senyum, kaya berpendidikan, naik mobil mewah, tinggal di rumah mewah di kawasan elite, maka seseorang terlihat punya isi yang bagus dengan kemungkinan punya karakter yang bagus, terlihat baik, terlihat sopan, terlihat sebagai orang alim, dll. Seperti juga penawaran suatu barang dalam bentuk iklan, dalam kemasan yang begitu indah penuh warna, dengan kata kata yang begitu menarik, maka barang yang ditawarkan akan dipercaya sebagai barang yang bagus.

Banyak orang salah nilai saat melihat seorang pejabat (oknum kah?) yang memiliki tampilan (citra) yang begitu menawan, terlihat berpendidikan tinggi, punya pengetahuan luas, agama-is, dst. Padahal, apa yang ada dalam hati orang itu belum tentu sama seperti tampilannya. Lihatlah begitu banyak oknum pejabat yang tertangkap karena korupsi, ternyata tampilan yang begitu menawan itu hanya sekedar tipuan. Ada pejabat partai yang mengusung agama malah kesandung susu dan sapi. Cobalah minta mereka membuat perhitungan antara nilai gaji yang mereka terima dengan besaran kekayaan yang mereka punya, benarkah kekayaan itu merupakan hasil tabungan dari gaji resmi mereka? Kita semua tahu, pencapaian nilai kekayaan yang fantastis itu tidak mungkin bisa dicapai karena tabungan gaji resmi mereka … tidak mungkin bisa segala kehidupan yang begitu menawan, rekening yang begitu fantastis merupakan hasil dari gaji resmi. Ada pamong keamanan sipil yang punya uang triliunan rupiah, apakah pejabat pamong itu memang begitu rajin menabung selama ratusan tahun!? Ada banyak rekening gendut milik para pamong … tak mungkin merupakan tabungan gaji resmi kan!?

Orang mudah terpesona dengan penampilan luar, seakan akan tampilan luar itu pasti menggambarkan isinya, sesuai dengan sifat dan karakter dari sesuatu (orang, dlsb). Kalau melihat seorang tokoh terkenal naik mobil mewah, berpakaian perlente, dengan tampilan agama-is (penuh pernak-pernik yang mencerminkan keber-agama-an, busana, perhiasan, ditambah dengan sikap yang terlihat patuh dan sesuai aturan agama), bertitel pendidikan tinggi dari universitas berkelas dunia, terlihat begitu sering tampil dalam kegiatan agama, dengan aksi aksi memberikan sumbangan (amal, sedekah, dll), apalagi yang bergelar agama-is berikut ritual ber-ulang kali cuci dosa, maka orang yang melihat sang tokoh seperti itu segera menggambarkan sang tokoh sebagai orang yang baik baik adanya.

Seperti kita ketahui bersama, ada begitu banyak oknum pejabat (sipil ataupun militer) yang memiliki penampilan seperti itu, padahal mereka cuma sekedar penjahat penjahat culas belaka, tapi lihat bagaimana mereka memberi tampilan cover luar mereka, begitu indah, begitu menawan, tak terlihat ada cela, begitu sempurna, begitu agama-is, begitu bernilai tinggi. Padahal, maaf, itu hanya tampilan luar (cover depan) yang menipu, hanya fatamorgana, hanya manipulatif, hanya akting (sandiwara) aktor aktor kelas kakap karena kebanyakan dari mereka cuma penjahat dan perampok adanya.

Sebaliknya kepada orang yang tampil sederhana dengan kehidupan sederhana, rumah sederhana, kendaraan sederhana atau naik angkutan umum, tidak banyak gaya, tidak banyak bicara, tidak suka mencari perhatian orang, mencoba hidup dengan uang halal yang ada, dst … orang seperti ini tidak diperhatikan orang banyak, tidak dianggap bernilai karena tidak terlihat punya ‘sesuatu’ yang bisa diambil dari dirinya. Sebuah hidup penuh kejujuran tidak mendapat perhatian dari masyarakat, tetapi gaya hidup seorang oknum pejabat yang glamour (mewah) malah mendapatkan perhatian masyarakat meski penuh dengan gambaran tindakan korupsi, karena dari si kaya itu masih bisa diambil keuntungan duniawi … semacam mutualis simbiosis antara banyak pihak.

Begitu juga pada penawaran barang, ada barang yang dibungkus dalam kemasan yang begitu pancawarna (penuh warna), design yang menarik, import dari luar negeri. Apakah barang itu bisa tahan lama!? Sangat mungkin ada jebakan disana sini. Coba saja lihat para pedagang kecil saat ini, mereka berusaha mendapatkan bentuk (tampilan) makanan yang begitu menarik dengan warna warna yang sebetulnya sulit diperoleh dengan cara biasa, dengan rasa yang begitu ‘krenyes’ saat makanan itu digigit, dengan rasa yang begitu legit, harga yang terjangkau dan tahan lama. Sebuah cara menawarkan (marketing) barang dengan segala cara, segala daya, penuh tipu tipu, karena menggunakan berbagai bahan artificial, ada pewarna artificial, ada penambah rasa artificial, digoreng dengan minyak goreng yang ditambahkan zat zat lain yang sebenarnya bukan untuk bahan makanan, bisa tahan lama karena diberi bahan pengawet, dlsb. Dan sebenarnya akal-akal-an seperti itu bukan monopoli pedagang kecil saja, yang besar pun juga mencari berbagai cara untuk mendapatkan untung besar. Soal si pelanggan (pembeli) itu bisa sakit, bisa tewas, tidak jadi pertimbangan mereka.

Sesuatu yang indah dilihat, begitu menarik perhatian, begitu menggoda … itu yang terlihat dari tampilan luar, padahal belum tentu bagus untuk kesehatan, mengandung berbagai bahan ber-racun atau sesuatu yang seharusnya dilarang untuk diperjual-belikan sebagai bahan makanan, tetapi karena tidak ada yang peduli atau karena ketidak-tahuan orang, maka hal ini bisa terus berlangsung.

Orang mengutamakan tampilan luar yang terlihat lebih dulu daripada melihat latar belakang atau isinya. Mereka terpesona dengan penampilan luar, seakan akan tampilan luar itu pasti menggambarkan isinya, padahal di zaman modern ini, tampilan itu bisa dipulas, dipersolek, diperindah, dimark-up, operasi plastik, dimanipulasi, artificial, dlsb. Hal ini berlaku tidak hanya pada barang (benda) tetapi juga pada manusia. Saat ini ada banyak tampilan luar (cover depan) yang menipu, hanya fatamorgana, artificial dan manipulatif, dan bagi manusia tampilan seperti itu bisa berupa akting (sandiwara) dari keadaan yang sebenarnya, sebagian lagi merupakan kompensasi atau keinginan untuk balas dendam dari keadaan yang sebelumnya. Tampilan luar itu seakan akan menggambarkan seorang elite kelas atas, penuh kebaikan, begitu agamais, begitu baik hati dengan sumbangan sumbangan besar ke banyak lembaga agama, padahal cuma sekedar polesan untuk menutupi kejahatan mereka selama ini.

Pete, citra atau manfaat

Saat saya menyodorkan terapi pete kepada masyarakat, perlu perjuangan untuk bisa meyakinkan orang untuk menerima terapi pete ini … KARENA, tampilan sang pete selama ini yang begitu sederhana, makanan kelas rendahan cenderung kampungan, dibenci karena bau pesing … citra bawaan yang tidak cukup bagus padahal punya manfaat yang begitu besar. Banyak orang lebih percaya kepada sesuatu yang bergengsi, obat mahal dari luar negeri, obat yang resepnya ditulis profesional berkelas dari lembaga elite kelas atas, sekali kunjungan bisa senilai 1/4 UMP (upah minimum propinsi, gaji buruh) bahkan lebih, dst. Bagaimana dengan terapi pete!? Cuma hasil penelitian dari orang yang tidak dikenal, hanya orang biasa saja dalam banyak hal, dan terapi ini ditawarkan gratis tanpa biaya … dst. Mana mungkin terapi itu bisa bermanfaat kan!? Mana mungkin buah pete bisa bertanding dengan obat obat bergengsi itu?

Sudah biasa, orang memang lebih suka melihat bagian depan (cover, tampilan, pencitraan) tapi tidak suka mencoba memahami apa yang ada di bagian dalam, orang mau sesuatu yang instan, langsung terlihat begitu indah, begitu bagus, begitu menjanjikan lengkap dengan kalimat penuh rayuan. Orang tidak peduli apa yang terkandung di bagian dalam, apakah itu bermanfaat atau tidak, benar menyehatkan atau malah penuh racun, yang penting adalah mendapatkan gengsi saat memiliki sesuatu yang penuh gaya penuh gengsi, bahkan orang lebih suka menuliskan status (update) di media sosial bahwa dirinya sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit bergengsi kelas atas dalam rangka penyembuhan penyakit kronis tapi bergengsi yang bernilai ratusan juta rupiah dibanding mencoba menjaga kesehatan dengan sebuah terapi pete yang murah meriah.

Memang tidak mudah, untuk membujuk orang mencoba terapi pete, karena tampilannya yang kelas rendahan padahal punya banyak manfaat bagi kesehatan. Saya dan banyak orang yang tahu akan manfaat pete tidak akan pernah berhenti berusaha untuk meyakinkan banyak orang, kami bermaksud membantu orang banyak, kami ingin memperlihatkan bagian dalam (apa yang terkandung) di pete yang bisa membantu umat manusia, dan kami lakukan hal ini dengan sungguh sungguh dan ikhlas.

Sebaiknya, jangan lihat segala sesuatu cuma dari cover depan saja, cobalah perhatikan apa yang ada didalamnya. Seperti kata pepatah orang barat: “Don’t Judge The Books By It’s Cover”, bukalah bukunya, baca dan simak isinya, perhatikan apa yang ada didalamnya, benarkah ada berlian didalamnya atau malah cuma berisi lumpur kotor penuh racun.

Tidak mudah untuk merubah kebiasaan orang banyak yang sudah terbiasa hanya melihat cover buku tetapi tidak suka membaca bukunya, inilah kondisi masyarakat saat ini yang lebih suka segala sesuatu a’la instan dan tidak sabar menunggu suatu proses, makanan instan, mie instan, minuman instan, obat instan, dlsb, mereka kurang suka dengan segala sesuatu yang harus dibuat, diproses secara mandiri. Terapi pete jelas bukan herbal instan, perlu proses, meski sederhana dan relatif sebentar, tetap dianggap merepotkan.

Kalau saja kita mau menggali sedikit lebih dalam soal pete, sekedar searching dengan nama latin dari pete: “Parkia speciosa”, maka kita akan menemukan sekitar 66 ribu web-page, dari sejumlah itu, ada banyak penelitian terkait Parkia speciosa yang dilakukan oleh berbagai lembaga, berbagai univeristas di mancanegara. Ada banyak hasil penelitian yang mereka tampilkan, dari manfaat, ke budidaya sampai penyait yang menyerang pohon pete. Mereka mendapatkan zat (nutrisi) yang dikandung pete, mereka berhasil menemukan berbagai kemampuan dari pete, ada banyak kemungkinan pete untuk pengobatan berbagai penyakit … tetapi mereka baru melakukan uji laboratorium, dimana extract (sari) pete diadu dengan sel kanker, diberikan kepada binatang percobaan, dlsb … belum sampai kepada pemberian pete kepada manusia untuk pengobatan tertentu, dan mereka masih tetap berada pada penyebutan pete sebagai “Stink Bean” atau “Evil Smelling Bean”. Jadi mereka belum mengetahui secara pasti kenapa pete menyebabkan bau pesing, tidak sampai kepada ‘makan pete tidak menyebabkan bau pesing’, karena penelitian mereka masih lebih banyak kepada binatang percobaan.

Penelitian yang saya lakukan bertujuan menemukan kemampuan pete dalam beberapa variasi pemanasan (memasak) pete dan kulit pete, hanya beberapa variasi yang paling jelas perbedaan waktunya. Ada yang 3 menit pemanasan, 5 menit, 11 menit, 15 menit dan 20 menit. Bagi peserta biasa, saya hanya memberikan patokan: 1) merebus pete berikut kulit selama 3 menit, 2) merebus kulit pete selama 11 menit hanya bagi penderita hipertensi, dan 3) merebus kulit pete selama 20 menit bagi peseta non hipertensi. Sebenarnya ada perbedaan hasil dari perbedaan waktu pemanasan: semakin lama pemanasan maka semakin besar antioxidant yang dihasilkan, tetapi pada pemanasan kulit pete selama 11 menit itu, menghasilkan air pete yang paling kuat dalam menurunkan tekanan darah, yang bermanfaat bagi penderita hipertensi tetapi berbahaya bagi peserta non hipertensi. Bila ada yang tertarik dengan penelitian/pengamatan saya, bisa mengunduh buku “Terapi Pete Versi 7”, dan bagi peserta biasa cukup mengunduh “Resep Terapi Pete Versi 7”.

Memang tidak mudah memberikan terapi pete ini kepada orang yang sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat instan, mereka tidak suka menjalankan suatu proses meski yang sederhana, mereka juga kurang suka membaca, mungkin lebih suka menonton (melihat) atau mendengar tapi kemudian sering lupa. Jadi, meski disiapkan suatu buku terapi pete yang lengkap dengan berbagai keterangan, berbagai warning, berbagai cerita kesaksian, tetap sulit diterima, karena ‘nama buruk’ yang selama ini melekat di pete, karena banyak orang tidak mau bersusah susah, lebih memilih yang instan, seperti membeli obat KW-3 itu, meski harus antri berlama lama berkali kali, toh mereka kan cuma duduk duduk membuang waktu sambil nonton sinetron di televisi yang ada di ruang tunggu daripada harus membuang waktu sekitar 30 menit di dapur untuk menyiapkan buah pete dan air pete.

Kesimpulan

Sesuatu yang sederhana seperti terapi pete akan disepelekan, tidak dianggap, tidak dipandang, tidak dipedulikan, tidak berharga padahal terapi pete punya begitu banyak manfaat, bisa menyehatkan, bisa menjaga kesehatan, bisa membawakan kebahagian dan kesejahteraan bagi banyak orang.

Orang sederhana akan segera disepelekan, tidak dianggap, tidak dipandang, tidak didengar, tidak dipedulikan, tidak berharga, tidak bisa dimintai sumbangan yang besar, tidak ada kemungkinan untuk bisa menghisap kekayaannya (tidak terlihat punya uang, tidak punya jabatan, tidak punya fasilitas, tidak punya hubungan yang bisa memberikan keuntungan), tidak terlihat ada untungnya bergaul dengan orang seperti itu.

Orang terbiasa mendekat kepada orang yang punya tampilan hebat, punya rumah mewah, mobil mewah, terkenal, punya kekayaan melimpah, dengan harapan, barangkali saja bisa kecipratan kekayaan itu, siapa tahu bisa dapat sumbangan, mungkin ada kesempatan proyek, atau barangkali bisa dapat surat sakti untuk keperluan khusus, atau paling tidak bisa berbangga ‘status update’ di media sosial sedang ber-haha-hihi dengan orang terkenal nan kaya itu.

Memang sebuah gejala normal sih, ada gula pasti ada semut-nya, tidak peduli bahwa gula gula yang terhimpun itu berasal dari urusan haram, uang curian, uang korupsi, hasil rampokan, dlsb. Yang penting bisa ikutan … kalau perlu lakukan ‘jilat pantat’, ‘cari muka’, ‘muka setia’, membungkuk bungkuk sampai ‘jalan ndodok’ akan dilakukan demi mendapatkan sedikit gula gula dari sang tokoh itu.

Keadaan saat ini memang sudah seperti yang diramalkan oleh Joyoboyo, sudah banyak wong edan (orang gila), yang nggak ikut edan nggak kebagian, maka banyaklah orang orang mendekati ‘wong edan’ itu, agar ikut kebagian. Sebetulnya juga sudah dikatakan, sebaik-baik-nya wong edan … lebih bejo sing waras. Saat ini tidak banyak orang yang mau ikut orang waras, mayoritas lebih memilih mendekat kepada wong edan … begitulah gambaran ramalan yang sudah ada ribuan tahun lalu itu. Ternyata terbukti!!!

Yang waras, akan mencoba mengajak orang orang yang suka mengikuti wong edan agar menjauhi sikap edan, wong waras pasti mencoba mendekati wong edan, tidak untuk minta gula gula dari wong edan itu, tapi untuk mencoba memperbaiki karakter wong edan. Lalu, sing waras yang sederhana tapi baik hati mencoba memberikan jalan keluar bagi masyarakat … nah disinilah muncul persoalan, masyarakat tidak mau menerima apa yang diusulkan wong waras itu, karena wong waras biasanya tampil sederhana. Mau coba coba membereskan wong edan!? … Itu adalah ‘Mission imposible’!!!

Orang lebih suka mendekat kepada wong edan, lebih suka mengengar apa yang dikatakan wong edan, karena ada banyak gula gula yang bisa dihisap dari wong edan. Yang edan ada begitu banyak, malah mayoritas, maka yang mayoritas itulah secara aklamasi demokratis menganggap diri mereka sebagai sing waras, sementara yang tidak mau ikut bergabung dalam gerbong mayoritas edan dianggap tidak normal (ab-normal ataupun up-normal) maka yang sedikit inilah yang dianggap sebagai wong edan. Apalagi wong waras yang menawarkan terapi pete, wah orang ini dianggap dua kali edan-nya!!!

Inilah adanya …

Menuju Revolusi Mental

Menuju Revolusi Mental

Sewaktu kampanye, pasangan itu membawa slogan ‘Revolusi Mental’, slogan itu begitu menghipnotis banyak orang termasuk saya yang terkagum kagum akan pandangan mereka yang begitu ‘futuristis’ itu. Saya tidak mau sekedar berharap, saya ingin hal ini benar dilaksanakan. Untuk itu saya coba membuat Brainstorming soal Revolusi Mental.

Brainstorming:

  • 1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan.
  • 2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?
  • 3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?
  • 4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?
  • 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
  • 6) Apa saja yang akan dilakukan?
  • 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
  • 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
  • 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
  • 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
  • 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?
  • 12) Apakah hanya warga Indonesia yang perlu menjalankan revolusi mental? Bagaimana dengan warga Alien itu?

Saya akan posting pemikiran (analisa) saya soal revolusi mental, semoga tulisan ini bisa memicu terjadinya revolusi mental secara nyata, bukan sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’ yang kemudian dilepas ke langit … terlihat bagus saat di daratan, kemudian balon dilepas, terbang tinggi ke langit, tertiup angin, perlahan hilang dari pandangan dan semua orang melupakannya.

Semoga ada banyak orang mau ikut ‘urun rembug’ membahas masalah revolusi mental ini. Berikan komentar, masukan, pertanyaan, pernyataan, tetapi tolong dalam bahasa yang santun, usahakan dalam kalimat ‘positif’ jangan yang negatif, jangan sebut nama tetapi gunakan INITIAL atau berikan penyamaran untuk orang itu.

Saya bertanggung jawab atas artikel yang saya tulis, dan penulis komentar, masukan, pernyataan bertanggung jawab atas tulisannya masing masing.

Maaf, untuk komentar yang terlalu vulgar akan saya remove (buang).

Kecuali pertanyaan, seburuk apapun kalimat yang dimaksudkan hanya sebagai pertanyaan akan saya biarkan, tetapi pertanyaan vulgar yang dicampur dengan pernyataan yang vulgar akan saya remove.

* * *

1) Pemerintahan JKW-JK sudah berjalan 6 bulan

Joko Widodo dilantik sebagai presiden RI ke-7 pada tanggal 20 Oktober 2014. Waktu telah bergulir dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan demi bulan tanpa disadari. Kita tidak sadar bahwa dari sejak hari pelantikan itu sampai dengan hari ini (24 April 2015) sudah 6 bulan 4 hari berlalu. JKW-JK sudah 6 bulan lebih berada di tampuk kepemimpinan di republik ini. Apakah yang sudah dilakukan JKW-JK?

Saya melihat banyak perubahan yang dilakukan mereka dalam 6 bulan itu, seperti masalah kelautan yang terlihat ada perubahan besar, atau masalah kartel migas yang terlihat telah di-PHK (putus hubungan kerja), dan ada banyak hal lain lagi. Saya tidak akan membahas soal ekonomi, soal keuangan, sosial, dlsb, karena hal hal itu tidak akan bisa diukur oleh orang awam seperti saya. Penilaian atas unjuk kerja bidang bidang itu sifatnya relatif, ada yang bilang sudah terlihat perubahan, yang kontra akan mengatakan tidak ada perubahan. Saya yakin perubahan ke arah positif dalam beberapa hal tersebut tidak akan terlihat dengan jelas dalam waktu 6 bulan karena itu bukanlah pertunjukan sulap sim-salabim yang bisa berubah begitu saja, masih perlu waktu untuk membuktikan kebenaran unjuk kerja mereka. Untuk itu saya siap menunggu.

Saya ingin membahas satu hal yang sangat penting yang telah mereka sebutkan dalam masa kampanye mereka (JKW-JK) yaitu “REVOLUSI MENTAL”. Mereka berdua telah berhasil menggapai kursi kepresidenan dan kursi wakil presiden dengan slogan “Revolusi Mental” yang dikumandangkan selama masa kampanye mereka.

Perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa memang menjadi harapan banyak orang. Rakyat begitu terpesona dengan slogan “Revolusi Mental” ini, mereka menginginkan perubahan dalam banyak hal, dalam perubahan mental para pamong yang seharusnya memomong rakyat, perubahan mental para pejabat yang seharusnya memanage berbagai permasalahan negara untuk kepentingan rakyat bukan untuk pemenuhan nafsu perut dan nafsu bawah perut para pejabat itu sendiri, perubahan mental dari budaya korupsi menjadi budaya orang jujur, perubahan mental dari para aparatur negara yang seharusnya menjaga keamanan negara, yang menjaga kehidupan rakyat dan bukan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara, dll … begitu banyak orang menginginkan revolusi mental benar terjadi, termasuk saya yang juga berharap akan adanya perubahan karakter bangsa dari ‘buruk ke baik’.

Benarkah program itu berjalan!? atau hanya sekedar jargon saat kampanye!?

Benarkah JKW-JK akan melakukan Revolusi Mental? Atau sekedar menyebutnya di saat kampanye dan sekarang setelah 6 bulan, rakyat sudah kembali tenggelam dalam rutinitas kehidupan nyata yang penuh permasalahan, begitu beratnya kehidupan dihempas oleh naik turun harga BBM, tenggelam dalam pemberitaan oknum yang menyebut dirinya bukan ‘penegak hukum’, bukan ‘pejabat negara’ agar terlepas dari status ‘tersangka’ dan orang itu akhirnya tetap dilantik sebagai wakil pimpinan tertinggi pamong keamanan sipil, mungkin rakyat diharapkan sudah mulai lupa dengan slogan itu. Orang lain boleh mulai lupa, tetapi saya tidak bisa melupakan hal penting ini, apalagi setelah pemerintahan berjalan 6 bulan, belum juga terlihat suatu gerakan terkait Revolusi Mental? Memang ada berita berita seperti penggelontoran 149 miliar rupiah untuk Revolusi Mental, tetapi apa yang akan diproses, apa yang akan direvolusi, bagaimana prosesnya, siapa dst … itu belum pernah disosialisasikan, bahkan Visi dan Misi Revolusi Mental yang katanya ada 28 paragraf belum saya dapatkan.

Revolusi mental inilah yang ingin saya bahas dalam tulisan saya.

Lho … kenapa harus ada perubahan cepat (revolusi) mental moral bangsa?

Apa benar si mental dan si moral itu telah terbenam di dalam lumpur yang begitu kotor?

Sudah begitu kotor, bau, jelek, ruwet, sehingga perlu dilakukan pembenahan, pembersihan, pencucian, pertukaran menjadi sesuatu yang bersih, wangi, mulus, dan bagus?

9 April 2015 yang lalu, seorang keturunan BK didalam pertemuan kelompok mereka di Bali telah mengobarkan semangat revolusi, seakan akan inilah yang dikehendaki oleh BK, seakan akan inilah jalan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, dimana rakyat apalagi pendukungnya diharuskan merubah diri, menyesuaikan diri, memperbaiki diri, dst.

Inilah bagian dari pidato dari sang keturunan BK itu:

“Revolusi mental melahirkan jiwa yang hidup, berkarakter, disiplin, penuh percaya diri, dan unggul dalam kualitas kehidupan. Republik Rakyat Tiongkok dan Singapura memberi contoh. Mereka membangun manusia yang berwawasan luas, berdisiplin, dan memiliki kepercayaan total dengan pemimpinnya sendiri,” …

“Nation building membutuhkan bantuan revolusi mental. Karena itu adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah! Ya, Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa. Bangkit dan bergeraklah kembali ke cita-cita nasional. Bangkit dan geraklah ke arah kesadaran cita-cita sosial. Bangkit dan geraklah menjadi manusia baru yang bekerja, berjuang, berbakti, berkorban guna membina bangsa dan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita nasional dan sosial itu, yakni cita-cita Proklamasi. Buanglah segala kemalasan, buang segala ego sentrisme, buang segala ketamakan. Jadilah manusia Indonesia, manusia pembina, manusia yang sampai ke tulang sumsumnya bersemboyan satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita,” …

Apakah si pembicara itu tahu benar ada sesuatu yang salah begitu fatal dengan mental bangsa, ada yang sangat tidak benar sehingga harus mengambil langkah cepat (revolusi), apakah dia tahu bagaimana caranya, adakah dia menggambarkan langkah langkah yang harus diambil oleh pemerintah, langkah apa, bagaimana, kapan, dst. Atau sekedar euphoria saja. Revolusi revolusi … Kok seperti pedagang keliling yang sedang menjual ember plastik: “… brak, brak … ember plastik anti pecah … brak, brak … ember plastik anti pecah”, atau seperti pedagang kaki lima di trotoar yang sedang menjual sisir plastik: “… sisir anti patah, anti patah!” sambil menekuk nekuk sisir itu sedemikian rupa.

Atau mungkin hal itu cuma sekedar jargon seperti video-clip pedagang minuman soda dari Amrik itu: “Yang penting SEMANGAT!”, padahal tidak tahu apa yang akan di-semangat-i, sangat mirip dengan slogan “Revolusi Mental”, hanya sekedar jargon padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, tidak tahu kenapa kita harus mengambil langkah cepat (revolusi) itu, tidak tahu dimana letak kesalahan yang ada, tidak tahu bagaimana memperbaikinya: “Yang penting semangat!!!” alias “Yang penting Revolusi!!!”.

Masih lebih bagus pesan yang disampaikan iklan minuman soda dari Amrik itu, yang penting semangat, agar orang orang bersemangat dalam segala hal, saat bekerja, dalam berkarier, saat menuntut ilmu, dalam perjalanan, saat berolahraga, saat menghadapi halangan rintangan, mungkin penuh semangat saat minum minuman soda itu, atau bersemangat dalam hal hal lain. Iklan itu masih cukup berhasil, cukup sukses karena kata ‘semangat’ memang bisa digunakan dalam banyak hal … tetapi REVOLUSI!? Tidak bisa orang menggunakan kata ‘revolusi’ begitu saja, tidak bisa seenak udel-nya sendiri mengucapkan “Mari kita revolusi!” padahal tidak tahu apa yang akan di-revolusi, begitu juga dengan kalimat ‘Revolusi Mental’, kalimat dengan 2 kata ini begitu menyesatkan banyak orang, begitu menghipnotis banyak orang sehingga banyak orang terpengaruh untuk ikut mencoblos pasangan itu, karena ada dalam diri banyak orang keinginan untuk menemukan perubahan dalam kehidupan berbangsa bernegara yang saat ini terlihat begitu ambur-adul.

Jangan sampai ada orang orang yang mengobarkan semangat ‘Revolusi Mental’ padahal sebenarnya cuma sekedar mengobarkan semangat saja, mengobarkan semangat untuk berteriak ‘Revolusi Mental’, padahal tidak tahu apa apa soal ‘Revolusi Mental’ itu! Mungkin orang orang itu baru minum minuman soda penuh semangat sehingga begitu bersemangat untuk melantunkan kalimat 2 kata itu. Apakah orang orang itu tahu apa yang dimaksudkan dengan ‘Revolusi Mental’!? Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu?

Bisa saja orang yang mengobarkan semangat revolusi itu malah harus me-revolusi dirinya sendiri lebih dulu, karena dia sudah rusak lebih parah, dan sebenarnya dia telah membiarkan segala kerusakan terjadi selama ini!? Atau dia adalah bagian dari kerusakan selama ini!?

Atau kalimat 2 kata itu cuma sekedar propaganda seperti di negeri komunis!? Hanya sekedar kalimat penuh daya sihir (hipnotis) agar para pendengar terpesona dengan pidatonya itu.

Pesan dari tulisan ini:

Jangan cuma bisa teriak ‘Revolusi Mental’ padahal tidak tahu apa apa, tidak tahu IST dan SOLL dari kalimat 2 kata itu.

* * *

IST dan SOLL

IST adalah keadaan saat ini, SOLL adalah suatu keadaan yang ditargetkan, yang dituju, yang diinginkan.

Keadaan saat ini bisa menjadi landasan perencanaan menuju ke masa depan:

  • Dari keadaan (IST) yang sangat buruk menjadi keadaan masa depan (SOLL) yang lebih baik walau hasil akhir sebenarnya masih buruk tetapi tetap terlihat ada perubahan dari sangat buruk menjadi kurang buruk. Pencapaian dari sangat buruk menjadi kurang buruk sudah memberikan kemajuan, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi makan dua kali sehari @ setengah piring nasi putih dengan garam. orang tahu keadaan IST yang sangat buruk itu, dan mungkin saja SOLL yang ditetapkan sudah sampai ke tahap 3 kali makan lengkap, tetapi hanya berhasil meningkatkan sampai ke 2 kali makan nasi dengan garam itu.
  • Dari keadaan yang sangat buruk menjadi keadaan yang sangat baik, misal dari makan sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam menjadi tiga kali sehari @ sepiring penuh nasi lengkap dengan lauk pauk ‘4 sehat 5 sempurna’ merupakan perencanaan dan perubahan yang sangat bagus, sempurna, istimewa, dan bisa jadi hanya sekedar impian, mimpi! IST-nya begitu buruk, SOLL yang ditetapkan bisa jadi sudah cukup tinggi, dan ternyata berhasil mencapai lebih dari yang direncanakan.

Tahukah kita IST dari ‘Revolusi Mental’ itu?

Tahukah kita SOLL dari ‘Revolusi Mental’ itu?

Tahukah kita apa saja yang akan dilakukan dari kondisi IST sampai mencapai kondisi SOLL itu?

Atau hanya sekedar mampu berteriak: “Kita harus menjalankan Revolusi Mental!!!”!?

* * *

2) Apa yang dimaksudkan dengan revolusi mental itu? Kenapa harus ada REVOLUSI mental?

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘Revolusi Mental” itu?

Apa arti dan maksud 2 kata ‘Revolusi’ dan ‘Mental’ itu?

Rasanya saya belum pernah mendengar kedua hal itu dijabarkan dengan pasti, oleh presiden Jokowi atau oleh wakil presiden Jusuf Kalla ataupun oleh tim kampanye mereka. Sampai hari ini saya belum mengerti apa yang mereka maksudkan dengan revolusi mental itu, belum juga diketahui ada satu keadaan yang begitu penting, begitu berat sampai harus ada sebuah revolusi meski itu revolusi mental dan bukan revolusi fisik. Lalu, mental itu apa?, mental siapa yang begitu rusak atau begitu terbelakang?, apakah mental rakyat atau mental pejabat atau mental pemimpin yang rusak dan terbelakang itu? Bisakah ditampilkan yang mana saja, siapa saja yang rusak dan terbelakang itu!?

Kenapa harus ada revolusi mental ini?, sampai sejauh mana kita perlu melakukan revolusi mental?, lalu apa saja yang akan dilakukan?, siapa saja yang perlu digarap (harus ikut merevolusi mentalnya)?, siapa yang menggulirkan revolusi itu?, kemudian batasan (tujuan, hasil) akhir apa yang menggambarkan revolusi mental itu telah sukses?, apa faktor faktor yang menggambarkan revolusi itu telah sukses 100%?, berapa lamakah revolusi mental ini akan dijalankan sampai 100% itu tercapai?, berapa tahapan revolusi mental itu? … ada banyak pertanyaan lainnya terkait revolusi mental ini.

Pemerintahan ini sudah berjalan 6 bulan, tidak ada seorangpun di antara mereka yang memberikan penjabaran tentang revolusi mental ini. Apa, kenapa, mengapa, berapa, siapa, kapan, dan bagaimana revolusi mental itu???

* * *

Kembali ke IST dan SOLL

Diperlukan keberanian, kejujuran dari seorang pemimpin untuk mengatakan inilah IST kita saat ini. Jabarkan dimana keadaan IST yang begitu buruk, berapa banyak yang terlihat buruk, siapa saja yang terlihat buruk, dimana letak keburukan itu sampai kita perlu melakukan perubahan cepat. Akui dulu keadaan buruk yang ada saat ini seperti contoh berikut:

  • banyak orang makan hanya sekali sehari setengah piring nasi putih dengan garam, atau
  • membuka rahasia yang selama ini ditutup tutupi bahwa bangsa ini dari segala SDA yang diserahkan ke pihak ALIEN itu hanya menerima bagian dalam bentuk ROYALTI sebesar 1%, sudah berjalan 40 tahun lebih, dan itupun tak terbayarkan (mereka tidak selalu membayar!), atau
  • kita tampilkan bagaimana perangai orang banyak di jalanan, ada yang makan di jalan, minum di jalan, olahraga di jalan, bermain di jalan, pesta di jalan, upacara di jalan, ritual agama di jalan, aak di jalan, pipi di jalan, dst, atau
  • perlihatkan rekaman orang orang yang melanggar peraturan di jalan, melawan arus, anak anak dibawah umur membawa kendaran, pembiaran pelanggaran oleh oknum keamanan, oknum penuh keistimewaan yang melakukan pelanggaran, atau keluarga oknum yang melakukan itu, dst, dlsb, atau
  • tunjukkan IST buruk lainnya. Harus ada sesuatu yang begitu buruk sehingga kita perlu menjalankan ‘Revolusi Mental’! Tidak bisa kita diam seribu bahasa seakan akan tidak ada hal hal buruk yang menjadi dasar pencetus ‘Revolusi Mental’. Atau hanya sekedar melepas balon besar berisi angin ke udara bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?

Adakah orang orang yang berteriak ‘lakukan Revolusi Mental’ itu mengerti IST saat ini, dan orang itu mau membukakan IST saat ini, mau mengakui IST saat ini, mau mengungkapkan dengan jujur apa yang sudah dan sedang terjadi!? … sehingga keadaan saat ini terbentuk seperti itu.

Kalau sudah berani mengatakan “Perlu perubahan cepat” maka orang itu sudah seharusnya tahu apa yang akan dirubah, sudah tahu IST saat ini yang buruk, harus bisa (berani dan jujur) mengatakan dimana keburukan itu ada, dan dengan terbuka menyatakan inilah keadaan buruk saat ini yang harus dirubah, harus diganti, harus diperbaiki, harus direformasi, harus direstorasi, harus di-revolusi. Jangan hanya menggelar kampanye akan melakukan revolusi mental, sekedar menina-bobokan sebagian orang akan adanya perubahan besar dan cepat, sekedar menghipnotis sebagian orang yang tidak suka akan keadaan saat ini yang menginginkan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, dan atau sekedar kata manis penuh janji surga belaka, sekedar balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’!?!? Sekedar slogan, jargon, atau propaganda?

Sebagai seorang pemimpin negara seharusnya berani menentukan SOLL yang akan dicapai. Kalau orang itu tahu akan IST yang ada maka orang itu bisa menggunakan keadaan ini untuk merencanakan SOLL masa depan bangsa dan negara. Apa sajakah SOLL itu!?

Dia tidak bisa begitu saja mengatakan SOLL yang akan dicapai tanpa pengetahuan IST yang ada, jangan sampai SOLL yang ditampilkan itu kembali seperti balon besar berisi angin bertuliskan ‘SOLL yang akan dicapai’!

Seorang calon pemimpin bisa saja naik ke singgasana tanpa janji apa apa, hanya sekedar memperlihatkan kepiawaian dirinya selama ini, tidak perlu janji janji manis, hanya karakter penuh semangat, penuh kejujuran, keberanian, ketegasan dst. Orang seperti ini pasti berani menentukan sikap, berani mengatakan suatu ‘goal’ yang akan dicapai dalam kepemimpinannya dan keberaniannya itu didasarkan pada pengalaman dia dalam bidang yang dia geluti. Orang seperti itu tidak perlu suatu slogan aneh untuk mendapatkan kursi kepemimpinan, apa yang dia tawarkan pasti suatu goal realistis yang pasti.

Lain halnya dengan pasangan yang sudah berani menggunakan slogan ‘Revolusi Mental’ yang begitu mempesona dan menghipnotis banyak orang. Ini sebuah kalimat 2 kata yang sangat penuh makna, tidak sekedar melepas balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’. Pasangan yang punya slogan ini seharusnya punya visi masa depan (SOLL) yang sangat cemerlang berdasarkan pengetahuan keadaan saat ini (ke belakang atau IST) yang jelas dan berani mengungkapkan keadaan yang ada ini, dan bukan berdiam diri membiarkan balon udara berisi angin itu terbang melayang menghilang di langit. Waktu 6 bulan seharusnya cukup untuk mulai dengan membukakan mata rakyat terhadap keadaan yang ada saat ini (IST), dimulai dari hal-hal paling penting dan genting saat ini yang menyebabkan bangsa ini perlu menjalankan revolusi mental. 6 bulan sudah berjalan, dan pelaksana tugas yang ditunjuk untuk pembangunan karakter manusia itu belum terlihat bekerja dengan baik, jabatan yang dia terima malah dianggap jabatan ringan yang diperlihatkannya dalam pernyataannya bahwa tugas yang diterima dari presiden itu jabatan ringan dan dia mampu merangkap jabatan itu bersama jabatan partai. Sementara sang ibu dari pejabat itu, yang senior dalam partai itu begitu keras mengatakan perlunya revolusi mental, begitu mantap mengatakan inilah hal yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara, tetapi apa yang mereka tampilkan tidak terlihat bahwa mereka sebenarnya akan melakukan revolusi mental itu, terutama dalam merevolusi diri mereka lebih dulu, demi kepentingan bangsa dan negara.

* * *

3) Siapa yang mendapat tugas untuk menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab?

Presiden, sebagai panglima tertinggi tentu tidak akan melakukan revolusi mental secara langsung, tetapi dia yang menentukan waktu untuk memulai pekerjaan besar, dialah ujung pangkal suatu rangkaian komando pelaksanaan proyek besar ini, dia ada di awal rangkaian misi pembenahan ini, dia hanya perlu menekan satu tombol ‘ON’ maka bergeraklah proses itu. Presiden berada di awal rangkaian, dia bukan berada di tengah rangkaian sebagai pelaksana lapangan, tetapi dia juga berada di ujung akhir rangkaian sebagai seseorang yang akan mendapatkan laporan hasil akhir dari proses revolusi mental ini, dia akan minta pertanggung jawaban dari kelompok pelaksana itu, kemudian sang presiden akan mempertanggung jawabkan kegiatan ini kepada rakyat.

Presiden, sebagai penentu, penekan tombol ‘ON’ untuk memulai rangkaian proses revolusi mental, dia harus tahu benar akan IST dan SOLL yang akan dijalankan oleh kelompok pelaksana itu. Dia tahu benar IST itu seperti apa, karena itulah kenapa dia menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, dia tahu benar keadaan IST saat ini sudah begitu parah: mental, moral, pikiran, logika, nurani, etika, budaya dan tentu sampai ke masalah religi juga berada dalam keadaan kritis, sudah begitu jauh tenggelam kedalam lumpur kotor bau dan gelap, maka semboyan itulah yang dia gunakan dalam masa kampanyenya di tahun 2014. Dia tahu benar akan IST saat ini maka dia berani menggunakan semboyan ‘Revolusi Mental’, begitu juga seorang wanita senior kawakan suatu partai yang kebetulan keturunan BK, ibu ini tahu benar akan IST saat ini karena dia terlihat begitu penuh semangat meneriakkan ‘Revolusi – Revolusi Mental’, dia minta kepada setiap anggota partainya untuk melakukan revolusi mental, dia minta rakyat melakukan revolusi mental, dia tegaskan juga, hanya dengan revolusi mental maka bangsa negara ini akan bisa lepas dari keterpurukan!

Dari 33 menteri yang diangkat presiden Jokowi, ada satu menteri yang kiranya paling terkait dengan revolusi mental ini yaitu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang dijabat oleh PM, masih keturunan BK Sang Proklamator. Menteri koordinator inilah yang seharusnya bertanggung jawab soal revolusi mental. PM sebagai anak dari senior kawakan, kedua orang ini keturunan BK (katanya!), tentu punya kepiawaian dalam tugasnya sebagai koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan yang terkait dengan tugas utama pemerintahan ini yaitu menjalankan revolusi mental. Jadi, PM sebagai anak dari senior kawakan itu pasti punya kesempatan besar untuk menggerakan roda revolusi mental, lihat dan perhatikan pidato sang senior kawakan itu dalam konferensi di Bali di awal April 2015, mengedepankan revolusi, semua orang harus mau menjalankan revolusi.

Ditambah lagi dengan pernyataan PM, bahwa tugasnya sebagai MENKO (menteri koordinator) itu cukup ringan sehingga dia berani mengambil tugas rangkap, sebagai MENKO dan sebagai pejabat di partai. Sungguh mengagumkan apa yang dia tampilkan di awal April 2015 itu. Semoga unjuk kerjanya sebagai MENKO dalam menjalankan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan berjalan lancar adanya.

Marilah kita memusatkan perhatian kita kepada MENKO yang satu ini, kita lupakan jabatannya di partai itu, sebagai rakyat kita akan melihat prestasinya sebagai pejabat pemberintah, bukan sebagai pejabat partai, prestasinya di partai itu tidaklah penting untuk kita amati, untuk kita ikuti, itu urusan internal mereka di partai itu. Kita akan minta kepada menko ini untuk mulai memberikan definisi mental dan definisi revolusi mental yang jadi pekerjaan mereka, kaitan revolusi mental dalam pembangunan manusia dan kebudayaan. Kita minta mereka menjabarkan rencana kerja mereka dalam kegiatan REVOLUSI MENTAL ini, apa saja yang akan direvolusi, kenapa dan mengapa hal itu perlu direvolusi, berapa lama hal itu akan dilakukan, siapa yang melakukan apa, siapa yang terkena revolusi itu, kapan hal itu berjalan, bagaimana caranya, dst … dst. Kalau beliau tidak tahu, tentu bisa bertanya kepada ibunya senior kawakan yang telah berpidato soal revolusi mental di kongres Bali pada tanggal 9 April 2015 lalu, beliau yang senior itu sudah tahu apa yang akan dilakukan. (Semoga …!? Untuk itu, mari kita panjatkan doa.)

* * *

IST dan SOLL Revolusi Mental

Sudah 6 bulan pemerintahan ini berlangsung, begitu juga PM sudah 6 bulan menjadi MENKO, semoga beliau sudah memiliki informasi soal IST yang ada dalam kehidupan bangsa ini, apa saja yang sudah masuk ke lumpur kotor bau dan gelap sehingga perlu mendapatkan perawatan super cepat (Revolusi Mental), tentu beliau akan dengan senang hati dan murah hati men-sharing IST yang sudah lama tenggelam di lumpur kotor bau dan gelap itu, apa saja, siapa saja, dimana saja, seberapa parahnya IST itu, dst dlsb.

Jangan sampai, apa yang dikumandangkan dalam pidato sang senior kawakan itu hanya sekedar jargon, hanya propaganda, hanya balon besar berisi angin bertuliskan ‘Revolusi Mental’, dan hanya memberikan anjuran agar setiap orang melakukan revolusi mental sendiri sendiri. Kalau seperti itu rancangannya!?, rasanya rakyat tidak perlu diberi impian balon besar lagi, karena selama ini rakyat sudah berusaha sendiri sendiri, ada atau tidak ada pemerintah, rakyat sudah berjuang sendiri sendiri. Saya berharap, sang senior kawakan dan anaknya, PM akan bisa menjabarkan apa saja IST yang sedang dihadapi rakyat saat ini. Kemudian SOLL apa yang akan menjadi ‘GOAL’ akhir dari proses revolusi mental ini, apa saja misi-misi yang perlu dijalankan.

Inilah yang diharapkan dari PM, beliau perlu menjabarkan:

  • Apa saja IST saat ini?
  • Apa yang menjadi SOLL bagi bangsa ini?
  • Berapa tahapan (babak) revolusi itu, atau hanya satu tahapan saja?
  • Berapa lama setiap tahapan, dan berapa % besaran pencapaian dalam setiap tahapan itu, berapa nilai biaya revolusi mental ini, berapakah yang sudah dialokasikan untuk revolusi mental ini, dst.

* * *

4) Apa yang sudah terlihat? Adakah ‘sesuatu’ yang secara formal telah disosialisasikan kepada rakyat Indonesia?

Dari hasil penelusuran di media, ada berita terkait revolusi mental, seperti pernyataan sang MENKO yang ingin menjadikan jamu sebagai bagian dari revolusi mental, ada berita BAPPENAS mempaparkan penggunaan 149 miliar rupiah untuk program revolusi mental, dan beberapa berita lainnya seputar revolusi mental.

Jadi, sementara ini yang terlihat cuma pernyataan MENKO yang mengatakan pekerjaannya sebagai MENKO bisa dirangkap sebagai pejabat partai dan soal jamu, dan BAPPENAS merencanakan penggunaan uang untuk program revolusi mental. Saya belum pernah mendapatkan berita atau artikel baik dari pemerintah (MENKO ybs) atau BAPPENAS soal apa saja yang menjadi permasalahan bangsa ini (IST!!!) yang telah tenggelam di lumpur bau kotor dan gelap itu, kemudian tidak ada gambaran SOLL (target, tujuan, goal) yang bagaimana yang akan dicapai, juga tidak ada gambaran misi misi apa yang akan diambil untuk melancarkan program revolusi mental.

Beberapa berita atau artikel ataupun pembabaran dari MENKO ataupun BAPPENAS itu tidak menggambarkan sama sekali adanya keadaan kritis dari bangsa dan negara ini sehingga perlu ada satu gerakan yang disebut REVOLUSI MENTAL. Tampilan mereka saat pembabaran itu juga tidak terlihat sedang berhadapan dengan masalah bangsa yang begitu penting dan genting, mereka terlihat tidak cukup serius dalam menangani masalah itu, jadi pelaksanaan program revolusi mental ini terlihat sekedar ada, sekedar pencitraan belaka.

Ada berita dimana seorang tokoh (maaf, kelas kambing) mengatakan bahwa penggunaan kata ‘revolusi mental’ itu hanya mencomot dari revolusi idealisme komunis, yang kemudian dibantah oleh si pembawa program ini dengan menyatakan bahwa revolusi ini berasal dari BK dengan uraian lengkap terkait TRISAKTI dan entah apa lagi. Mungkin si tokoh kelas kambing itu tidak suka akan adanya revolusi mental, mungkin orang itu hanya asal cuap cuap, mungkin sekedar mencari sensasi, mungkin pengetahuan dia hanya ala kadarnya, dan kemungkinan lainnya lagi.

Jadi, setelah 6 bulan pemerintahan, saya belum membaca atau mungkin belum mendapatkan ‘sesuatu’ yang formal yang mereka sosialisasikan terkait revolusi mental, hanya ada beberapa kalimat yang mengatakan keadaan karakter bangsa yang terpuruk, yang menjadikan bangsa dan negara ini kalah bersaing, dan kalimat kalimat diluar pemerintah yang mengajak rakyat untuk menjalankan revolusi mental agar bisa bertahan dalam persaingan, agar bangsa dan negara ini bisa maju.

Semoga, saya segera mendapatkan berita yang positif dan formal dari pemerintah terkait revolusi mental ini. Semoga …

* * *

Pertanyaan berikut ini tidak perlu segera dibahas.

  • 5) Apa yang seharusnya diperlihatkan?
  • 6) Apa saja yang akan dilakukan?
  • 7) Siapa saja yang akan dilibatkan?
  • 8) Apa saja misi yang akan dilaksanakan?
  • 9) Apa saja tugas (misi) yang dibagikan kepada setiap pelaksana?
  • 10) Kapan setiap misi itu dilaksanakan? Jangka waktu? Kepada siapa revolusi ini diterapkan?
  • 11) Siapa saja yang menjadi target revolusi mental itu? Kenapa mereka harus di-revolusi mental-kan?

Saya akan posting tulisan tulisan yang ada dibuku seri “Menuju Revolusi Mental”, dari tulisan itu nanti bisa diketahui apa saja yang seharusnya diperlihatkan (pertanyaan 5), apa yang perlu dilakukan (6), siapa yang harus dilibatkan (7), misi misi apa saja (8), dst.

Ada 4 buah buku seri “menuju Revolusi Mental”:

  • 1) Yang Di Depan Menjadi Panutan (YDDMP, 173 halaman),
  • 2) Pendidikan Mental – Moral (PMM, 214 halaman),
  • 3) Mens Sana In Corpore Sano (MSICS, 174 halaman),
  • 4) Hukum Kasih Sayang (HKS, 92 halaman).

3 buah buku tersebut YDDMP, PMM dan MSICS di awal Januari 2015 sudah saya kirimkan ke JKW/JK melalui jalur pertemanan di Jogja yang punya jalur ke istana, tetapi entah sudah sampai atau belum, entah mandeg, atau mereka simpan sendiri, disampaikan ke pihak lain atau entah apa yang mereka lakukan dengan ke-3 buku itu. Buku ke-4 (HKS) memang belum saya kirim, karena itu merupakan buku kunci untuk menjawab permasalahan yang digambarkan di 3 buku sebelumnya. Setelah 4 bulan tanpa berita, saya ambil keputusan untuk melepas buku buku itu di internet. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai apakah tulisan saya itu layak atau tidak.

Jakarta, 28 April 2015

* * * * * * * * * *
KATALOG POSTINGAN “MENUJU REVOLUSI MENTAL”
* * * * * * * * * *

DAFTAR ISI YDDMP, Yang Di Depan menjadi Panutan
010 YDDMP – KATA PENGANTAR
011 YDDMP – Menuju Revolusi Mental
012 YDDMP – Optimisme Menyongsong Masa Depan Indonesia
013 YDDMP – Bangsa Ini Manja?
014 YDDMP – Suharto Tidak Punya Se-sen-pun!?
015 YDDMP – Beras Ketan dan Pesawat Terbang
016 YDDMP – Kekayaan Alam Indonesia
017 YDDMP – Arisan dan Bancakan Pat-Gulipat
018 YDDMP – Tiga Monyet Bijaksana: Wakil Rakyat Yang Buta
019 YDDMP – Hidup Tidak Bebas Korupsi
020 YDDMP – Kehidupan Tidak Bebas Korupsi (KTBK)
021 YDDMP – Korupsi: Imbas Korupsi
022 YDDMP – Rampok – Rampok!!!
023 YDDMP – Maling Kecil dan Maling Besar
024 YDDMP – Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
025 YDDMP – Sebuah Kebijakan atau Kebijaksanaan
026 YDDMP – Pam Swakarsa
027 YDDMP – Perintah Lisan
028 YDDMP – Sang Penjegal
029 YDDMP – Yang di DEPAN menjadi PANUTAN
030 YDDMP – Kisah 3 Pencuri Kepeng

DAFTAR ISI PMM, Pendidikan Mental – Moral
031 PMM – KATA PENGANTAR
032 PMM – Pendidikan Mental – Moral
033 PMM – Bicara Reformasi Bukan Hanya Politik
034 PMM – Langkah Yang Tidak Benar
035 PMM – Managemen Kartu
036 PMM – Ranjau Kehidupan
037 PMM – Gajah vs Semut/Kutu
038 PMM – MADANI
039 PMM – Subway-Marine
040 PMM – Moral di Jalan Raya
041 PMM – Motor Gadungan
042 PMM – Sepeda Motor Masuk Tol
043 PMM – Menghentikan Korupsi
044 PMM – Umatnya Allah
045 PMM – Silaturahmi
046 PMM – Belajar Sampai Ke Negeri Cina
047 PMM – S W O T
048 PMM – Industri Otomotif
049 PMM – Mencari Pilihan Industri Yang Sesuai
050 PMM – Pariwisata
051 PMM – Buku Cetak Pelajaran Sekolah
052 PMM – Surat ke Media Masa, Para Tokoh, Unicef, dll
053 PMM – Banjir dan Generasi Penerus
054 PMM – Berlalulintas Yang Baik
055 PMM – Perubahan Mental – Moral
056 PMM – Roda Kehidupan
057 PMM – Sumber Referensi

DAFTAR ISI MSICS, Mens Sana In Corpore Sano
058 MSICS – KATA PENGANTAR
059 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano
060 MSICS – KARTU, KARTU dan KARTU
061 MSICS – Mobil Ambulance & Kesehatan Pemimpin
062 MSICS – Buah Tidak Akan Jatuh Jauh Dari Pohonnya
063 MSICS – PERCONTOHAN YANG . . .
064 MSICS – Pembiaran atau Dibiarkan Terjadi
065 MSICS – Mens Sana In Corpore Sano (2)
066 MSICS – Tidak Bebas Korupsi di Swasta
067 MSICS – INDONESIA KAYA RAYA
068 MSICS – 9 Miliar Penduduk Dunia
069 MSICS – GENERASI JEMPOLAN
070 MSICS – Sistem Jaminan Kesehatan
071 MSICS – Virus Korupsi
072 MSICS – Sakit dan Obat Herbal
073 MSICS – OBAT KW-1
074 MSICS – Obat Farmasi atau Herbal, KW-3 atau KW-1?
075 MSICS – Punya Otak
076 MSICS – Merayakan Hari Anak Sedunia
077 MSICS – Sehat dan Kesehatan
078 MSICS – Kerusakan Lingkungan dan Kesehatan
079 MSICS – Perilaku Oknum
080 MSICS – Persepsi, Sudut Pandang
081 MSICS – Manipulasi Persepsi, Skenario Adu Domba
082 MSICS – Back To Nature, Kembali Ke Alam

DAFTAR ISI HKS, Hukum Kasih Sayang
083 HKS – KATA PENGANTAR
084 HKS – Bukan Mimpi Biasa
085 HKS – Mimpi Besar Tentang Kehidupan
086 HKS – IST dan SOLL
087 HKS – Penjajahan Oleh Orang Asing
088 HKS – Para Penghianat Bangsa
089 HKS – Mimpi Indah Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
090 HKS – Rasa Kasih dan Rasa Sayang

 

ROYALTI SDA cuma 1% selama 40 tahun lebih !?

Sejak tahun 1970-an pengelolaan SDA Indonesia diberikan kepada investor luar negeri, itu berarti sudah 40 tahun lebih!

Berapakah besaran bagi hasil yang diterima bangsa Indonesia?

Ternyata cuma 1% … dan itu sudah berjalan selama 40 tahun lebih!
Memang pernah di saat Megawati sebagai presiden, nilai itu dinaikkan menjadi 3,75%, tetapi, kata Abraham Samad, yang berlaku adalah tetap 1%, dan itupun tidak dibayar!

Kita tentu berharap agar kekayaan bumi pertiwi tidak 99% dikuasai oleh ENTAH SIAPA itu. Apa rakyat Indonesia cuma akan diberi bagian 1% terus menerus, bukankah seharusnya SDA itu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, bukan cuma 1%??? … itu jelas sudah melanggar pasal 33 UUD ’45.

Nah saat ini kita menghadapi pemilihan calon wakil rakyat dan calon pemimpin Indonesia. Adakah di antara para caleg atau capres yang mau membahas masalah ini?

Rasanya tidak satupun calon calon itu yang mau membahas hal ini.
Mereka itu TIDAK TAHU atau PURA PURA TIDAK TAHU?
Kalau mereka TIDAK TAHU … alangkah BODOHnya!
Kalau PURA PURA TIDAK TAHU … alangkah CULASnya

Silahkan baca yang lebih lengkap di ROYALTI SDA (sumber daya alam) Bumi Pertiwi

Apakah mereka yang sedang ditampilkan dalam Pesta Demokrasi kali ini sebenar-benarnya ingin membela kepentingan rakyat, atau mereka sekedar akan merotasi kelompok ARISAN – BANCAKAN, yang satu menjadi KETUA ARISAN-BANCAKAN, yang lain jadi anggota. Mereka akan berbagi komisi PAT-GULIPAT hasil kolaborasi dengan pengusaha asing.

Buat rakyat, cukup 1% saja. ?????????

Membeberkan hal ini pun mereka tidak mau, membahas hal ini jelas tidak, lalu … memikirkan rakyat dan mengembalikan kekayaan itu sesuai pasal 33 UUD ’45???? … JAUH!!!!

Jakarta, 8 April 2014 jam 10:45

MAFIA HUKUM, siapa, berapa banyak?

Belakangan ini begitu gencarnya nama kelompok/suatu golongan dengan 2 kata berikut: ‘MAFIA HUKUM’ diucapkan banyak orang, di berbagai kesempatan, bahkan RI-1 pun dalam program 100 harinya memasukkan kelompok ini sebagai prioritasnya.

Kata mafia identik dengan kelompok jahat yang mengganggu suatu komunitas (masyarakat), tentu jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan komunitas dimana mafia itu berada. Jadi mafia hukum identik dengan suatu kelompok jahat di antara komunitas hukum, tentu berjumlah yang jauh lebih kecil dari komunitasnya (seharusnya!).

Bagaimana kalau keseluruhan komunitas itu memang orang-orang jahat!? Mungkinkah kita (misal sebagai anggota kelompok itu) mengatakan “ada Mafia di dalam kelompok ini!”? Tentu tidak bisa kan, karena kita juga anggota komunitas itu sendiri.

Nah bagaimana dengan komunitas hukum di Indonesia? Bolehkah kita mengatakan, awas ada mafia hukum! Atau jangan-jangan memang keseluruhan kelompok itu memang sudah menjadi kelompok jahat? Pertanyaan ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menjawabnya, pikirkan dulu sebelum melanjutkan membaca artikel ini.

MAFIA HUKUM

Tentu saja, kedua kata itu (mafia hukum) akan berlaku secara sepenuhnya untuk menggambarkan bahwa ada sekelompok kecil orang-orang di dalam komunitas hukum yang bertindak jahat, amoral, curang, bagi komunitas itu sendiri ataupun bagi orang-orang lain yang berada di luar komunitas itu. Jadi hanya segelintir orang, misal saja 10 orang di antara 100 orang, atau 100 orang di antara 1000 orang. Benarkah demikian?

Mari kita sedikit melihat komunitas yang lebih besar, yaitu komunitas para pengemban amanat rakyat, juga para pelaksana administrasi negara yaitu komunitas aparatur negara ini. Adakah nilai-nilai (biaya) kehidupan mereka: rumah, tanah, mobil, sekolah anak-anak mereka, pelesiran, perawatan kesehatan dlsb itu semua dibayar dengan uang gaji mereka? Logiskah kehidupan mewah mereka, dengan rumah mewah, tanah di lokasi mahal, mobil-mobil mewah (tidak hanya satu tetapi beberapa), sekolah-sekolah unggulan yang mahal, pendidikan lanjutan luar negeri yang mahal, pelesiran yang jauh dan mahal, menginap di hotel bintang 5, perawatan kelas VVIP dlsb yang super-super itu memang telah dibayar dengan gaji mereka sebagai aparatur negara?

Lihat  tulisan ‘ktbk-kehidupan-tidak-bebas-korupsi’ ===>>

Saya tanyakan hal tersebut di atas dalam berbagai kesempatan, seminar-seminar, talkshow interactive, di radio-radio . . . dll, dalam bentuk: “Adakah aparatur negara ini yang HIDUPnya BEBAS KORUPSI?”, dimana kehidupan mewah itu benar-benar diperoleh dari uang gaji mereka sebagai aparatur. Ternyata selama beberapa tahun pertanyaan itu tidak pernah dijawab oleh seorangpun! Jadi jelas, kebanyakan aparatur negara ini memang HIDUP TIDAK BEBAS KORUPSI. Pertanyaan itu terus saya ajukan, dirubah menjadi: “Hampir semua aparatur negara ini HIDUPnya tidak BEBAS KORUPSI, adakah yang HIDUPnya BEBAS KORUPSI? Silahkan mengajukan diri!”. Juga tidak terjawab. Maka dengan berat hati, saya simpulkan: APARATUR NEGARA INI HIDUP TIDAK BEBAS KORUPSI! Toh tidak ada yang menampik pernyataan saya itu. Jadi benarlah perkiraan saya, memang mereka hidupnya tidak bebas korupsi.

Kembali ke mafia hukum. Kalau seluruh aparatur itu hidupnya tidak bebas korupsi, demi menutupi segala kemewahan hidup yang mereka jalani. Maka jelaslah komunitas aparatur itu, juga aparatur hukum benar-benar telah terjerembab dalam kehidupan tidak bebas korupsi. Kalau sudah semuanya berada dalam jurang ketidakjujuran, ketidak-benaran, apakah kita bisa menyatakan, bahwa hanya sebagian saja yang menjadi anggota mafia hukum? Apakah tidak mungkin keseluruhan komunitas itu sebenarnya adalah anggota mafia kejahatan bagi masyarakat Indonesia, bagi rakyat Indonesia?

Jadi, dengan logika yang waras, mereka yang berada dalam komunitas itu sebetulnya tidak bisa lagi menyatakan hanya ada sebagian yang jahat dalam komunitas itu karena sebenarnya secara keseluruhan telah ikut serta dalam kejahatan terhadap rakyat Indonesia. Jadi pernyataan para pejabat itu, bahwa ada MAFIA HUKUM atau mereka akan memberantas MAFIA HUKUM adalah tidak tepat, karena tidak mungkin ‘jeruk makan jeruk’ atau ‘sapu kotor akan membersihkan lantai kotor’.

MAU SAMPAI KAPAN? Kapankah komunitas aparatur yang hidup tidak bebas korupsi itu mau bertobat secara bersama, berhenti dari kemunafikan, berhenti dari penyalah-gunaan wewenang, berhenti dari kebohongan kepada rakyatnya? Atau sampai kiamat datang menjelang baru bertobat?

Pertanyaan: “Kapan mau bertobat?” ini terbuka untuk dijawab siapapun, silahkan memberi komentar untuk tulisan ini. Mohon maaf, saya tidak bermaksud jahat kepada siapapun, saya ingin adanya perubahan dalam kehidupan bangsa dan negara Republik Indonesia. Silahkan membaca tulisan ‘menghentikan korupsi’ ===>>