ROYALTI SDA cuma 1% selama 40 tahun lebih !?

Sejak tahun 1970-an pengelolaan SDA Indonesia diberikan kepada investor luar negeri, itu berarti sudah 40 tahun lebih!

Berapakah besaran bagi hasil yang diterima bangsa Indonesia?

Ternyata cuma 1% … dan itu sudah berjalan selama 40 tahun lebih!
Memang pernah di saat Megawati sebagai presiden, nilai itu dinaikkan menjadi 3,75%, tetapi, kata Abraham Samad, yang berlaku adalah tetap 1%, dan itupun tidak dibayar!

Kita tentu berharap agar kekayaan bumi pertiwi tidak 99% dikuasai oleh ENTAH SIAPA itu. Apa rakyat Indonesia cuma akan diberi bagian 1% terus menerus, bukankah seharusnya SDA itu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, bukan cuma 1%??? … itu jelas sudah melanggar pasal 33 UUD ’45.

Nah saat ini kita menghadapi pemilihan calon wakil rakyat dan calon pemimpin Indonesia. Adakah di antara para caleg atau capres yang mau membahas masalah ini?

Rasanya tidak satupun calon calon itu yang mau membahas hal ini.
Mereka itu TIDAK TAHU atau PURA PURA TIDAK TAHU?
Kalau mereka TIDAK TAHU … alangkah BODOHnya!
Kalau PURA PURA TIDAK TAHU … alangkah CULASnya

Silahkan baca yang lebih lengkap di ROYALTI SDA (sumber daya alam) Bumi Pertiwi

Apakah mereka yang sedang ditampilkan dalam Pesta Demokrasi kali ini sebenar-benarnya ingin membela kepentingan rakyat, atau mereka sekedar akan merotasi kelompok ARISAN – BANCAKAN, yang satu menjadi KETUA ARISAN-BANCAKAN, yang lain jadi anggota. Mereka akan berbagi komisi PAT-GULIPAT hasil kolaborasi dengan pengusaha asing.

Buat rakyat, cukup 1% saja. ?????????

Membeberkan hal ini pun mereka tidak mau, membahas hal ini jelas tidak, lalu … memikirkan rakyat dan mengembalikan kekayaan itu sesuai pasal 33 UUD ’45???? … JAUH!!!!

Jakarta, 8 April 2014 jam 10:45

KEHANCURAN BANGSA – NEGARA INDONESIA

Suatu bangsa – negara itu akan hancur, apabila para pemimpin, para pemegang mandat rakyat negara itu sudah bermoral bejad, bermental bobrok, suka korupsi, suka berbohong, culas, hanya mengejar pemenuhan nafsu pribadi. Yg dimaksud dengan pemimpin-2 dan para pemegang mandat itu ya semua orang yg berada di tingkat pemerintahan suatu bangsa-negara, para APARAT, APARATUR suatu bangsa-negara.

Kalau APARATURnya bobrok, rusak, maka semua orang (rakyat) akan terkena virus kebejadan dan kebobrokan, kebohongan, keculasan dan berbagai kejelekan lainnya.

Apa dan bagaimana kita bisa melihat kebobrokan moral-mental aparatur suatu negara!?

Berkali-kali saya coba mempertanyakan apakah para aparat negara sudah hidup bebas korupsi? Adakah yg berani maju menyatakan dirinya hidup bebas korupsi?

Ternyata sampai saat ini, tidak ada satupun yg berani menyatakan dirinya hidup bersih, hidup jujur, tidak curang, tidak culas, tidak korupsi,

Jadi kesimpulannya: tidak ada satu aparat-pun yg hidup bersih!

Maka dari itu, janganlah heran kalau belakangan ini terjadi pemindahan Opera Van J ke operan van MK, opera van DPR, opera van yang lainnya. Kita sedang disuguhkan lakon-lakon sandiwara dagelan yg tidak lucu malah menyebalkan, bagaimana para aparat negara menggambarkan dirinya bersih dari kebejadan, jauh dari kebobrokan. Bukankah seperti SBY sering ucapkan: slogan ‘BERSAMA KITA BISA!’, maka rakyat sudah terbiasa dan bisa menerima dagelan-dagelan tak lucu itu, rakyat sudah terbiasa dan bisa membiarkan adegan-adegan yang memuakkan itu ditampilkan berulang-kali di berbagai media . . . BISA KARENA TERBIASA . . . SBY benar dalam hal ini, bersama kita bisa!

Wahai para pelawak judicativ, executiv, legislativ yg tak lucu! KAPAN KALIAN SADAR!

Kapan kalian berjuang untuk rakyat? Kapan semua Sumber Daya Alam (SDA) yg kalian serahkan kepada pihak ASING itu dikembalikan kepada bangsa dan negara?

Sampai kapan bangsa-negara ini hanya menerima ROYALTI (hanya 4,5%!!!) dari semua SDA itu?

Kapan bangsa ini menikmati SDA-nya secara penuh, bukan hanya sebesar ROYALTI (seperti jualan kaset-lagu aja!!!), seharusnya mendapatkan 95% dan hanya membayar 5% kepada pihak asing.

Kalau aparatur ini hanya ingin dagelan di televisi, kenapa tidak mendaftar saja ke AZIZ GAGAP agar di-ikut-serta-kan di opera van java-nya Kang Parto, mungkin lebih lucu.

Apapun yg kalian lakukan untuk menampilkan diri sebagai orang baik-baik, orang jujur, orang beriman-beragama, tetap saja di hadapan saya kalian bejad-bobrok, karena tak seorang-pun di-antara kalian yg pernah berani menyatakan hidup kalian benar-benar bersih, jujur . . . dengan pembuktian bagaimana kalian membayar semua biaya-biaya hidup kalian, apakah dengan uang gaji kalian atau dari hasil korupsi!

Jangan dibalik agar kami, rakyat yang harus membawa bukti-bukti kalau kalian korupsi, tetapi kalian-lah yang harus membuktikan kalau hidup kalian benar-benar bebas korupsi.

ADAKAH? TAK SEORANG-PUN YANG BERANI!?

JELAS KAN . . . mereka sudah bobrok! Bejad! Culas!