Cinta-Kasih-Sayang (CKS) dan Obat Herbal

Cinta-Kasih-Sayang (CKS) dan Obat Herbal

Adakah agama yang mengajarkan kedengkian, kebencian, kemarahan, peperangan, pembunuhan, permusuhan, perbudakan atau penindasan antar manusia?

Tidak akan ada yang mengaku kalau agama mereka mengajarkan kedengkian, kebencian, kemarahan, peperangan, permusuhan, pembunuhan, perbudakan atau penindasan. Bahkan kelompok (bangsa) yang sudah melakukan peperangan, penindasan, pembunuhan, perbudakan terhadap kelompok (bangsa) lain tetap mengatakan bahwa agama mereka tidak mengajarkan hal-hal negative itu. Mereka pasti mengatakan agama mereka adalah yang terbaik, penuh kasih sayang! cinta damai!

Semua agama pasti mengajarkan Cinta, Kasih, dan Sayang (CKS). Rasa Cinta dalam hubungan manusia dengan Tuhan, rasa Kasih dalam hubungan antar manusia, dan rasa Sayang dalam hubungan manusia dengan alam. Tidak hanya agama yang mengajarkan CKS, kepercayaan kepada YMK, atau agama lama, agama asli kedaerahan juga mengajarkan CKS.

Cinta kepada YMK membawa tanggung jawab, yaitu menerapkan kasih sayang, memberikan rasa kasih kepada sesama manusia tanpa perbedaan SARA, memberikan rasa sayang kepada alam lingkungan.

Rasa Cinta kepada YMK ditampilkan dengan menjalankan aturan ataupun ritual agama dengan penuh semangat dan penuh keyakinan. Rasa Kasih dan rasa Sayang akan mendorong kepada perilaku, sikap, pengambilan langkah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam saat membuat peraturan, perundang-undangan, hukum, kebijakan, keputusan dlsb.

Rasa cinta kepada YMK berjalan seiring dengan rasa kasih dan rasa sayang. Kalau hanya sekedar mengikuti aturan dan menjalankan ritual, tetapi tidak ada rasa kasih, cinta itu hanya sekedar cinta egois belaka, bagaikan cinta anak remaja yang belum tahu akan tanggung jawab.

Penerapan kasih sayang itu sesuai dengan posisi / jabatan seseorang. Semakin tinggi posisi sesorang dalam masyarakat, maka sebaran rasa kasih juga semakin luas, begitu juga dengan rasa sayang, semakin tinggi posisi maka sebaran rasa sayang juga semakin luas.

Bila para pengemban amanat rakyat itu punya kasih, maka berbagai kekayaan bangsa / negara akan sepenuhnya dipergunakan, dikelola, dipersiapkan untuk menunjang kehidupan rakyat untuk pencapaian kesejahteraan rakyat. Tetapi nyatanya, SDA diberikan kepada para ALIEN, hutan dengan potensi obat herbal malah dibiarkan dibabat, digunduli, ditanami produk mono-kultur, lautan yang luas dibiarkan dirampok oleh nelayan asing yang bekerja sama dengan para kolaborator oknum petugas, dll dlsb … sudah begitu lama bangsa – negara ini kehilangan kekayaannya, rakyat tidak menerima manfaat dari kekayaan negara ini, hanya memperoleh bagian dalam bentuk ROYALTI sebesar 1% selama 40 tahun lebih. Para oknum itu menjadi anggota ARISAN – BANCAKAN komisi hasil kolaborasi mereka dengan para pencuri kekayaan itu. Segala aspek kehidupan dipersiapkan menjadi halangan bagi setiap warganegara, banyak hal dibikin susah, dibikin mahal, dibikin berbelit-belit, dibikin ruwet, dibikin tumpang tindih, dibikin panjang berlama-lama … dst dst. Pendidikan dijadikan komoditi perdagangan, kesempatan kerja dan pencari kerja dibiarkan berjalan sendiri-sendiri paling jauh dipertemukan dalam bursa kerja, kesehatan dijadikan ajang mencari komisi jualan obat dari luar negeri, dlsb … semua orang harus berjuang untuk diri sendiri … rasa sosial dikesampingkan, keuntungan pribadi (oknum pejabat) dinomor-satukan … dst dst.

Kenyataan yang sudah terjadi berpuluh tahun selama ini, para pengemban amanat rakyat yang agamis itu sebenarnya tak punya rasa kasih dan rasa sayang dan hal itu bisa dilihat dari pembiaran pengerukan SDA oleh para ALIEN, pencurian ikan di lautan oleh kapal ALIEN, pembiaran berbagai aspek kehidupan yang berjalan sendiri-sendiri … LIHATLAH SENDIRI, semua itu nyata terjadi … para oknum itu tak punya kasih-sayang, mereka memang beragama tetapi cuma sekedar menjalankan aturan yang berbau ritual belaka. Sebenarnya mereka tak CINTA kepada YMK.

Lihatlah pimpinan agama yang terlihat dengan kehidupan glamour menggunakan kendaraan super mahal, memiliki rumah mewah, bagaikan para raja yang tak perlu kerja tapi hidup mewah … mereka tak peduli kalau umatnya tak sekolah, tak punya rumah, tak punya pekerjaan, sakit tak punya biaya, hidup susah kekurangan … mereka tak punya KASIH SAYANG, berarti CINTA mereka bohong belaka, hanya sekedar tampilan ritual agama, mereka tak berTuhan, tak beragama.

Agama mengajarkan agar manusia mau berbagi kasih, saling membantu satu sama lain, bersifat dan bersikap sosial, tidak memikirkan diri sendiri tetapi berusaha mencapai satu kesejahteraan bersama, kebersamaan dalam hidup, kebahagiaan bersama … dst. Itulah sosialis religius!

Pembahasan Cinta-Kasih-Sayang bisa panjang lebar … buku “Menebar Kasih Sayang, Menuai Cinta” setebal 100 halaman sudah saya selesaikan per Agustus 2014, belum diterbitkan.

Saya tampilkan sebuah contoh penerapan rasa kasih untuk kemaslahatan umat, untuk kesejahteraan orang banyak, untuk kesehatan, kehidupan dan kebahagiaan rakyat.

Obat Herbal di China dan India, dan Sistem Kesehatan Nasional

Saya membaca di internet, ada 3 negara besar yang terus menjaga warisan leluhur mereka yang sudah ribuan tahun, yaitu obat-obatan herbal (OH) dan cara pengobatan kuno (CPK), yaitu: India, China dan Brasil. 3 negara ini tidak hanya menjaga keberadaan OH dan CPK tetapi juga menerapkan OH + CPK kedalam sistem kesehatan nasional (SKN) mereka.

Saya fokus kepada 2 negara yang ada di Asia, yaitu China dan India, 2 negara dengan penduduk terbesar di dunia. India jelas beragama hindu, sementara China dicap sebagai negara atheis, komunis … sosialis komunis. Dulu China ditakuti karena dianggap komunis, tetapi sekarang begitu banyak negara maju mengikuti cara pengobatan China, menggunakan OH dan CPK, ada yang memasukkan OH dan CPK dari China kedalam SKN mereka. Banyak universitas besar di berbagai negara dunia menyiapkan jurusan TCM (Tradional Chinese Medicine) mempelajari OH dan CPK dari China. Berbagi kasih tidak hanya berlaku di suatu negara (China ataupun India) tetapi menyebar ke seluruh dunia.

Banyak negara di Eropa yang terlihat begitu kapitalis ternyata sosialis, mereka menyiapkan berbagai penunjang kehidupan warganya, pendidikan, kesempatan kerja, kesehatan, perumahan. Mereka bukan sosialis komunis tetapi lebih ke sosialis religius.

Bagaimana dengan kita!?

Padahal hutan Indonesia punya potensi OH yang begitu besar!

Jakarta, 8 Desember 2016

******

Untuk membaca artikel klik=>  Obat Herbal di China dan India, dan Sistem Kesehatan Nasional

Silahkan download ebooknya: Obat Herbal (PDF).

Surat Ber-rantai

Surat Ber-rantai

(Chain Mail/Letter)

Surat ber-rantai merupakan penyebaran informasi dari suatu sumber (seseorang/lembaga) kepada banyak orang yang kemudian dilanjutkan disebarkan oleh setiap penerima informasi itu kepada banyak orang sekitarnya.

Penyebaran bisa berlangsung secara perlahan maupun cepat, tergantung isi informasi yang dilepaskan. Kesertaan seorang penerima informasi untuk menyebarkan/melanjutkan penyebaran juga tergantung pada isi informasi tersebut.

  • Bla isi informasi itu begitu menarik perhatian, dianggap trendy (sesuai dengan keadaan mutakhir) seperti cerita-cerita ‘Mukidi’, maka informasi itu akan segera diforward/dishare oleh para pembacanya, diceritakan ulang, disadur, ditambahkan/dikurangi lalu dilepaskan ke berbagai media sosial,
  • ada yang sekedar ‘just for fun’ atau lucu-lucu-an juga akan cepat disebar-luaskan,
  • ada yang berisi cerita yang begitu meyakinkan, dengan gambaran penuh ancaman atau ada janji hadiah bila ikut menyebarkan,
  • bila ada informasi yang menjatuhkan harga diri/martabat suatu kelompok, maka informasi itupun segera disebarkan,
  • bila informasi itu terlihat/terdengar begitu menakutkan banyak orang, maka informasi itu segera menjadi berita panas, semua ingin ikut membicarakan, semua merasakan tergugah, banyak yang ingin ikut mengambil tindakan sesuai dengan informasi itu, paling tidak … ikut menyebarkan informasi itu,
  • dan banyak pertimbangan lain lagi.

Setiap orang bisa menjadi pelaku penyebaran dan juga menjadi korban dari informasi busuk yang disebar-luaskan. Orang bisa merasa gembira saat membaca informasi itu dan antusias dalam menyebarkannya, juga bisa tersulut kemarahannya, muncul kebencian, terbawa emosi, terpancing melakukan kekerasan sebagai pembalasan terhadap penyebaran informasi itu padahal orang yang sama juga ikut menjadi pelaku penyebaran informasi busuk tersebut.

Informasi bisa dilepaskan secara ‘natural’ dari satu orang dikirim kepada sekian puluh orang, berkembang secara perlahan menjadi informasi ber-rantai panjang atau informasi itu di-amplify sedemikian rupa, disebarkan secara massiv oleh suatu lembaga (kelompok terorganisir) langsung melalui berbagai sumber media ditebar kepada suatu masyarakat yang dituju, seperti propaganda perang yang disebar melalui udara … yang isinya membangkitkan kemarahan ataupun ditujukan meredam emosi orang banyak … tergantung tujuan dari penyebaran itu. Hal ini bisa dilihat pada kejadian AKSI BORONG SEMBAKO pada tanggal 8 Januari 1998 dan 15 Januari 1998.

Artikel lebih lengkap bisa dibaca di : Surat Ber-rantai Chain Mail/Letter