Benarkah pete bermanfaat bagi kesehatan kita?

Setelah sekian lama surfing di internet, di tahun 2017 saya mendapatkan informasi dari beberapa web-page para peneliti barat, mereka berhasil menggali informasi dari berbagai kelompok masyarakat di Asia Tenggara, yang menyatakan pete sudah dikenal sejak ratusan tahun lampau sebagai bagian dari folk medicine yang berarti sudah dikenal atau biasa digunakan oleh berbagai masyarakat itu untuk pengobatan, untuk kesehatan.

Kemampuan pete yang sudah dikenal sebagai folk medicine oleh para pendahulu kita sejak ratusan tahun lampau itu seharusnya disosialisasikan oleh lembaga terkait yang berwenang kepada masyarakat banyak, agar bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk membantu memberikan kesehatan, kehidupan, kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat banyak. Seharusnya!

Jadi penelitian saya selama 22 tahun itu menjadi pembuktian atas pernyataan bahwa pete sebenarnya adalah obat herbal yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lampau, atau bahwa penelitian pete yang saya lakukan itu benar bermanfaat dan sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu, seperti yang ditulis para peneliti mancanegara itu. Pernyataan para peneliti mancanegara bahwa pete sudah dikenal sebagai folk medicine sejak ratusan tahun lalu menjadi pendukung kebenaran penelitian saya.

Benar! Pete bermanfaat bagi kesehatan!

Dari penelusuran di internet, pete yang dinyatakan sebagai ‘folk medicine’ sudah dikenal sejak ratusan tahun lampau oleh berbagai kelompok masyarakat di Asia Tenggara, lebih lanjut dikatakan oleh para peneliti bahwa pete punya potensi menjadi Phytomedicine alias herbal dari tanaman untuk preventive ataupun untuk pengobatan.

Phytomedicine itu adalah satu jenis tanaman atau kombinasi dari berbagai tanaman yang bisa digunakan untuk preventive ataupun untuk pengobatan penyakit tertentu.

Referensi:
* www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23956777
Parkia speciosa Hassk., or stink bean, is a plant indigenous to Southeast Asia. It is consumed either raw or cooked. It has been used in folk medicine to treat diabetes, hypertension, and kidney problems.

* www.stuartxchange.org/Upang
Folkloric
– No reported medicinal use in the Philippines.
– In folk medicine, used for diabetes, hypertension, and kidney problems
– Seeds used to treat diabetes, kidney pain, and cholera.
– In Malaysia, aboriginal tribes use raw bean pod and seeds orally for diabetes; root decoction used for hypertension and diabetes.

* www.unboundmedicine.com/medline/citation
It has been used in folk medicine to treat diabetes, hypertension, and kidney problems. … With ongoing research conducted on the plant extracts, Parkia speciosa has a potential to be developed as a phytomedicine.

Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) akan menjadi penyakit no 7 di dunia sebagai penyebab kematian. Saat ini, ada sekitar 347 juta warga dunia di berbagai negara menderita DM, dan mungkin ada lebih banyak lagi pada kondisi pradiabetes (prediabets) yang tidak/belum disadari.

DM tidak hadir sendirian, tetapi membawa bermacam penyakit lainnya, mulai dari kehilangan penglihatan (katarak, glaucoma,dll), kehilangan pendengaran, penyakit jantung, darah tinggi (hypertensi), komplikasi kaki (sampai harus amputasi), komplikasi kulit, menyerang saraf,  Erectile dysfunction (male impotence, impotensi!), dll sampai menyerang kesehatan mental. Lihat tulisan tentang 347 JUTA PENDERITA DIABETES MELLITUS (DM)


DM … TIDAK ADA OBATNYA!?

Saya pernah membaca beberapa artikel dari lembaga kesehatan negara maju bahkan ada juga dari badan PBB, yang menyatakan bahwa DM tidak bisa disembuhkan, tidak bisa diobati dan hanya bisa dijaga dengan aturan makan dan pola hidup sehat.

Obat DM jelas mahal, ada yang per hari perlu biaya 20ribu sampai 40ribu dan mungkin lebih lagi. Jangan lupa, berapa biaya extra untuk mengobati/merawat gerombolan teman-teman si DM itu!? Habis biaya toh tetap sengsara.

TERAPI PETE untuk menyembuhkan Diabetes Mellitus
Kita punya alternatif pengobatan DM yang lebih murah, lebih aman, efek samping-nya malah menyenangkan (tambah tenaga dalam), tidak membuat kantong sobek, dan supply (persediaan) dari alam ada cukup tersedia, kecuali sedang tidak musim, yaitu PETE. Terapi pete perhari 2 lanjar @ Rp.5.000,- = Rp.10.000,- relatif murah dan memberikan kestabilan gula darah dalam waktu relatif cepat. Setelah sehat, tidak perlu setiap hari, bisa direfilling sebulan sekali untuk perawatan saja.

Dari kumpulan testimoni (pengalaman) para peserta terapi pete selama 3 tahun terakhir ini, saya dapat menyatakan kalau terapi pete ini memang benar manjur untuk mengatasi DM dan teman-teman si DM itu. Berdasarkan pengalaman banyak penderita DM yg ikut terapi pete, mereka mendapatkan kestabilan tingkat gula darah dalam waktu yang bervariasi. Umur penderita DM yang ikut terapi pete itu bervariasi, dari sekitar 40-an sampai 90 tahun. Dalam waktu 4-5 hari terapi, peserta sudah mengetahui awal perubahan kesehatan, sudah terasa ada perbedaan di badan, jari tangan yang sebelumnya begitu susah untuk mengepal (kepalan) menjadi lancar, kaki yang sebelum tidur terasa berat dan susah tidur menjadi ringan dan tidak sulit tidur, badan menjadi lebih segar … etc.

Setelah 7 hari terapi, perubahan kesehatan yang signifikan sudah dapat diketahui, sudah dapat merasakan perubahan besar dalam hidup mereka. Sementara, waktu untuk sembuh itu bervariasi, dari 3 minggu sampai 6 bulan. Ada yang ikut terapi lengkap, makan buah pete dan minum air rebusan kulit. Tetapi ada beberapa peserta berumur lanjut, sudah tidak bisa mengunyah, hanya diberikan air rebusan kulit pete.

Saya tidak bisa memantau setiap peserta terapi pete, karena terapi ini begitu mudah dijalankan, resepnya sederhana, waktu proses persiapan relatif singkat, sehingga setiap orang yang sudah punya pengalaman (berhasil, sehat) dengan terapi ini, banyak yang menjadi agen penyebaran, menyebar-luaskan resep terapi pete kepada teman, saudara atau siapapun. Mereka yang berhasil akan bercerita kepada yang lain, menjadi MLM (multi level menyebarkan) kebaikan/kesehatan. Saya sudah tidak tahu lagi, berapa jumlah peserta terapi ini.
Saya hanya bisa meminta testimoni dari orang-orang di level terdekat saja, dan testimoni beberapa orang itu akan saya masukkan ke e-book terapi pete yang berikutnya.

Saya sudah menyiapkan buku terapi pete, 3 dalam bahasa Indonesia, 1 dalam bahasa Inggris (Pete 4 Impotensi), dan satu lagi dalam proses penterjemahan ke bahasa Inggris (Pete Therapy).